GORONTALO – Mahasiswa kedokteran identik dengan aktivitas membaca dalam jarak dekat dan berjam-jam menatap mikroskop. Kebiasaan ini kerap dikaitkan dengan gangguan ketajaman penglihatan atau visus. Pertanyaannya, apakah penurunan ketajaman penglihatan benar-benar memengaruhi hasil ujian praktikum, khususnya pada mata kuliah Histologi? Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the 8th International Conference on Education Innovation (ICEI 2024) meneliti hubungan antara ketajaman penglihatan dan hasil ujian praktikum Histologi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo angkatan 2022.
Hasilnya: tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara ketajaman penglihatan dan nilai ujian praktikum histologi.
Ketajaman Penglihatan dan Beban Akademik
Secara fisiologis, ketajaman penglihatan adalah kemampuan mata membedakan objek secara jelas pada jarak tertentu. Aktivitas membaca jarak dekat dalam waktu lama memicu proses akomodasi mata—mekanisme lensa untuk memfokuskan bayangan ke retina. Bila berlangsung terus-menerus, akomodasi dapat menyebabkan kelelahan mata dan penglihatan kabur. Penelitian sebelumnya menunjukkan prevalensi miopia pada mahasiswa kedokteran cukup tinggi. Bahkan di Universitas Negeri Gorontalo, angka miopia dilaporkan mencapai lebih dari 70%. Dalam pembelajaran histologi, mahasiswa harus mengamati preparat jaringan tubuh melalui mikroskop. Proses ini menuntut fokus visual tinggi dan presisi dalam menginterpretasi struktur mikroskopis. Secara teori, gangguan visus seharusnya berpotensi memengaruhi performa akademik.
Namun, apakah benar demikian?
Temuan Penelitian: Data yang BerbicaraPenelitian ini melibatkan 40 mahasiswa yang telah mengikuti ujian praktikum Histologi Blok Biomedik 1. Dari jumlah tersebut:
Analisis menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p = 0,701 (p > 0,05), yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara ketajaman penglihatan dan nilai ujian praktikum. Selain itu, uji Mann-Whitney terhadap penggunaan alat bantu penglihatan juga menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dalam nilai ujian (p = 0,765). Dengan kata lain, mahasiswa yang menggunakan kacamata tidak memiliki nilai yang secara statistik berbeda dibandingkan dengan mahasiswa tanpa alat bantu.
Mengapa Tidak Berpengaruh?
Secara opini ilmiah, ada beberapa kemungkinan penjelasan.
Berbeda dengan Studi Lain
Beberapa penelitian pada siswa sekolah menunjukkan bahwa gangguan penglihatan dapat memengaruhi prestasi belajar. Namun, pada mahasiswa kedokteran—yang umumnya memiliki motivasi dan akses koreksi penglihatan yang baik—dampaknya mungkin berbeda. Artinya, konteks pendidikan dan tingkat kedewasaan belajar dapat memoderasi pengaruh gangguan visual terhadap hasil akademik.
Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Temuan ini memberikan pesan penting: prestasi akademik tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi fisik seperti ketajaman penglihatan, selama gangguan tersebut telah terkoreksi dengan baik. Namun demikian, kesehatan mata tetap harus menjadi perhatian. Paparan layar digital dan aktivitas membaca jarak dekat yang intens dapat meningkatkan risiko miopia progresif. Institusi pendidikan juga memiliki peran penting dalam:
Keterbatasan dan Arah Penelitian Lanjutan
Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain jumlah sampel yang relatif kecil dan potensi bias pengukuran ketajaman penglihatan. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan untuk memperkuat temuan ini.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tajam Melihat
Studi ini menegaskan bahwa dalam konteks mahasiswa kedokteran, ketajaman penglihatan bukanlah faktor penentu utama keberhasilan ujian praktikum histologi. Prestasi akademik adalah hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan belajar. Pesan ilmiahnya sederhana: tajamnya penglihatan penting, tetapi tajamnya pemahaman jauh lebih menentukan.
Sources: https://www.atlantis-press.com/proceedings/icei-24/126009665
Authors: Rifa Azzahra Wardhany, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin2, Naning Suleman, Sri Andriani Ibrahim, Trinny Tuna, Cecy Rahma Karim, Kuni Zakiyyah Sumargo, Andin Zahrani Pateda, Vivien Novarina A. Kasim
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran