Aktif Bergerak, Kunci Lansia Menikmati Hidup yang Lebih Berkualitas

Oleh: Jesica Mulyadi . 14 Januari 2026 . 23:35:00

Indonesia sedang memasuki era penuaan penduduk. Jumlah lanjut usia (lansia) terus meningkat dari tahun ke tahun, membawa tantangan baru bagi sistem kesehatan nasional. Di tengah persoalan penyakit kronis dan penurunan fungsi tubuh akibat usia, satu hal sering kali terabaikan: aktivitas fisik sebagai penentu kualitas hidup lansia. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Telaga, Telaga Jaya, dan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, memberikan pesan yang sangat jelas dan relevan bagi masyarakat luas. Semakin aktif seorang lansia bergerak, semakin baik kualitas hidup yang ia rasakan.

Mayoritas Lansia Masih Kurang Aktif

Hasil penelitian terhadap 90 lansia menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada tingkat aktivitas fisik sedang hingga rendah. Banyak lansia tidak lagi bekerja dan menghabiskan waktu dengan aktivitas terbatas di rumah. Padahal, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, berkebun, membersihkan rumah, atau mengikuti senam lansia sudah termasuk aktivitas fisik yang bermanfaat. Kondisi ini mencerminkan realitas di banyak daerah Indonesia, khususnya wilayah pedesaan, di mana lansia cenderung menjalani gaya hidup sedentari akibat keterbatasan fisik, lingkungan yang kurang mendukung, serta minimnya edukasi kesehatan.

Kualitas Hidup Tidak Sekadar Bebas Penyakit

Penelitian ini menegaskan bahwa kualitas hidup lansia tidak hanya diukur dari ada atau tidaknya penyakit, tetapi mencakup kondisi fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan tempat tinggal. Mayoritas lansia dalam penelitian ini berada pada kategori kualitas hidup “cukup”, dan hanya sebagian yang mencapai kualitas hidup “baik”. Menariknya, tidak ditemukan lansia dengan kualitas hidup buruk. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan akses layanan kesehatan dasar masih berperan penting dalam menjaga kesejahteraan lansia.

Hubungan Nyata antara Gerak dan Kualitas Hidup

Temuan paling penting dari penelitian ini adalah adanya hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan kualitas hidup lansia. Lansia yang memiliki tingkat aktivitas fisik lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hubungan ini bersifat positif dan bermakna secara statistik. Secara sederhana, hasil ini menyampaikan pesan yang mudah dipahami: lansia yang lebih sering bergerak merasa hidupnya lebih bermakna, lebih sehat, dan lebih mandiri. Aktivitas fisik terbukti membantu menjaga kekuatan otot, keseimbangan tubuh, kesehatan jantung, serta memperbaiki suasana hati dan kualitas tidur. Selain itu, aktivitas fisik juga mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan interaksi sosial, dua faktor penting dalam menjaga kesehatan mental lansia.

Tantangan Lansia di Usia Lanjut

Sebagian besar responden penelitian ini berusia 60–74 tahun, fase transisi menuju lansia lanjut. Pada tahap ini, aktivitas fisik menjadi sangat penting untuk mencegah penurunan fungsi tubuh yang lebih cepat. Lansia perempuan tercatat lebih banyak terlibat dalam kegiatan komunitas, seperti posyandu atau senam lansia, yang turut mendukung kualitas hidup mereka. Namun, tanpa dukungan keluarga dan lingkungan, motivasi lansia untuk tetap aktif dapat menurun drastis, terutama bagi mereka yang tidak lagi bekerja atau memiliki penyakit penyerta.

Saatnya Aktivitas Fisik Jadi Prioritas Layanan Primer

Penelitian ini memberikan pesan penting bagi layanan kesehatan primer dan pembuat kebijakan. Mendorong aktivitas fisik lansia tidak memerlukan teknologi canggih atau biaya mahal, melainkan konsistensi program dan pendekatan yang ramah lansia. Program seperti senam lansia, jalan santai bersama, edukasi keluarga, dan penguatan Posyandu Lansia terbukti efektif sebagai wadah aktivitas fisik sekaligus interaksi sosial. Keluarga juga memegang peran kunci dalam memotivasi lansia agar tetap aktif dan merasa dihargai.

Bergerak untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Aktivitas fisik bukan tentang olahraga berat atau target tertentu. Bagi lansia, bergerak adalah bentuk menjaga martabat, kemandirian, dan kualitas hidup. Penelitian ini menegaskan bahwa gerak adalah investasi sederhana namun berdampak besar bagi kesejahteraan lansia. Di tengah meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut, pesan ini menjadi sangat relevan: hidup lebih lama harus dibarengi dengan hidup yang lebih berkualitas. Dan kualitas hidup itu, salah satunya, dimulai dari langkah kecil untuk terus bergerak.

Source: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3737/3206

Author: Putri Amalia Puhi, Jufri Febriyanto Poetra, Sri Andriani Ibrahim, Maimun Ihsan, Sitti Rahma

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran