
Kehamilan merupakan proses biologis yang kompleks dan memerlukan perhatian kesehatan yang optimal untuk menjamin keselamatan ibu dan bayi. Meskipun sebagian besar kehamilan berlangsung secara normal, beberapa kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang berpotensi mengancam nyawa. Salah satu komplikasi yang paling sering menjadi penyebab kematian ibu di dunia adalah preeklampsia, suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah selama kehamilan yang dapat memicu berbagai gangguan organ vital. Secara global, preeklampsia memengaruhi sekitar 2–8 persen kehamilan di seluruh dunia dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu dan bayi. Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan ditandai oleh peningkatan tekanan darah hingga ≥140/90 mmHg. Dalam beberapa kasus, preeklampsia juga disertai dengan gejala lain seperti proteinuria, gangguan fungsi organ, serta kelainan pada pertumbuhan janin. Jika tidak ditangani secara tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat seperti eklampsia, perdarahan otak, gagal organ, bahkan kematian ibu maupun bayi.
Data kesehatan nasional menunjukkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi masalah yang serius. Peningkatan jumlah kematian ibu dari tahun ke tahun memperlihatkan bahwa komplikasi kehamilan masih menjadi tantangan besar dalam sistem pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui deteksi dini menjadi strategi yang sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi yang berbahaya. Selama ini, skrining preeklampsia umumnya dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah dan analisis protein dalam urine. Meskipun metode ini cukup membantu dalam proses diagnosis, pendekatan tersebut sering kali baru dapat mendeteksi preeklampsia setelah gejala klinis mulai muncul. Dalam banyak kasus, kondisi ini menyebabkan keterlambatan penanganan sehingga risiko komplikasi menjadi lebih tinggi.
Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang biomedis kini membuka peluang baru dalam mendeteksi preeklampsia lebih awal melalui penggunaan biomarker. Biomarker merupakan indikator biologis yang dapat diukur untuk menggambarkan kondisi fisiologis atau patologis dalam tubuh. Dalam konteks kehamilan, biomarker dapat membantu tenaga kesehatan memprediksi risiko preeklampsia bahkan sebelum gejala klinis muncul. Kajian literatur yang dilakukan dalam penelitian ini mengidentifikasi berbagai biomarker yang berpotensi digunakan sebagai alat bantu diagnosis dan pemantauan preeklampsia. Biomarker tersebut berasal dari berbagai pemeriksaan laboratorium yang relatif mudah dilakukan di fasilitas kesehatan. Beberapa di antaranya berasal dari parameter hematologi, biokimia darah, serta faktor pertumbuhan plasenta.
Salah satu kelompok biomarker yang paling mudah digunakan adalah parameter hematologi, seperti trombosit, hematokrit, serta rasio platelet-limfosit (PLR). Pemeriksaan ini sering dilakukan dalam pemeriksaan darah rutin sehingga relatif mudah diterapkan dalam praktik klinis. Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dengan preeklampsia cenderung mengalami perubahan pada parameter hematologi tersebut, misalnya penurunan jumlah trombosit atau perubahan rasio PLR yang berkaitan dengan proses inflamasi dan kerusakan pembuluh darah. Selain parameter hematologi, beberapa biomarker biokimia juga menunjukkan potensi diagnostik yang cukup kuat. Pemeriksaan ureum dan kreatinin, misalnya, dapat membantu menilai fungsi ginjal pada ibu hamil. Pada kasus preeklampsia, gangguan aliran darah dan kerusakan endotel dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal sehingga kadar ureum dan kreatinin dalam darah mengalami perubahan.
Biomarker lain yang banyak diteliti adalah lactate dehydrogenase (LDH). Enzim ini berkaitan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan stres seluler. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar LDH cenderung meningkat pada kasus preeklampsia, terutama pada kondisi yang lebih berat. Peningkatan kadar LDH juga sering dikaitkan dengan tingkat keparahan penyakit serta risiko komplikasi pada ibu dan bayi. Selain biomarker yang berasal dari pemeriksaan darah rutin, penelitian juga mengidentifikasi biomarker yang berkaitan dengan fungsi plasenta. Salah satunya adalah Placental Growth Factor (PlGF), yaitu protein yang berperan dalam proses pembentukan pembuluh darah pada plasenta. Pada kondisi preeklampsia, terjadi ketidakseimbangan antara faktor angiogenik dan antiangiogenik yang menyebabkan gangguan aliran darah ke plasenta. Penurunan kadar PlGF sering ditemukan pada ibu hamil yang mengalami preeklampsia.
Di sisi lain, penelitian juga menyoroti peran vitamin D, khususnya kadar 25-hydroxyvitamin D, yang berkaitan dengan fungsi endotel pembuluh darah. Vitamin D memiliki sifat antioksidan yang membantu menjaga kesehatan sel endotel. Penurunan kadar vitamin D dalam tubuh ibu hamil dapat memicu disfungsi endotel dan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi selama kehamilan. Meskipun berbagai biomarker tersebut menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan, sebagian besar penelitian masih berada pada tahap pengembangan dan memerlukan validasi lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas dalam praktik klinis. Hal ini disebabkan oleh variasi hasil penelitian, perbedaan metode pemeriksaan, serta keterbatasan fasilitas laboratorium di berbagai wilayah.
Namun demikian, perkembangan penelitian mengenai biomarker preeklampsia memberikan harapan baru dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu. Dengan deteksi yang lebih dini, tenaga kesehatan dapat melakukan pemantauan yang lebih ketat terhadap ibu hamil yang berisiko tinggi, sehingga komplikasi dapat dicegah sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, inovasi dalam deteksi dini preeklampsia juga memiliki dampak yang luas. Upaya ini tidak hanya membantu menyelamatkan nyawa ibu dan bayi, tetapi juga berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara nasional.
Pada akhirnya, kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang biomarker memberikan peluang besar untuk memperkuat sistem skrining kehamilan di masa depan. Dengan memanfaatkan teknologi diagnostik yang lebih sensitif, deteksi komplikasi kehamilan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih akurat. Dengan demikian, upaya meningkatkan penelitian dan pengembangan biomarker preeklampsia menjadi langkah penting dalam membangun sistem kesehatan ibu yang lebih responsif, preventif, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan bayi.
Sources: https://journal.umgo.ac.id/index.php/Madu/article/view/5406
Author: Yuniarty Antu, Dian Pratiwi Iman
#FKUNGgul
#kedokteranung