Diabetes dan Katarak: Ancaman Diam-diam bagi Kesehatan Mata

Oleh: Jesica Mulyadi . March 18, 2026 . 14:38:46

Gangguan penglihatan merupakan salah satu masalah kesehatan yang memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup manusia. Ketika seseorang kehilangan kemampuan melihat dengan baik, bukan hanya aktivitas sehari-hari yang terganggu, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, dan psikologis kehidupan. Salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di dunia adalah katarak, yaitu kondisi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat masuk secara optimal ke retina. Katarak sering dianggap sebagai penyakit yang identik dengan proses penuaan. Memang benar bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko utama. Namun, perkembangan katarak juga dapat dipicu oleh berbagai kondisi kesehatan lainnya, salah satunya adalah diabetes melitus (DM). Penyakit metabolik kronis ini ternyata memiliki hubungan yang cukup erat dengan berbagai gangguan mata, termasuk katarak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan, dan katarak merupakan salah satu penyebab utama dari kondisi tersebut. Bahkan pada kelompok usia di atas 50 tahun, katarak menjadi penyebab utama jutaan kasus kebutaan secara global. Di Indonesia sendiri, masalah katarak masih menjadi perhatian serius. Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di berbagai provinsi menunjukkan bahwa katarak yang tidak ditangani merupakan penyebab terbesar kebutaan pada masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencegahan dan deteksi dini katarak masih perlu menjadi prioritas dalam sistem kesehatan masyarakat.

Diabetes Melitus dan Risiko Katarak

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi metabolisme tubuh, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada organ-organ penting, termasuk mata. Penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami gangguan penglihatan. Bahkan beberapa studi internasional memperkirakan bahwa penderita diabetes memiliki risiko hingga lima kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi struktur dan fungsi lensa mata. Ketika glukosa dalam darah meningkat, tubuh akan mengubah sebagian glukosa tersebut menjadi sorbitol melalui jalur metabolik tertentu. Penumpukan sorbitol di dalam sel-sel lensa mata menyebabkan perubahan keseimbangan cairan yang membuat lensa menjadi bengkak dan keruh. Selain itu, diabetes juga dapat meningkatkan stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh meningkat dan merusak berbagai jaringan tubuh, termasuk protein pada lensa mata. Kerusakan protein ini menyebabkan lensa kehilangan kejernihannya dan memicu terbentuknya katarak.

Temuan Penelitian di Gorontalo

Hubungan antara diabetes melitus dan katarak juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Penelitian tersebut melibatkan 40 pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan di poliklinik penyakit dalam dan poliklinik mata. Berdasarkan data penelitian, 20 pasien (50%) terdiagnosis diabetes melitus tipe 2, sementara 19 pasien (47,5%) mengalami katarak.

Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua kondisi tersebut. Nilai p-value sebesar 0,027 menunjukkan bahwa hubungan antara diabetes melitus tipe 2 dan kejadian katarak tidak terjadi secara kebetulan. Lebih jauh lagi, penelitian tersebut menemukan nilai Odds Ratio sebesar 4,333, yang berarti bahwa pasien dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko sekitar 4,3 kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita diabetes. Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting dalam perkembangan katarak.

Peran Faktor Usia dan Gaya Hidup

Selain diabetes, beberapa faktor lain juga dapat mempercepat terjadinya katarak. Usia merupakan faktor risiko yang paling dominan. Pada usia lanjut, kemampuan tubuh untuk melindungi jaringan mata dari kerusakan oksidatif akan menurun. Akibatnya, protein pada lensa mata lebih mudah mengalami kerusakan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas penderita katarak berusia di atas 60 tahun. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa risiko katarak meningkat seiring bertambahnya usia. Selain faktor usia, gaya hidup juga berperan penting. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, serta pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lensa mata. Bahkan faktor pendidikan dan sosial ekonomi juga dapat memengaruhi risiko katarak. Individu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki akses informasi kesehatan yang lebih terbatas serta pola makan yang kurang seimbang, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk katarak.

Pentingnya Pengendalian Diabetes

Melihat hubungan yang kuat antara diabetes dan katarak, pengendalian kadar gula darah menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mata. Penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah tetap stabil melalui pola makan sehat, aktivitas fisik yang teratur, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Selain itu, pemeriksaan mata secara rutin juga sangat penting bagi penderita diabetes. Para ahli kesehatan merekomendasikan agar penderita diabetes melakukan pemeriksaan mata setidaknya setiap enam bulan untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih cepat sebelum kerusakan pada mata menjadi lebih parah.

Menjaga Kesehatan Mata Sejak Dini

Katarak memang sering dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat dihindari, terutama pada usia lanjut. Namun, kenyataannya, banyak faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui gaya hidup sehat. Mengontrol kadar gula darah, menjaga pola makan bergizi, mengonsumsi makanan kaya antioksidan, serta melindungi mata dari paparan sinar matahari yang berlebihan dapat membantu mengurangi risiko kerusakan pada lensa mata. Pada akhirnya, menjaga kesehatan mata bukan hanya tentang kemampuan melihat dengan jelas, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup secara keseluruhan. Ketika masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengendalian diabetes dan pemeriksaan kesehatan secara rutin, risiko gangguan penglihatan akibat katarak dapat ditekan secara signifikan. Kesehatan mata adalah investasi jangka panjang bagi kehidupan. Dengan perhatian yang tepat sejak dini, banyak kasus kebutaan akibat katarak sebenarnya dapat dicegah.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/30111

Author: Putri Sally Ufairah, Naning Suleman, Sitti Rahma, Cecy Rahma Karim, Muhammad Nur Syukriani Yusuf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

March 3, 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

February 9, 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

September 22, 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

July 16, 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran