Aktif ke Posyandu, Investasi Kecil yang Menentukan Gizi Bayi

Oleh: Jesica Mulyadi . 3 Januari 2026 . 23:43:46

Di tengah gencarnya upaya pemerintah menekan angka stunting dan gizi buruk, satu fakta lapangan kerap terabaikan: kehadiran ibu di posyandu masih belum optimal, padahal dampaknya sangat besar bagi status gizi bayi. Penelitian terbaru di Kabupaten Gorontalo memperlihatkan bahwa keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu berhubungan langsung dengan status gizi bayi usia 8–12 bulan. Temuan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin dari tantangan nyata pembangunan kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

Data Bicara: Ibu Aktif, Gizi Bayi Lebih Baik

Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Limboto, Kelurahan Hutuo, melibatkan 86 ibu yang memiliki bayi usia 8–12 bulan. Hasilnya menunjukkan, 61,6 persen ibu tergolong aktif menghadiri posyandu, sementara sisanya masih jarang datang. Di sisi lain, 72,1 persen bayi tercatat memiliki status gizi baik. Analisis lebih lanjut memperlihatkan hubungan yang sangat kuat antara dua hal tersebut. Ibu yang aktif datang ke posyandu—minimal delapan kali dalam setahun—cenderung memiliki bayi dengan status gizi lebih baik dibandingkan ibu yang jarang hadir. Secara statistik, hubungan ini dinyatakan sangat bermakna (p value 0,000). Artinya, posyandu bukan sekadar tempat menimbang bayi, tetapi ruang penting untuk menjaga masa depan anak.

Mengapa Posyandu Begitu Penting?

Posyandu berperan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Di tempat inilah pertumbuhan bayi dipantau secara rutin, imunisasi diberikan tepat waktu, serta edukasi gizi disampaikan langsung kepada ibu. Bayi yang rutin dibawa ke posyandu memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sesuai usia. Berat badan dan panjang badan terpantau, sehingga gangguan gizi dapat dideteksi sejak dini. Sebaliknya, bayi yang jarang datang ke posyandu berisiko mengalami gizi kurang, gizi lebih, bahkan gizi buruk karena tidak terpantau secara berkala. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dan jarak rumah yang dekat dengan posyandu cenderung lebih aktif berkunjung. Ini menandakan bahwa akses dan pengetahuan masih menjadi faktor kunci.

Ketika Ibu Tidak Datang, Risiko Mengintai

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa sebagian ibu tidak aktif ke posyandu karena merasa anaknya “baik-baik saja” atau pernah memiliki anak sebelumnya yang tumbuh sehat tanpa rutin ke posyandu. Persepsi ini menjadi celah berbahaya. Data menunjukkan bahwa bayi dengan gizi kurang dan gizi buruk lebih banyak ditemukan pada kelompok ibu yang jarang datang ke posyandu. Bahkan, kasus gizi buruk dikaitkan dengan ibu usia muda dan bayi yang lahir prematur dengan berat badan lahir rendah. Ini menjadi pengingat bahwa status gizi bayi bukan semata soal makanan, tetapi juga soal pemantauan dan pendampingan yang konsisten.

Gizi Lebih: Masalah Baru yang Tak Kalah Serius

Selain gizi kurang, penelitian ini juga mencatat adanya bayi dengan risiko gizi lebih dan obesitas. Kondisi ini banyak terjadi pada ibu yang kurang memahami pola makan sesuai usia bayi. Persepsi bahwa bayi gemuk adalah bayi sehat masih kuat di masyarakat. Padahal, gizi lebih pada usia dini dapat menjadi pintu masuk penyakit tidak menular di masa depan. Di sinilah peran posyandu menjadi krusial sebagai sarana edukasi pola makan yang tepat.

Opini Ilmiah: Saatnya Posyandu Jadi Prioritas Bersama

Hasil penelitian ini menguatkan satu kesimpulan penting: keaktifan ibu di posyandu adalah investasi kecil dengan dampak besar. Namun, tanggung jawab tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada ibu. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan kader posyandu perlu memperkuat pendekatan yang lebih humanis dan adaptif. Jadwal yang fleksibel, lokasi yang mudah dijangkau, serta edukasi yang komunikatif menjadi kunci untuk meningkatkan partisipasi ibu. Di sisi lain, keluarga—terutama suami—perlu dilibatkan sebagai pendukung utama agar ibu memiliki waktu dan motivasi untuk rutin ke posyandu.

Menjaga Generasi dari Meja Timbangan

Menjaga gizi bayi tidak selalu memerlukan teknologi canggih atau biaya besar. Kadang, cukup dengan kehadiran rutin di posyandu, membawa KMS, dan mendengarkan arahan tenaga kesehatan. Penelitian ini menegaskan bahwa masa depan anak Indonesia bisa dimulai dari langkah sederhana: ibu yang aktif, posyandu yang hidup, dan masyarakat yang peduli. Jika ingin generasi sehat dan berkualitas, maka posyandu harus menjadi prioritas bersama, bukan sekadar program pelengkap.

Source: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/8740/6417

Author: Rahmatia H. Idrak, Nanang R. Paramata, Cindy Puspita Sari Haji Jafar, Nur Fitriah Jumatrin

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran