
GORONTALO – Diabetes melitus selama ini dikenal sebagai penyakit yang berkaitan dengan kadar gula darah tinggi dan komplikasi seperti gangguan jantung, ginjal, hingga saraf. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya bisa meluas hingga ke kantung empedu. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025) menemukan adanya hubungan signifikan antara riwayat diabetes melitus (DM) dan kejadian kolelitiasis atau batu empedu di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo. Hasil ini memperkuat dugaan bahwa gangguan metabolik seperti diabetes tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga proses pembentukan batu di saluran empedu.
Kolelitiasis: Penyakit yang Sering Tak Disadari
Kolelitiasis adalah kondisi terbentuknya batu di dalam kantung empedu akibat endapan kolesterol atau pigmen empedu. Secara global, prevalensinya mencapai sekitar 11,7% populasi. Masalahnya, sebagian besar kasus bersifat tanpa gejala. Sekitar 50–75% penderita tidak menyadari adanya batu empedu hingga muncul komplikasi seperti kolesistitis akut atau pankreatitis. Di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, dari 91 pasien yang diteliti sepanjang 2024, sebanyak 45 pasien (49,5%) terdiagnosis suspek kolelitiasis. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh pasien dengan keluhan terkait empedu berpotensi mengalami batu empedu.
Siapa yang Paling Berisiko?
Penelitian ini menemukan bahwa kolelitiasis lebih banyak terjadi pada perempuan (72,5%) dan pada kelompok usia 45–59 tahun (37,4%). Secara ilmiah, perempuan memang memiliki risiko lebih tinggi akibat pengaruh hormon estrogen yang meningkatkan sekresi kolesterol dalam empedu. Sementara itu, usia paruh baya hingga lanjut meningkatkan risiko karena perubahan metabolisme lemak dan penurunan motilitas kandung empedu. Namun, faktor yang paling menarik perhatian adalah diabetes melitus.
Diabetes Melitus dan Batu Empedu: Hubungan yang Bermakna
Dari 25 pasien yang memiliki riwayat diabetes, 18 di antaranya mengalami kolelitiasis. Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,008 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara riwayat DM dan kejadian kolelitiasis. Lebih jauh lagi, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799 mengindikasikan bahwa pasien dengan diabetes memiliki risiko hampir 3 kali lebih besar mengalami batu empedu dibandingkan pasien tanpa diabetes Secara patofisiologi, hubungan ini dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme:
Implikasi bagi Kebijakan Kesehatan
Temuan ini memiliki makna penting dalam konteks kesehatan masyarakat. Indonesia tengah menghadapi peningkatan prevalensi diabetes akibat perubahan gaya hidup, pola makan tinggi lemak, dan kurangnya aktivitas fisik. Jika diabetes meningkatkan risiko kolelitiasis hampir tiga kali lipat, maka pencegahan batu empedu seharusnya menjadi bagian dari pengelolaan komprehensif pasien DM. Pendekatan preventif dapat meliputi:
Keterbatasan dan Arah Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang berbasis data rekam medis, sehingga belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Variabel seperti durasi diabetes, kontrol glikemik, dan kadar lipid belum dianalisis secara mendalam. Namun demikian, temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa gangguan metabolik dan gangguan hepatobilier saling berkaitan. Penelitian lanjutan dengan desain prospektif dan variabel yang lebih komprehensif sangat dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme biologis dan strategi pencegahan yang lebih efektif.
Pesan Ilmiah untuk Masyarakat
Batu empedu sering kali datang tanpa gejala. Diabetes pun kerap disebut “silent killer”. Ketika dua kondisi ini saling berkaitan, risiko kesehatan menjadi berlipat. Pesan ilmiahnya jelas: mengendalikan diabetes bukan hanya untuk mencegah komplikasi klasik seperti stroke atau gagal ginjal, tetapi juga untuk menurunkan risiko batu empedu. Dalam era meningkatnya penyakit metabolik, pendekatan kesehatan harus lebih terintegrasi. Karena tubuh manusia bekerja sebagai satu sistem, bukan kumpulan organ yang berdiri sendiri.
Sources: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3319/2845
Authors:
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran