Citra Tubuh Mahasiswa Kedokteran: Antara Timbangan, Percaya Diri, dan Aktivitas Fisik

Oleh: Jesica Mulyadi . 11 Januari 2026 . 11:17:35

Mahasiswa kedokteran kerap dipandang sebagai kelompok muda yang rasional, berpendidikan tinggi, dan memahami kesehatan secara menyeluruh. Namun, di balik pemahaman ilmiah tersebut, tersimpan persoalan psikologis yang tidak kalah penting: citra tubuh atau body image. Penelitian terbaru di Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa lebih dari separuh mahasiswa kedokteran masih memiliki citra tubuh negatif, meskipun sebagian besar berada pada status gizi normal. Temuan ini membuka diskusi penting bahwa masalah citra tubuh bukan semata soal berat badan, tetapi juga soal persepsi diri, aktivitas fisik, dan kepercayaan diri.

Ketika Tubuh Normal, Tapi Rasa Tidak Puas Tetap Ada

Penelitian terhadap 67 mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa 58,2 persen responden memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) normal, namun 53,7 persen di antaranya tetap menilai tubuhnya secara negatif. Fakta ini menegaskan bahwa ukuran objektif seperti timbangan tidak selalu sejalan dengan cara seseorang memandang tubuhnya sendiri. Dalam dunia yang dipenuhi standar tubuh ideal—baik dari media sosial, lingkungan pergaulan, maupun tuntutan profesional—mahasiswa mudah terjebak dalam perbandingan sosial. Akibatnya, ketidakpuasan tubuh bisa muncul meskipun secara medis berada pada kategori sehat.

Aktivitas Fisik Berperan, Tapi Tidak Harus Berlebihan

Penelitian ini menemukan bahwa aktivitas fisik memiliki hubungan signifikan dengan citra tubuh. Mahasiswa yang melakukan aktivitas fisik tingkat sedang cenderung memiliki persepsi tubuh yang lebih positif dibandingkan mereka yang jarang bergerak. Menariknya, aktivitas fisik berat tidak selalu identik dengan citra tubuh yang lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa olahraga yang dilakukan untuk kesehatan dan kenyamanan diri lebih berdampak positif dibandingkan olahraga yang berorientasi pada tekanan performa atau perubahan bentuk tubuh secara ekstrem. Dengan kata lain, bergerak secara teratur lebih penting daripada memaksakan diri.

Percaya Diri: Faktor Psikologis yang Menentukan

Selain aktivitas fisik, kepercayaan diri muncul sebagai faktor penting yang berkaitan dengan citra tubuh. Mahasiswa dengan tingkat kepercayaan diri yang baik cenderung lebih mampu menerima kondisi tubuhnya, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan standar ideal yang dibentuk lingkungan. Namun, penelitian ini juga menemukan paradoks menarik: tidak sedikit mahasiswa dengan kepercayaan diri tinggi tetap memiliki citra tubuh negatif. Hal ini menunjukkan bahwa citra tubuh adalah aspek psikologis yang spesifik, dan tidak selalu sejalan dengan penilaian diri secara umum. Tekanan akademik, budaya kompetitif, serta ekspektasi sosial dalam lingkungan pendidikan kedokteran dapat memengaruhi cara mahasiswa menilai tubuhnya, terlepas dari tingkat kepercayaan diri mereka secara keseluruhan.

Berat Badan Tetap Berpengaruh

Dari seluruh faktor yang diteliti, IMT menjadi prediktor paling kuat terhadap citra tubuh. Mahasiswa dengan status obesitas memiliki risiko tertinggi untuk mengalami citra tubuh negatif. Namun demikian, temuan bahwa mahasiswa dengan IMT normal juga banyak yang tidak puas terhadap tubuhnya menegaskan bahwa citra tubuh adalah hasil interaksi antara faktor fisik dan psikososial. Artinya, memperbaiki status gizi saja tidak cukup untuk memperbaiki citra tubuh tanpa diiringi pendekatan psikologis.

Opini Ilmiah: Saatnya Kampus Lebih Peduli Kesehatan Mental

Penelitian ini menyampaikan pesan penting bagi dunia pendidikan tinggi, khususnya institusi kesehatan. Citra tubuh negatif bukan persoalan sepele, karena dapat berkaitan dengan stres, gangguan makan, dan masalah kesehatan mental lainnya. Kampus perlu menghadirkan pendekatan yang lebih holistik, tidak hanya menekankan prestasi akademik, tetapi juga:

  1. promosi aktivitas fisik yang sehat dan inklusif,
  2. edukasi tentang penerimaan tubuh dan literasi media,
  3. layanan konseling psikologis yang mudah diakses mahasiswa.
  4. Mahasiswa kedokteran adalah calon tenaga kesehatan dan panutan masyarakat. Jika mereka mampu memiliki hubungan yang sehat dengan tubuhnya sendiri, maka nilai tersebut akan terbawa dalam praktik profesional dan interaksi dengan pasien di masa depan.

Menerima Tubuh, Menjaga Kesehatan

Citra tubuh yang positif bukan berarti mengabaikan kesehatan, melainkan menerima diri sambil tetap merawat tubuh secara realistis dan berkelanjutan. Penelitian ini mengingatkan bahwa kesehatan tidak hanya diukur dari angka IMT atau jam olahraga, tetapi juga dari bagaimana seseorang memandang dan menghargai tubuhnya sendiri. Di tengah tekanan akademik dan sosial, pesan ini menjadi relevan bagi seluruh generasi muda Indonesia: tubuh sehat dimulai dari persepsi yang sehat.

Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/31587/pdf

Author: Ismiaty Abdullah, Sunarto Kadir, Cecy Rahma Karim, Margaretha Solang, Sri Manovita Pateda

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran