Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia, ancaman kesehatan yang sering luput dari perhatian ternyata bukan hanya penyakit jantung, stroke, atau gagal ginjal. Mata pun bisa menjadi korban. Bahkan, jika kadar gula darah tidak terkontrol, risiko gangguan penglihatan berat hingga kebutaan dapat meningkat drastis. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan: penderita diabetes melitus (DM) dengan gula darah yang tidak terkontrol memiliki risiko 7,364 kali lebih tinggi mengalami ulkus kornea infeksius berat, suatu kondisi luka pada kornea mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan.
Temuan ini menjadi alarm penting bagi masyarakat Indonesia, terutama karena diabetes kini semakin banyak menyerang usia produktif. Penyakit yang kerap disebut “silent killer” ini ternyata juga dapat diam-diam merusak kesehatan mata. Ulkus kornea infeksius sendiri merupakan luka terbuka pada lapisan bening paling depan mata, yaitu kornea. Kondisi ini dapat muncul akibat infeksi bakteri, jamur, maupun mikroorganisme lain. Gejalanya sering berupa mata merah, nyeri hebat, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, hingga keluarnya cairan dari mata. Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah pada penderita diabetes, proses penyembuhan luka jauh lebih lambat. Gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah kecil, mengganggu saraf kornea, serta menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi.
Penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe dan RSUD dr. Hasri Ainun Habibie terhadap 30 pasien menemukan bahwa 66,7 persen pasien memiliki kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL, yang menandakan diabetes tidak terkontrol. Mayoritas pasien mengalami ulkus kornea dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Angka ini menunjukkan bahwa masalah kontrol gula darah masih menjadi tantangan besar, termasuk di daerah. Gorontalo sendiri mencatat peningkatan kasus kelainan kornea dari tahun ke tahun, memperlihatkan bahwa komplikasi diabetes pada mata bukan masalah kecil. Mengapa diabetes sangat memengaruhi mata?
Secara medis, kadar gula darah tinggi dalam waktu lama memicu pembentukan zat berbahaya bernama advanced glycation end-products (AGEs). Zat ini mempercepat peradangan, meningkatkan stres oksidatif, dan merusak jaringan kornea. Akibatnya, mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan lebih sulit sembuh setelah mengalami luka. Masalahnya, kondisi ini sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penglihatan sudah menurun drastis.
Pola hidup masyarakat juga ikut berperan besar. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti nasi putih dalam porsi besar, minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan tinggi gula dapat memperparah lonjakan gula darah harian. Ditambah gaya hidup kurang aktif dan beban kerja tinggi, pengendalian diabetes menjadi semakin sulit. Penelitian ini juga menemukan bahwa mayoritas pasien adalah laki-laki usia produktif hingga lansia awal yang masih aktif bekerja. Hal ini memberi gambaran bahwa kesibukan kerja sering membuat seseorang mengabaikan kontrol kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan gula darah dan kesehatan mata.
Secara nasional, temuan ini seharusnya menjadi peringatan bagi sistem kesehatan Indonesia. Edukasi diabetes tidak boleh berhenti pada pesan “kurangi gula.” Masyarakat perlu memahami bahwa komplikasi diabetes dapat menyerang organ yang selama ini jarang dikaitkan dengan penyakit metabolik, salah satunya mata. Skrining mata rutin bagi penderita diabetes seharusnya menjadi kebiasaan, bukan pilihan. Pemeriksaan berkala memungkinkan dokter mendeteksi kerusakan sejak dini sebelum komplikasi berkembang menjadi permanen.
Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Rumah sakit dan puskesmas harus memperkuat edukasi mengenai komplikasi diabetes, sementara individu perlu lebih disiplin dalam menjaga pola makan, aktivitas fisik, dan kepatuhan terhadap terapi. Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun sangat mendasar: mengontrol gula darah bukan hanya soal mencegah diabetes bertambah parah, tetapi juga menjaga kemampuan seseorang untuk tetap melihat dunia dengan jelas. Karena pada akhirnya, kebutaan akibat diabetes sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba—melainkan akumulasi dari kelalaian kecil yang dibiarkan terlalu lama.
Sources: https://jurnal.jomparnd.com/index.php/jkj/article/view/2391/1748Author: Tsabita Zahra Potutu, Nanang Roswita Paramata, Naning Suleman, Edwina Rugaiah Monayo, Nelyan Helma Mokoginta#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran