Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia: Aktivitas Fisik dan Perempuan Jadi Faktor Penting dalam Lamanya Penyakit

Oleh: Jesica Mulyadi . 14 Juni 2026 . 16:14:58

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) menjadi salah satu penyakit tidak menular yang terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif sehingga kadar gula dalam darah meningkat dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, gangguan penglihatan, hingga amputasi. Federasi Diabetes Internasional (IDF) melaporkan bahwa lebih dari 463 juta orang di dunia hidup dengan diabetes, dan jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 629 juta orang pada tahun 2045. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar setengah dari penderita diabetes tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut. Di Indonesia, diabetes telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Di Provinsi Gorontalo sendiri, jumlah penderita diabetes masih tergolong tinggi dan tersebar hampir di seluruh wilayah.

Mengapa Lama Menderita Diabetes Penting Diperhatikan?

Banyak orang menganggap diabetes hanya berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Padahal, semakin lama seseorang hidup dengan diabetes, semakin besar pula risiko terjadinya komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup. Lama menderita diabetes sering dikaitkan dengan kerusakan pembuluh darah, gangguan saraf, penyakit ginjal, hingga gangguan jantung. Oleh karena itu, mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perjalanan penyakit menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian diabetes.

Penelitian di Kota Gorontalo

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo melibatkan 470 penderita diabetes melitus tipe 2 yang berasal dari sepuluh puskesmas di Kota Gorontalo. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan lamanya seseorang hidup dengan diabetes melitus tipe 2. Mayoritas responden merupakan kelompok usia 46–65 tahun dan sebagian besar berjenis kelamin perempuan. Selain itu, sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan dasar dan berstatus sebagai ibu rumah tangga.

Kurang Aktivitas Fisik Memperpanjang Perjalanan Diabetes

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah adanya hubungan yang sangat signifikan antara aktivitas fisik dan lamanya seseorang menderita diabetes melitus tipe 2. Aktivitas fisik berperan penting dalam membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Ketika seseorang rutin bergerak atau berolahraga, otot akan menggunakan gula darah sehingga kadar glukosa menjadi lebih terkendali. Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan:

  1. Penurunan sensitivitas insulin.
  2. Peningkatan kadar gula darah.
  3. Penumpukan lemak tubuh.
  4. Peradangan kronis dalam tubuh.
  5. Kerusakan sel penghasil insulin.

Akibatnya, pengendalian diabetes menjadi lebih sulit dan perjalanan penyakit dapat berlangsung lebih lama. Penelitian ini memperkuat pesan bahwa olahraga tidak hanya penting untuk mencegah diabetes, tetapi juga membantu mengendalikan penyakit pada mereka yang sudah mengalaminya.

Perempuan Memiliki Risiko Lebih Tinggi

Temuan lain yang menarik adalah hubungan antara jenis kelamin dan lamanya seseorang menderita diabetes melitus tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mengalami durasi penyakit yang lebih panjang dibandingkan laki-laki. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 15,38. Artinya, perempuan memiliki kemungkinan sekitar 15 kali lebih besar mengalami perjalanan diabetes yang lebih panjang dibandingkan laki-laki. Para peneliti menjelaskan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Perubahan hormonal setelah menopause.
  2. Persentase lemak tubuh yang lebih tinggi.
  3. Peningkatan resistensi insulin.
  4. Akumulasi lemak visceral di area perut.
  5. Faktor genetik dan riwayat keluarga diabetes.

Karena itu, perempuan, terutama yang memasuki usia menopause, perlu lebih memperhatikan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Diabetes Bukan Hanya Masalah Individu

Diabetes melitus bukan hanya masalah individu, tetapi juga menjadi tantangan bagi keluarga dan sistem kesehatan nasional. Pengobatan yang berlangsung bertahun-tahun membutuhkan biaya besar serta dukungan keluarga yang kuat. Jika tidak dikendalikan dengan baik, diabetes dapat menyebabkan komplikasi yang meningkatkan beban pelayanan kesehatan dan menurunkan produktivitas masyarakat usia kerja. Oleh sebab itu, pencegahan dan pengendalian diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh melalui kerja sama antara masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, dan keluarga.

Langkah Sederhana untuk Mengendalikan Diabetes

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengendalikan diabetes antara lain:

Bagi Masyarakat

  1. Melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.
  2. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  3. Mengurangi konsumsi gula berlebih.
  4. Menjaga berat badan ideal.
  5. Melakukan pemeriksaan gula darah secara rutin.

Bagi Penderita Diabetes

  1. Patuh mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.
  2. Mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis).
  3. Mengontrol tekanan darah dan kolesterol.
  4. Melakukan aktivitas fisik secara teratur.
  5. Menghindari merokok dan konsumsi alkohol.

Bagi Pemerintah dan Tenaga Kesehatan

  1. Memperkuat edukasi masyarakat tentang diabetes.
  2. Meningkatkan skrining dini kelompok berisiko.
  3. Mengembangkan program promosi aktivitas fisik.
  4. Memperluas akses layanan pengendalian penyakit kronis di tingkat puskesmas.

Investasi Kesehatan untuk Masa Depan

Penelitian di Kota Gorontalo menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan jenis kelamin memiliki hubungan yang signifikan dengan lamanya seseorang menderita diabetes melitus tipe 2. Kurangnya aktivitas fisik dapat memperpanjang perjalanan penyakit, sementara perempuan memiliki risiko yang lebih besar mengalami durasi penyakit yang lebih lama. Temuan ini menegaskan bahwa pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pada perubahan gaya hidup yang sehat. Dengan meningkatkan aktivitas fisik, menjaga pola makan, dan melakukan deteksi dini, masyarakat Indonesia dapat mengurangi risiko komplikasi diabetes sekaligus meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2417/1303

Authors: Lilis Kartoni,  Netty Uno Ischak, Sri Manovita Pateda

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran