Benarkah Penglihatan Buruk Mempengaruhi Nilai Praktikum Mahasiswa Kedokteran?

Oleh: Jesica Mulyadi . 2 Maret 2026 . 19:55:54

GORONTALO – Mahasiswa kedokteran identik dengan aktivitas membaca dalam jarak dekat dan berjam-jam menatap mikroskop. Kebiasaan ini kerap dikaitkan dengan gangguan ketajaman penglihatan atau visus. Pertanyaannya, apakah penurunan ketajaman penglihatan benar-benar memengaruhi hasil ujian praktikum, khususnya pada mata kuliah Histologi? Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the 8th International Conference on Education Innovation (ICEI 2024) meneliti hubungan antara ketajaman penglihatan dan hasil ujian praktikum Histologi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo angkatan 2022.

Hasilnya: tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara ketajaman penglihatan dan nilai ujian praktikum histologi.

Ketajaman Penglihatan dan Beban Akademik

Secara fisiologis, ketajaman penglihatan adalah kemampuan mata membedakan objek secara jelas pada jarak tertentu. Aktivitas membaca jarak dekat dalam waktu lama memicu proses akomodasi mata—mekanisme lensa untuk memfokuskan bayangan ke retina. Bila berlangsung terus-menerus, akomodasi dapat menyebabkan kelelahan mata dan penglihatan kabur. Penelitian sebelumnya menunjukkan prevalensi miopia pada mahasiswa kedokteran cukup tinggi. Bahkan di Universitas Negeri Gorontalo, angka miopia dilaporkan mencapai lebih dari 70%. Dalam pembelajaran histologi, mahasiswa harus mengamati preparat jaringan tubuh melalui mikroskop. Proses ini menuntut fokus visual tinggi dan presisi dalam menginterpretasi struktur mikroskopis. Secara teori, gangguan visus seharusnya berpotensi memengaruhi performa akademik.

Namun, apakah benar demikian?

Temuan Penelitian: Data yang BerbicaraPenelitian ini melibatkan 40 mahasiswa yang telah mengikuti ujian praktikum Histologi Blok Biomedik 1. Dari jumlah tersebut:

  • 20 mahasiswa menggunakan kacamata
  • 20 mahasiswa tidak menggunakan alat bantu penglihatan

Analisis menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p = 0,701 (p > 0,05), yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara ketajaman penglihatan dan nilai ujian praktikum. Selain itu, uji Mann-Whitney terhadap penggunaan alat bantu penglihatan juga menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dalam nilai ujian (p = 0,765). Dengan kata lain, mahasiswa yang menggunakan kacamata tidak memiliki nilai yang secara statistik berbeda dibandingkan dengan mahasiswa tanpa alat bantu.

Mengapa Tidak Berpengaruh?

Secara opini ilmiah, ada beberapa kemungkinan penjelasan.

  • Pertama, mahasiswa dengan gangguan refraksi yang telah terkoreksi (misalnya dengan kacamata) tetap memiliki ketajaman visual fungsional yang memadai untuk melihat preparat mikroskopis.
  • Kedua, hasil ujian praktikum tidak hanya ditentukan oleh kemampuan visual. Faktor lain seperti:
  1. Motivasi belajar
  2. Metode pembelajaran
  3. Kualitas pengajaran
  4. Fasilitas laboratorium
  5. Kemampuan kognitif
  6. Strategi belajar
  7. juga memiliki kontribusi besar terhadap performa akademik
  • Ketiga, sistem evaluasi praktikum histologi mungkin lebih menekankan pemahaman konseptual dibandingkan dengan sekadar kemampuan visual melihat preparat.

Berbeda dengan Studi Lain

Beberapa penelitian pada siswa sekolah menunjukkan bahwa gangguan penglihatan dapat memengaruhi prestasi belajar. Namun, pada mahasiswa kedokteran—yang umumnya memiliki motivasi dan akses koreksi penglihatan yang baik—dampaknya mungkin berbeda. Artinya, konteks pendidikan dan tingkat kedewasaan belajar dapat memoderasi pengaruh gangguan visual terhadap hasil akademik.

Implikasi bagi Dunia Pendidikan

Temuan ini memberikan pesan penting: prestasi akademik tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi fisik seperti ketajaman penglihatan, selama gangguan tersebut telah terkoreksi dengan baik. Namun demikian, kesehatan mata tetap harus menjadi perhatian. Paparan layar digital dan aktivitas membaca jarak dekat yang intens dapat meningkatkan risiko miopia progresif. Institusi pendidikan juga memiliki peran penting dalam:

  • Menyediakan pencahayaan yang memadai di laboratorium
  • Mengatur durasi praktikum mikroskopis
  • Memberikan edukasi kesehatan mata
  • Memfasilitasi pemeriksaan visus berkala

Keterbatasan dan Arah Penelitian Lanjutan

Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain jumlah sampel yang relatif kecil dan potensi bias pengukuran ketajaman penglihatan. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan untuk memperkuat temuan ini.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tajam Melihat

Studi ini menegaskan bahwa dalam konteks mahasiswa kedokteran, ketajaman penglihatan bukanlah faktor penentu utama keberhasilan ujian praktikum histologi. Prestasi akademik adalah hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan belajar. Pesan ilmiahnya sederhana: tajamnya penglihatan penting, tetapi tajamnya pemahaman jauh lebih menentukan.

Sources: https://www.atlantis-press.com/proceedings/icei-24/126009665

Authors: Rifa Azzahra Wardhany, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin2, Naning Suleman, Sri Andriani Ibrahim, Trinny Tuna, Cecy Rahma Karim, Kuni Zakiyyah Sumargo, Andin Zahrani Pateda, Vivien Novarina A. Kasim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran