
Diabetes melitus tipe 2 kini menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, namun dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikendalikan dengan baik. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang luas bagi masyarakat dan sistem kesehatan. Secara global, jumlah penderita diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun. International Diabetes Federation melaporkan bahwa ratusan juta orang di dunia hidup dengan diabetes, dan sebagian besar di antaranya tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap penyakit ini. Kondisi ini menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit kronis yang membutuhkan perhatian serius dalam kebijakan kesehatan masyarakat.
Di Indonesia, situasi ini tidak jauh berbeda. Banyak daerah menunjukkan tren peningkatan jumlah penderita diabetes melitus tipe 2, termasuk di wilayah Gorontalo. Data kesehatan daerah menunjukkan bahwa ribuan masyarakat hidup dengan penyakit ini, bahkan sebagian telah mengalaminya selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan bahwa diabetes bukan lagi sekadar masalah individu, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan pendekatan preventif dan edukatif secara berkelanjutan. Secara medis, diabetes melitus tipe 2 merupakan gangguan metabolik yang terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah meningkat dan bertahan pada tingkat tinggi dalam jangka waktu lama. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, berbagai komplikasi dapat muncul, seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, hingga gangguan penglihatan.
Namun, yang sering luput dari perhatian adalah lamanya seseorang hidup dengan penyakit ini. Banyak penderita diabetes melitus tipe 2 menjalani kondisi tersebut selama bertahun-tahun tanpa pengelolaan yang optimal. Lamanya seseorang menderita diabetes bukan hanya ditentukan oleh faktor medis semata, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor gaya hidup, sosial, dan biologis. Salah satu faktor yang memiliki peran penting adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik merupakan komponen utama dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh. Ketika seseorang aktif bergerak, otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi, sehingga membantu menurunkan kadar gula dalam darah. Sebaliknya, gaya hidup yang kurang aktif dapat meningkatkan resistensi insulin dan memperburuk kontrol glukosa darah.
Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat mempercepat progresivitas diabetes melitus tipe 2. Individu yang jarang melakukan aktivitas fisik cenderung mengalami hiperglikemia kronis yang berlangsung lebih lama. Kondisi ini menyebabkan tubuh semakin sulit mengontrol kadar glukosa darah, sehingga perjalanan penyakit menjadi lebih panjang dan lebih sulit dikendalikan. Selain aktivitas fisik, faktor jenis kelamin juga memiliki peran penting dalam menentukan perjalanan penyakit diabetes. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami durasi penyakit yang lebih lama dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini berkaitan dengan berbagai faktor biologis dan hormonal yang memengaruhi metabolisme tubuh.
Perubahan hormon, terutama setelah menopause, dapat meningkatkan resistensi insulin pada perempuan. Kondisi ini membuat pengendalian kadar gula darah menjadi lebih sulit dan berpotensi memperpanjang perjalanan penyakit. Selain itu, perempuan juga cenderung memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin. Temuan penelitian bahkan menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemungkinan jauh lebih besar mengalami durasi diabetes yang lebih panjang dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa faktor biologis tidak dapat diabaikan dalam upaya pengendalian penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2. Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa diabetes bukanlah penyakit yang sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Sebaliknya, penyakit ini sangat dipengaruhi oleh pola hidup seseorang. Aktivitas fisik yang cukup, pola makan sehat, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu mengontrol kadar gula darah dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, upaya pencegahan dan pengendalian diabetes perlu dilakukan secara komprehensif. Edukasi kesehatan harus menjadi prioritas utama, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gaya hidup sehat. Program promotif dan preventif di tingkat layanan kesehatan primer juga memiliki peran strategis dalam mendeteksi dan mengelola penyakit ini sejak dini.
Selain itu, pendekatan berbasis komunitas juga perlu diperkuat. Perubahan perilaku kesehatan tidak dapat terjadi secara instan tanpa dukungan lingkungan sosial yang kondusif. Keluarga, masyarakat, serta tenaga kesehatan perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendorong pola hidup sehat. Pada akhirnya, diabetes melitus tipe 2 bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan perilaku dan kesadaran masyarakat. Lamanya seseorang hidup dengan penyakit ini sering kali mencerminkan bagaimana masyarakat memahami dan mengelola kesehatannya sendiri. Oleh karena itu, pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada obat atau intervensi medis semata, tetapi juga pada komitmen bersama untuk membangun gaya hidup sehat. Jika kesadaran ini dapat ditumbuhkan sejak dini, maka beban penyakit diabetes di masa depan dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia dapat meningkat secara berkelanjutan.
Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2417/1303
Author: Lilis Kartoni, Netty Uno Ischak, Sri Manovita Pateda
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran