Alarm Kesehatan Anak: Riset Ungkap Hubungan Konsumsi Susu Formula dan Lonjakan Kasus Diare Akut pada Bayi

Oleh: Jesica Mulyadi . 3 Juni 2026 . 22:33:36

GORONTALO – Diare tetap menjadi salah satu penyakit endemis yang paling sering mengintai bayi baru lahir (neonatus) serta balita di Indonesia. Di tingkat nasional, penyakit infeksi saluran pencernaan ini menduduki papan atas sebagai salah satu pemicu utama kematian pada fase awal kehidupan anak. Secara medis, salah satu tameng alami terbaik bagi tubuh bayi adalah pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama 4 hingga 6 bulan pertama, yang idealnya dilanjutkan hingga usia dua tahun. ASI kaya akan kandungan imunoglobulin (antibodi) yang berfungsi sebagai pelindung usus dari infeksi mikroorganisme berbahaya. Namun, ketika pemberian ASI eksklusif gagal atau digantikan oleh susu formula (sufor) sebelum waktunya, risiko gangguan pencernaan akan meningkat tajam. Sebuah studi observasional analitik terbaru dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Kota Gorontalo. Riset ini secara spesifik membedah hubungan antara konsumsi susu formula dan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0–6 bulan.

Melalui pengujian univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Pearson Chi-Square terhadap sampel bayi yang memenuhi kriteria klinis, para peneliti menemukan bahwa diare tidak semata-mata dipicu oleh kandungan susu itu sendiri, melainkan akibat tiga faktor kesalahan tata laksana berikut:

  1. Ketidaksesuaian Metode Pembuatan (72,0%). Riset menyingkap fakta bahwa 72% orang tua atau pengasuh membuat susu formula dengan metode yang tidak sesuai ketentuan. Kesalahan ini umumnya meliputi sterilisasi botol yang buruk, penggunaan air hangat yang suhunya tidak mampu membunuh bakteri, atau membiarkan botol susu terbuka terlalu lama sebelum dikonsumsi. Lingkungan yang tidak higienis membuat susu formula menjadi media biakan yang sangat subur bagi bakteri patogen seperti E. coli atau Salmonella.
  2. Kesalahan Metode Pemberian (75,7%). Sebanyak 75,7% metode pemberian susu formula ditemukan tidak sesuai dengan standar kesehatan. Hal ini mencakup pemberian susu formula yang sudah didiamkan lebih dari dua jam di suhu ruangan, atau memberikan takaran yang terlalu pekat/encer yang mengganggu osmolalitas penyerapan usus bayi yang masih sangat rapuh.
  3. Pemilihan jenis susu yang tidak tepat (83,8%). Data menunjukkan 83,8% sampel menggunakan susu formula berbasis sapi. Karakteristik protein susu sapi yang kompleks sering kali memicu reaksi intoleransi laktosa atau alergi protein susu sapi pada saluran pencernaan bayi usia di bawah 6 bulan, yang manifestasi klinis utamanya adalah diare akut.

Melalui analisis bivariat, riset ini membuktikan secara mutlak bahwa ketiga variabel di atas, yaitu metode pembuatan, metode pemberian, dan pemilihan jenis susu formula, memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan kejadian diare akut pada bayi dengan nilai signifikansi klinis p < 0,05.Susu formula tidak memiliki kandungan proteksi imunologis aktif layaknya ASI. Oleh karena itu, ketika pertahanan imunologis alami tersebut absen, dan ditambah dengan kontaminasi bakteri akibat higienitas penyiapan sufor yang buruk, maka dinding usus bayi akan mengalami peradangan akut. Kondisi ini menurunkan kemampuan usus untuk menyerap cairan, sehingga memicu sekresi air secara berlebihan yang keluar dalam bentuk diare.

Temuan klinis dari RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo ini mengirimkan pesan edukasi yang kuat bagi para ibu dan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Kegagalan pemberian ASI eksklusif harus diantisipasi dengan pengawasan ketat terhadap edukasi zero-contamination (tanpa kontaminasi) di tingkat rumah tangga. Pentingnya Higienitas dan Sterilisasi Mutlak: Jika karena indikasi medis tertentu bayi usia 0-6 bulan terpaksa harus mengonsumsi susu formula, maka kebersihan tangan pengasuh, kesterilan botol susu, dan ketepatan suhu air pelarut adalah hal yang tidak boleh ditawar demi mencegah paparan kuman ke saluran pencernaan bayi. Pemerintah melalui kader Posyandu dan Puskesmas diimbau untuk terus mengampanyekan tata cara penyiapan susu formula yang aman dan higienis secara nasional. Langkah preventif dari hulu ini diharapkan mampu menekan angka morbiditas anak akibat diare, sekaligus mewujudkan generasi emas Indonesia yang tumbuh sehat, kuat, dan bebas dari ancaman penyakit infeksi saluran pencernaan.

Author: GINTING BSKBR, PANTOW SM, SIREGAR MNI, JUSUF MI, IBRAHIM SA

Sources: https://elibrary.ru/item.asp?id=81262729

#FKUNG#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran