Ketika mendengar demam berdarah dengue (DBD), kebanyakan masyarakat langsung membayangkan demam tinggi, tubuh lemas, nyeri sendi, atau trombosit yang terus menurun. Tidak banyak yang menyadari bahwa infeksi dengue ternyata dapat berdampak lebih luas dari yang kita bayangkan, bahkan hingga memengaruhi irama listrik jantung. Inilah pesan penting dari penelitian dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) yang dipublikasikan dalam International Journal of Cardiovascular Sciences. Penelitian tersebut mengangkat sebuah kasus yang jarang ditemukan namun sangat penting untuk dipahami: pasien demam dengue yang mengalami gangguan hantaran listrik jantung sementara, dikenal sebagai Left Bundle Branch Block (LBBB), disertai fenomena cardiac memory.
Bagi masyarakat awam, istilah tersebut mungkin terdengar rumit. Sederhananya, jantung bekerja seperti rumah yang dialiri listrik dengan kabel-kabel khusus agar setiap ruang mendapat aliran daya secara teratur. Pada kondisi normal, sinyal listrik bergerak cepat sehingga jantung berdetak ritmis dan efisien. Namun, pada LBBB, salah satu jalur utama penghantar sinyal listrik di sisi kiri jantung mengalami gangguan, sehingga aliran sinyal menjadi lebih lambat dan pola denyut jantung berubah. Yang membuat kasus ini menarik adalah pasien tidak datang dengan keluhan jantung sama sekali. Seorang perempuan berusia 50 tahun datang ke rumah sakit hanya dengan keluhan khas DBD: demam selama tiga hari, nyeri sendi hebat, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan. Ia bahkan tidak mengeluhkan nyeri dada ataupun jantung berdebar. Namun, saat dilakukan pemeriksaan EKG, dokter menemukan adanya LBBB, sebuah perubahan yang pada kondisi lain bisa menyerupai tanda serangan jantung. Di sinilah dunia medis menghadapi tantangan besar.
Perubahan hasil EKG seperti ini sering memicu kekhawatiran karena dapat menyerupai iskemia miokard, yaitu kondisi ketika otot jantung kekurangan suplai darah. Dalam situasi tertentu, pasien bisa saja langsung dianggap mengalami masalah jantung serius dan menjalani berbagai intervensi yang sebenarnya belum tentu diperlukan. Namun, penelitian FK UNG menunjukkan sesuatu yang menarik.
Setelah menjalani perawatan suportif untuk DBD, kondisi pasien berangsur membaik. Pada hari keempat perawatan, gangguan LBBB menghilang. Tetapi muncul fenomena baru berupa inversi gelombang T pada EKG—pola yang sering diasosiasikan dengan kerusakan jantung. Menariknya, pasien tetap stabil, pemeriksaan ekokardiografi normal, dan enzim jantung troponin tidak meningkat, yang berarti tidak ada bukti kerusakan otot jantung. Beberapa hari kemudian, hasil EKG kembali normal sepenuhnya. Fenomena inilah yang disebut cardiac memory.
Secara sederhana, cardiac memory adalah kondisi ketika gelombang listrik jantung seolah “mengingat” pola gangguan sebelumnya. Setelah jalur listrik jantung kembali normal, jejak gangguan itu masih tampak sementara pada hasil EKG. Ibarat jalan yang sempat rusak, meski sudah diperbaiki, bekas jalurnya masih terlihat beberapa waktu. Yang penting dipahami masyarakat adalah: tidak semua perubahan EKG berarti serangan jantung. Dalam kasus tertentu, perubahan tersebut bisa bersifat sementara dan merupakan respons tubuh terhadap infeksi atau stres fisiologis. Penelitian ini menunjukkan bahwa inflamasi akibat dengue, gangguan elektrolit, perubahan kebutuhan oksigen jantung, hingga respons imun tubuh dapat memicu gangguan irama jantung sementara. Temuan ini membawa pesan penting bagi pelayanan kesehatan di Indonesia.
Selama ini perhatian pada DBD sering berfokus pada trombosit dan risiko perdarahan. Padahal, kasus ini menunjukkan bahwa organ lain seperti jantung juga bisa terdampak, meskipun tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas. Artinya, evaluasi pasien DBD tidak boleh hanya terpaku pada satu parameter laboratorium. Bagi masyarakat, pelajarannya sederhana tetapi penting: jangan menganggap DBD sebagai penyakit yang “biasa saja.” Sebagian besar pasien memang pulih dengan baik, tetapi pada beberapa kasus, komplikasi dapat muncul di luar dugaan. Penelitian FK UNG ini juga membuktikan bahwa riset dari daerah mampu memberikan kontribusi penting bagi ilmu kedokteran global. Publikasi internasional seperti ini tidak sekadar menjadi kebanggaan akademik, tetapi juga memperluas pemahaman kita tentang bagaimana penyakit tropis seperti dengue dapat memengaruhi tubuh secara kompleks. Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia adalah sistem yang saling terhubung. Ketika infeksi menyerang, dampaknya tidak selalu berhenti pada gejala yang tampak di permukaan. Kadang, penyakit yang kita kenal sebagai “sekadar demam berdarah” ternyata mampu memengaruhi organ vital seperti jantung. Mungkin itulah pelajaran terbesarnya: dalam dunia kesehatan, hal yang tampak sederhana sering kali menyimpan kompleksitas yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.
Sources: https://www.scielo.br/j/ijcs/a/7VxZpsPmTfz3Sh3WXHnVYst/?lang=enAuthor: Muchtar Nora Ismail Siregar dan Jasmine Ibtisamah Alkatiri#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran