GORONTALO – Sebuah studi kesehatan kerja terbaru yang dipublikasikan dalam Jambura Medical and Health Science Journal menyoroti ancaman kesehatan tersembunyi yang mengintai para pekerja kantoran, khususnya tenaga kependidikan (staf administrasi sekolah/universitas). Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan yang sangat signifikan antara karakteristik individu dan pola kerja harian dengan tingginya risiko keluhan Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah.
Pekerjaan administratif di lingkungan instansi pendidikan sering kali dianggap aman dari risiko cedera fisik karena dilakukan di dalam ruangan yang nyaman dan ber-AC. Namun, realitas medis menunjukkan sebaliknya. Duduk statis di depan komputer selama berjam-jam secara terus-menerus setiap hari menempatkan beban mekanis yang luar biasa pada struktur tulang belakang, yang jika diabaikan dapat memicu gangguan muskuloskeletal kronis.
Penelitian dengan desain analitik korelasi menggunakan pendekatan cross-sectional ini dilakukan terhadap tenaga kependidikan di sebuah universitas. Pengumpulan data dilakukan secara komprehensif untuk mengukur masa kerja, beban kerja harian, serta tingkat keluhan nyeri yang dirasakan oleh para staf. Melalui uji statistik yang mendalam, para peneliti menemukan korelasi kuat pada dua faktor determinan utama:
- Masa Kerja Menahun: Terdapat hubungan yang sangat nyata antara lamanya seseorang bekerja dengan risiko kejadian LBP. Pekerja yang telah mengabdi selama bertahun-tahun mengalami efek akumulasi tekanan pada bantalan tulang belakang (diskus intervertebralis), sehingga menjadi kelompok yang paling rentan merasakan nyeri punggung.
- Beban Kerja Tinggi: Beban kerja yang tinggi, baik secara kuantitas tugas maupun durasi waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk tegak tanpa jeda, terbukti mempercepat kelelahan otot-otot penyangga punggung (musculus erector spinae), memicu ketegangan, dan berujung pada LBP.
- Sebaliknya, studi ini mencatat bahwa faktor usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan statistik yang signifikan terhadap kejadian nyeri punggung bawah pada kelompok profesi ini. Hal tersebut menegaskan bahwa LBP di lingkungan kantor lebih didominasi oleh faktor ergonomi kerja ketimbang faktor biologis bawaan individu.
Mengapa Duduk Terlalu Lama Merusak Punggung Bawah?
Secara biomekanika tubuh, posisi duduk sebenarnya memberikan tekanan intra-diskal (tekanan di dalam bantalan tulang belakang) yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi berdiri atau berbaring. Berikut adalah mekanisme mengapa aktivitas kantoran memicu LBP:
- Kelelahan Otot Isometrik: Saat duduk diam di depan meja kerja, otot-otot punggung bawah bekerja secara isometrik (berkontraksi tanpa gerakan) untuk menjaga tubuh tetap tegak. Kontraksi yang berlangsung berjam-jam tanpa relaksasi ini menghambat aliran darah kapiler, menyebabkan penumpukan asam laktat, dan memicu rasa nyeri serta kaku otot.
- Peregangan Ligamen yang Berlebihan: Banyak pekerja kantoran tanpa sadar mengadopsi postur membungkuk (slouched posture) saat mengetik atau menatap monitor. Posisi membungkuk yang konsisten dari tahun ke tahun akan meregangkan ligamen posterior tulang belakang secara berlebihan, mengurangi kelengkungan alami (lordosis) lumbar, dan mempercepat degenerasi bantalan tulang.
- Kompresi Saraf Tepi: Tekanan mekanis yang konstan akibat duduk di kursi yang tidak ergonomis dapat menekan serabut saraf di area bokong dan punggung bawah, menimbulkan sensasi nyeri yang menjalar hingga ke paha maupun kaki.
Mengingat tingginya prevalensi penemuan kasus LBP pada tenaga kependidikan dalam riset ini, para ahli kesehatan kerja merekomendasikan langkah-langkah preventif terpadu di lingkungan instansi:
- Penerapan Prinsip Ergonomi: Manajemen instansi diharapkan memfasilitasi penggunaan kursi kerja ergonomis yang memiliki penopang kelengkungan punggung bawah (lumbar support) serta ketinggian yang dapat diatur agar posisi lutut dan panggul sejajar.Metode Peregangan Aktif (Stretching Break): Pekerja diimbau untuk tidak duduk lebih dari 2 jam berturut-turut. Setiap 60 hingga 120 menit, sempatkan waktu selama 5 menit untuk berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan guna memulihkan sirkulasi darah pada otot punggung.
- Pengaturan Beban Kerja yang Seimbang: Distribusi volume kerja yang merata serta penyediaan waktu istirahat yang cukup sangat krusial untuk memberikan kesempatan bagi tubuh melakukan pemulihan (recovery) otot secara alami.
Studi nasional ini membuka mata kita semua bahwa perlindungan kesehatan kerja tidak hanya mendesak bagi pekerja lapangan atau pabrik, melainkan juga mutlak diperlukan bagi para "pejuang meja kerja" demi menghindari kecacatan fungsi tubuh di masa depan.
Author: Wahyuningsih Ratna Sari, Herlina Jusuf, Jusna Ahmad, Vivien Novarina A. Kasim, Sri Manovita Pateda
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/31595/pdf
#FKUNGgul
#kedokteranung