
Operasi sectio caesarea (SC) menjadi salah satu prosedur persalinan yang semakin sering dilakukan di Indonesia. Meski dinilai relatif aman, tindakan ini tetap memiliki risiko komplikasi, salah satunya hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah normal setelah tindakan anestesi. Sebuah penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Kota Gorontalo, mengungkap fakta penting bahwa indeks massa tubuh (IMT) ibu berhubungan erat dengan kejadian hipotermia pasca operasi caesar dengan anestesi spinal. Temuan ini memberi peringatan bahwa status gizi ibu hamil bukan hanya penting untuk kehamilan, tetapi juga berpengaruh pada keselamatan saat tindakan operasi.
Hipotermia: Komplikasi yang Sering Terjadi tapi Kerap Diabaikan
Hipotermia pasca operasi sering dianggap sebagai efek samping ringan. Padahal, secara medis, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak serius, mulai dari gangguan pembekuan darah, peningkatan risiko infeksi luka operasi, hingga memperlambat proses pemulihan pasien. Penelitian ini menunjukkan bahwa 63 persen pasien mengalami hipotermia ringan setelah menjalani operasi caesar dengan anestesi spinal. Sebelum operasi, seluruh pasien memiliki suhu tubuh normal, namun setelah anestesi spinal diberikan, sebagian besar mengalami penurunan suhu tubuh. Hal ini terjadi karena anestesi spinal dapat mengganggu sistem pengaturan suhu tubuh, menyebabkan pelebaran pembuluh darah perifer dan perpindahan panas dari pusat tubuh ke jaringan luar.
IMT Rendah, Risiko Hipotermia Lebih Tinggi
Temuan paling menonjol dari penelitian ini adalah bahwa seluruh pasien dengan IMT kurus ringan mengalami hipotermia ringan setelah operasi. Bahkan pada pasien dengan IMT normal, sebagian besar juga mengalami penurunan suhu tubuh. Sebaliknya, pasien dengan IMT gemuk ringan hingga gemuk berat cenderung lebih mampu mempertahankan suhu tubuh normal pasca operasi. Secara statistik, hubungan antara IMT dan kejadian hipotermia terbukti signifikan, dengan nilai p sebesar 0,003. Artinya, semakin rendah IMT seseorang, semakin besar risiko mengalami hipotermia setelah anestesi spinal.
Mengapa Berat Badan Berpengaruh?
Secara ilmiah, jaringan lemak di bawah kulit berfungsi sebagai isolator alami yang membantu menjaga suhu tubuh. Individu dengan IMT rendah memiliki lapisan lemak subkutan yang lebih tipis, sehingga panas tubuh lebih mudah hilang selama dan setelah tindakan operasi. Sebaliknya, individu dengan IMT lebih tinggi memiliki perlindungan termal yang lebih baik. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa IMT bukan satu-satunya faktor penentu. Suhu ruang operasi, jenis cairan infus, durasi tindakan, dan metode penghangatan pasien turut berperan dalam menjaga stabilitas suhu tubuh.
Implikasi Penting bagi Pelayanan Kesehatan
Temuan ini menegaskan bahwa penilaian IMT perlu menjadi bagian penting dari evaluasi praoperatif, khususnya pada pasien yang akan menjalani operasi caesar dengan anestesi spinal. Dengan mengetahui pasien berisiko tinggi mengalami hipotermia, tenaga kesehatan dapat melakukan langkah pencegahan sejak awal. Langkah tersebut antara lain penggunaan selimut penghangat, pemberian cairan infus hangat, serta pemantauan suhu tubuh secara ketat selama dan setelah operasi. Pendekatan preventif ini dinilai lebih efektif dan aman dibandingkan menangani komplikasi setelah terjadi.
Bukan Sekadar Angka di Timbangan
Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa IMT bukan sekadar angka, melainkan indikator penting kondisi fisiologis tubuh yang berpengaruh langsung pada keselamatan pasien. Bagi ibu hamil, menjaga status gizi yang baik tidak hanya bermanfaat bagi tumbuh kembang janin, tetapi juga berperan dalam mengurangi risiko komplikasi medis saat persalinan.
KesimpulanPenelitian ini menyimpulkan bahwa indeks massa tubuh memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hipotermia pada pasien operasi caesar dengan anestesi spinal. Pasien dengan IMT rendah, khususnya kategori kurus ringan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotermia pasca operasi. Temuan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan persalinan yang aman membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pemantauan status gizi hingga pengelolaan suhu tubuh pasien secara optimal. Dengan perhatian yang tepat sejak praoperasi, risiko komplikasi dapat ditekan, dan keselamatan ibu semakin terjamin.
Source: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/4752/4097
Author: Diah Arimurty, Sri Manovita Pateda, Romdon Purwanto, Nanang Roswita Paramata, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran