ASI Eksklusif Masih Rendah di Gorontalo, Dukungan Keluarga Jadi Penentu Utama

Oleh: Jesica Mulyadi . 26 Januari 2026 . 11:26:16

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan. Kandungan gizi ASI terbukti mampu meningkatkan daya tahan tubuh, menunjang tumbuh kembang, serta menurunkan risiko berbagai penyakit. Namun, di balik manfaat besarnya, praktik pemberian ASI eksklusif di Indonesia—khususnya di Provinsi Gorontalo—masih menghadapi tantangan serius. Data menunjukkan bahwa Gorontalo termasuk provinsi dengan cakupan ASI eksklusif terendah secara nasional. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa ibu masih kesulitan memberikan ASI eksklusif, dan faktor apa yang paling menentukan keberhasilannya?

Belajar dari Dua Wilayah dengan Kondisi Berbeda

Sebuah penelitian yang membandingkan wilayah kerja Puskesmas dengan cakupan ASI eksklusif tertinggi dan terendah di Provinsi Gorontalo memberikan gambaran yang lebih utuh. Penelitian ini melibatkan ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan di Puskesmas Kota Timur dan Puskesmas Botupingge. Hasilnya menunjukkan bahwa keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, ia merupakan hasil interaksi kompleks antara dukungan keluarga, kondisi psikologis ibu, jenis persalinan, paparan susu formula, hingga pengaruh budaya setempat.

Peran Ayah dan Ibu Mertua Sangat Menentukan

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah besarnya pengaruh keluarga inti terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Di wilayah dengan cakupan rendah, keterlibatan ayah atau breastfeeding father menjadi faktor paling dominan. Ayah yang aktif mendukung, baik secara emosional maupun praktis, terbukti meningkatkan peluang ibu untuk tetap menyusui secara eksklusif. Sementara itu, di wilayah dengan cakupan lebih tinggi, dukungan ibu mertua justru menjadi faktor penentu utama. Nasihat, kepercayaan, dan sikap ibu mertua masih memiliki pengaruh kuat terhadap keputusan ibu dalam memberikan ASI, terutama dalam budaya keluarga besar yang masih kental. Temuan ini menegaskan bahwa pemberian ASI eksklusif bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan keputusan keluarga.

Susu Formula dan Budaya Lokal Jadi Tantangan Serius

Ketertarikan terhadap susu formula muncul sebagai faktor penghambat paling konsisten di kedua wilayah. Iklan, kemudahan akses, serta anggapan bahwa susu formula lebih praktis—terutama bagi ibu bekerja—mendorong ibu beralih dari ASI eksklusif. Padahal, berbagai kajian ilmiah menegaskan bahwa bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi. Selain itu, budaya pemberian madu pada bayi usia di bawah enam bulan masih ditemukan, khususnya di wilayah dengan cakupan ASI eksklusif rendah. Tradisi turun-temurun dan kepercayaan keluarga sering kali lebih dipercaya dibandingkan anjuran tenaga kesehatan.

Kesehatan Mental dan Beban Ibu Bekerja

Di wilayah perkotaan, kondisi kesehatan mental ibu dan status bekerja juga berperan penting. Ibu yang mengalami tekanan psikologis pascapersalinan—seperti kecemasan, kelelahan, atau gangguan tidur—cenderung lebih sulit mempertahankan ASI eksklusif. Beban pekerjaan dan keterbatasan waktu menyusui turut memperbesar tantangan tersebut. Sebaliknya, di wilayah pedesaan, meski sebagian besar ibu tidak bekerja dan memiliki waktu lebih banyak bersama bayi, cakupan ASI eksklusif tetap rendah. Hal ini menunjukkan bahwa waktu luang saja tidak cukup tanpa dukungan keluarga dan pemahaman yang memadai.

Pendekatan Kontekstual Jadi Kunci

Perbedaan faktor dominan antara wilayah perkotaan dan pedesaan menegaskan bahwa upaya peningkatan ASI eksklusif tidak bisa diseragamkan. Edukasi kesehatan perlu disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan struktur keluarga di masing-masing wilayah. Tenaga kesehatan tidak hanya perlu menyasar ibu, tetapi juga ayah, ibu mertua, dan anggota keluarga lainnya. Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas menjadi kunci dalam meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif.

Kesimpulan

Pemberian ASI eksklusif di Provinsi Gorontalo dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dukungan ayah, peran ibu mertua, jenis persalinan, serta paparan susu formula menjadi faktor kunci di berbagai wilayah. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa keberhasilan ASI eksklusif adalah hasil kerja bersama, bukan semata tanggung jawab ibu. Dengan intervensi yang tepat sasaran, berbasis budaya, dan melibatkan keluarga secara aktif, peluang meningkatkan cakupan ASI eksklusif di Gorontalo dan daerah lain di Indonesia menjadi lebih terbuka.

Source: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2368/1237

Author: Nurlila Puspita Aswin, Sunarto Kadir, Cecy Rahma Karim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran