
Penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) semakin sering dikeluhkan masyarakat. Rasa panas di dada, nyeri ulu hati, hingga asam lambung yang naik ke kerongkongan bukan lagi keluhan orang tua semata, tetapi juga dialami usia produktif. Gaya hidup modern, pola makan tidak teratur, dan perubahan berat badan menjadi faktor yang kian memperbesar risiko penyakit ini. Sebuah penelitian di Puskesmas Kota Timur memberikan bukti ilmiah bahwa indeks massa tubuh (IMT) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian GERD. Temuan ini mempertegas bahwa berat badan bukan hanya soal penampilan, tetapi juga berhubungan erat dengan kesehatan sistem pencernaan.
GERD dan Beban Kesehatan Masyarakat
GERD merupakan gangguan pencernaan kronis yang terjadi ketika asam lambung naik secara berulang ke esofagus. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan peradangan kerongkongan, gangguan menelan, hingga meningkatkan risiko komplikasi serius. Secara global, prevalensi GERD terus meningkat. Di Indonesia, tren serupa juga terlihat, termasuk di Kota Gorontalo. Data layanan kesehatan menunjukkan bahwa jumlah pasien GERD di tingkat puskesmas tergolong tinggi, sehingga diperlukan upaya pencegahan yang lebih efektif dan berbasis bukti.
IMT sebagai Cermin Risiko
Indeks Massa Tubuh merupakan indikator sederhana untuk menilai status gizi seseorang, berdasarkan perbandingan berat dan tinggi badan. Dalam penelitian ini, responden memiliki variasi IMT mulai dari underweight, normal, overweight, hingga obesitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa hampir separuh responden mengalami GERD. Uji statistik memperlihatkan adanya hubungan bermakna antara IMT dan kejadian GERD, dengan risiko yang meningkat seiring naiknya IMT. Artinya, semakin tinggi IMT seseorang, semakin besar kemungkinan ia mengalami gangguan refluks asam lambung.
Mengapa Kelebihan Berat Badan Memicu GERD?
Secara ilmiah, kelebihan berat badan terutama obesitas, menyebabkan penumpukan lemak di area perut. Kondisi ini meningkatkan tekanan di dalam rongga perut, sehingga mendorong asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Tekanan tersebut juga dapat melemahkan sfingter esofagus bawah, yaitu “katup” yang seharusnya mencegah asam lambung naik. Namun menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa GERD tidak hanya dialami oleh individu obesitas. Sebagian penderita GERD justru memiliki IMT normal. Fakta ini menegaskan bahwa GERD merupakan penyakit multifaktorial, di mana pola makan, stres, kebiasaan makan larut malam, konsumsi makanan berlemak atau berkafein, serta aktivitas fisik juga berperan penting.
Kelompok Rentan: Perempuan Usia Produktif dan Paruh Baya
Sebagian besar penderita GERD dalam penelitian ini adalah perempuan, terutama pada kelompok usia 19–44 tahun dan 45–59 tahun. Pada usia tersebut, perubahan hormonal, tingkat stres, serta penurunan aktivitas fisik dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan. Pada perempuan usia paruh baya, penurunan hormon estrogen diduga turut melemahkan fungsi otot sfingter esofagus, sehingga risiko refluks meningkat, terutama bila disertai obesitas.
Pencegahan Dimulai dari Timbangan
Temuan penelitian ini memperkuat pesan bahwa pengelolaan berat badan merupakan langkah penting dalam pencegahan GERD. Menjaga IMT tetap dalam rentang normal, disertai pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur, dapat menurunkan tekanan intraabdomen dan memperbaiki fungsi pencernaan. Bagi layanan kesehatan primer seperti puskesmas, pengukuran IMT secara rutin dapat menjadi alat skrining awal untuk mengidentifikasi individu berisiko GERD. Intervensi sederhana berupa edukasi gizi, pengaturan pola makan, dan anjuran gaya hidup sehat berpotensi menekan angka kejadian GERD di masyarakat.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa indeks massa tubuh berhubungan signifikan dengan kejadian GERD. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko refluks asam lambung, meskipun GERD juga dapat terjadi pada individu dengan IMT normal akibat faktor gaya hidup lainnya. GERD bukan hanya persoalan lambung, tetapi cerminan gaya hidup secara keseluruhan. Dengan menjaga berat badan ideal dan menerapkan pola hidup sehat, risiko GERD dapat ditekan sejak dini, sehingga kualitas hidup masyarakat tetap terjaga.
Source: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/8254/5728
Author: Alyaa Aladawiyah Lalapa, Vivien Novarina A. Kasim, Nirwanto K. Rahim, Erwin Purwanto
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran