
Apendisitis atau radang usus buntu masih menjadi salah satu kasus bedah darurat yang paling sering ditemukan di berbagai rumah sakit di Indonesia. Penyakit ini terjadi akibat peradangan pada apendiks yang umumnya disebabkan oleh sumbatan pada lumen usus buntu. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti perforasi, gangren, hingga peritonitis yang mengancam jiwa.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo memberikan gambaran penting mengenai karakteristik pasien apendisitis pasca-apendektomi sepanjang tahun 2023. Studi tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia remaja akhir dan dewasa muda masih menjadi kelompok dengan angka kejadian tertinggi.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 98 pasien yang menjalani operasi apendektomi, mayoritas pasien merupakan perempuan dengan persentase 64,3 persen. Sementara itu, kelompok usia 17–25 tahun menjadi kelompok terbanyak yang mengalami apendisitis, yakni mencapai 39,8 persen dari total kasus.
Temuan ini menunjukkan bahwa pola hidup dan kebiasaan makan pada usia remaja akhir hingga dewasa muda berperan besar terhadap peningkatan risiko apendisitis. Konsumsi makanan rendah serat, tingginya konsumsi makanan cepat saji, serta pola makan tidak teratur menjadi faktor yang diduga memicu terjadinya sumbatan pada lumen apendiks.
Secara fisiologis, kurangnya asupan serat dapat menyebabkan konstipasi dan peningkatan tekanan di dalam usus. Kondisi tersebut dapat memicu penyumbatan pada saluran apendiks yang akhirnya menyebabkan peradangan. Selain itu, pada usia remaja, jaringan limfoid di apendiks berkembang sangat aktif sehingga lebih rentan mengalami pembengkakan dan obstruksi.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tindakan operasi yang paling banyak dilakukan adalah open appendectomy atau operasi terbuka dengan angka 53,1 persen. Sementara itu, laparotomy appendectomy dilakukan pada 32,7 persen pasien dan laparoscopic appendectomy hanya pada 14,3 persen.
Walaupun operasi laparoskopi dikenal memiliki keunggulan berupa luka operasi lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, serta masa rawat yang lebih singkat, metode operasi terbuka masih menjadi pilihan utama di sejumlah rumah sakit daerah. Faktor biaya, ketersediaan fasilitas, kondisi pasien, serta pertimbangan operator bedah menjadi alasan utama pemilihan metode operasi tersebut.
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa operasi laparoskopi memiliki angka komplikasi infeksi lebih rendah dibandingkan dengan operasi terbuka. Namun demikian, tidak semua pasien dapat menjalani prosedur tersebut, terutama bila kondisi pasien sudah mengalami komplikasi berat atau fasilitas kesehatan belum mendukung tindakan laparoskopi secara optimal.
Di tingkat nasional, hasil penelitian ini menjadi gambaran penting bahwa apendisitis masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian serius, terutama pada kelompok usia produktif. Keterlambatan diagnosis dan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi yang memperburuk kondisi pasien dan memperpanjang masa perawatan.
Para peneliti juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai pola makan sehat dan konsumsi serat yang cukup sejak usia remaja. Konsumsi buah, sayur, serta pengurangan makanan cepat saji dinilai penting untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan dan menurunkan risiko apendisitis.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti nyeri perut kanan bawah, mual, muntah, demam, atau gangguan pencernaan yang menetap. Diagnosis dan tindakan operasi yang cepat terbukti dapat menurunkan risiko komplikasi serta meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah dalam pengembangan layanan bedah digestif di Indonesia, sekaligus menjadi dasar edukasi kesehatan masyarakat terkait pentingnya deteksi dini dan pencegahan apendisitis melalui pola hidup sehat.
Author: Fadhil Aryaputra, Romy Abdul, Yuniarty Antu, Muchtar Nora Ismail Siregar, Vivien Novarina A.Kasim
Sources: https://jurnal.fk.untad.ac.id/index.php/htj/article/view/1731/767
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran