Biomarker Tulang dan DXA: Kombinasi Modern untuk Diagnosis Osteoporosis yang Lebih Akurat

Oleh: Jesica Mulyadi . 3 Mei 2026 . 21:06:33

Osteoporosis menjadi salah satu masalah kesehatan global yang semakin mendapat perhatian, terutama pada wanita pascamenopause dan kelompok lanjut usia. Penyakit ini ditandai dengan penurunan kepadatan mineral tulang serta gangguan mikroarsitektur tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah mengalami fraktur. Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan risiko kecacatan hingga kematian akibat komplikasi patah tulang.

Selama ini, pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) menggunakan metode Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA) dikenal sebagai standar emas dalam diagnosis osteoporosis. Pemeriksaan DXA mampu memberikan gambaran akurat mengenai kepadatan tulang dan risiko fraktur. Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena hanya menilai kondisi struktural tulang dan belum dapat menggambarkan aktivitas metabolisme tulang yang berlangsung secara dinamis.

Perkembangan ilmu kedokteran modern kini menunjukkan bahwa biomarker tulang atau Bone Turnover Markers (BTMs) memiliki peran penting dalam mendukung diagnosis dan pemantauan osteoporosis. Biomarker seperti Procollagen Type I N-Terminal Propeptide (P1NP), β-C-terminal Telopeptide (β-CTX), serta osteocalcin mampu memberikan informasi secara real time mengenai proses pembentukan dan resorpsi tulang.

Literature review yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa berbagai penelitian internasional pada periode 2021–2025 menunjukkan hubungan signifikan antara BTMs dan nilai BMD yang diukur menggunakan DXA. Peningkatan biomarker turnover tulang terbukti berkaitan dengan percepatan kehilangan massa tulang dan peningkatan risiko fraktur osteoporosis.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa biomarker tulang dapat menjadi alat pelengkap penting dalam diagnosis osteoporosis. Bila DXA menilai kekuatan dan struktur tulang, maka BTMs membantu menilai aktivitas biologis tulang yang sedang berlangsung. Kombinasi keduanya dinilai mampu meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus membantu dokter memantau efektivitas terapi lebih cepat dibandingkan hanya menggunakan DXA saja.

Secara fisiologis, proses osteoporosis sangat dipengaruhi oleh ketidakseimbangan remodeling tulang. Pada wanita pascamenopause, penurunan hormon estrogen menyebabkan aktivitas osteoklas meningkat lebih cepat dibanding osteoblas. Akibatnya, proses penghancuran tulang berlangsung lebih dominan dibanding pembentukan tulang baru. Dalam kondisi ini, biomarker seperti β-CTX akan meningkat sebagai tanda tingginya aktivitas resorpsi tulang.

Selain faktor hormonal, kadar vitamin D juga memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan tulang. Defisiensi vitamin D dapat memperburuk penurunan kepadatan tulang karena mengganggu penyerapan kalsium dan metabolisme mineral. Kondisi tersebut berhubungan dengan peningkatan BTMs dan penurunan nilai BMD pada pemeriksaan DXA.

Di sisi lain, penggunaan biomarker tulang juga memberikan manfaat besar dalam pemantauan terapi osteoporosis. Beberapa terapi hormonal dan antiresorptif seperti risedronate terbukti mampu menurunkan kadar BTMs dalam waktu relatif singkat. Penurunan biomarker ini kemudian diikuti peningkatan kepadatan tulang pada pemeriksaan DXA setelah beberapa bulan terapi. Hal tersebut menunjukkan bahwa BTMs dapat menjadi indikator awal keberhasilan pengobatan sebelum perubahan BMD terlihat secara signifikan.

Pendekatan kombinasi antara DXA dan biomarker tulang kini dipandang sebagai strategi modern dalam manajemen osteoporosis. Integrasi informasi struktural dan metabolik memungkinkan tenaga kesehatan melakukan deteksi dini, memperkirakan risiko fraktur, memantau progresivitas penyakit, serta menentukan terapi yang lebih personal dan tepat sasaran.

Meski demikian, para peneliti menilai bahwa penggunaan biomarker tulang di Indonesia masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, termasuk penentuan nilai rujukan normal sesuai karakteristik populasi Indonesia. Edukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan tulang, konsumsi kalsium dan vitamin D yang cukup, aktivitas fisik rutin, serta kepatuhan terapi juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan osteoporosis.

Dengan kemajuan teknologi diagnostik dan pemanfaatan biomarker modern, diharapkan penanganan osteoporosis di masa depan dapat dilakukan lebih cepat, lebih akurat, dan lebih efektif sehingga mampu menekan angka fraktur serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Author: Angelina Tessya Moningka, Nasywa Khairiyah Bahsoan, Raisyah Davina Ramadhani Latief, Sania Wahyuniar Baderan, Yecika Raupu, Yuniarty Antu

Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/9534

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran