Duduk Terlalu Lama dan Usia Jadi Pemicu Nyeri Punggung Bawah Pegawai Kampus

Oleh: Jesica Mulyadi . 10 Januari 2026 . 01:12:44

Bekerja di balik meja sering dianggap aman dan minim risiko. Ruangan berpendingin, kursi empuk, serta pekerjaan administratif kerap dipersepsikan jauh dari ancaman kesehatan. Namun, penelitian terbaru di Universitas Negeri Gorontalo justru menunjukkan fakta sebaliknya: nyeri punggung bawah (low back pain/LBP) menjadi keluhan umum di kalangan tenaga kependidikan kampus. Studi yang melibatkan 186 tenaga kependidikan ini mengungkap bahwa usia dan postur kerja duduk yang tidak ergonomis merupakan dua faktor utama yang berhubungan signifikan dengan keluhan nyeri punggung bawah.

Lebih dari Separuh Pegawai Mengalami Nyeri Punggung

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 54 persen responden mengeluhkan nyeri punggung bawah. Mayoritas responden berada pada rentang usia 36–45 tahun, kelompok usia produktif yang seharusnya berada pada puncak performa kerja. Ironisnya, justru pada fase inilah risiko nyeri punggung meningkat. Secara fisiologis, proses degeneratif tulang belakang mulai terjadi sejak usia 30 tahun. Elastisitas bantalan tulang belakang berkurang, otot tidak lagi sekuat sebelumnya, dan kemampuan tubuh menahan beban statis semakin menurun. Temuan ini menunjukkan bahwa nyeri punggung bukan semata persoalan usia lanjut, melainkan masalah kesehatan yang mulai muncul sejak usia produktif.

Postur Duduk Jadi Faktor Penentu

Selain usia, postur kerja duduk muncul sebagai faktor yang paling kuat kaitannya dengan LBP. Penelitian mencatat bahwa dua dari tiga pegawai bekerja dengan postur tidak ergonomis, seperti duduk membungkuk, kursi tanpa sandaran yang memadai, atau posisi layar komputer yang terlalu rendah. Dari kelompok ini, sebagian besar mengalami nyeri punggung. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang sangat signifikan antara postur kerja dan keluhan LBP. Secara sederhana, duduk terlalu lama dengan posisi yang salah menyebabkan tekanan berlebih pada tulang belakang bagian bawah. Otot punggung bekerja terus-menerus tanpa relaksasi, aliran darah terganggu, dan akhirnya memicu rasa nyeri yang menetap.

Faktor Lain Tidak Selalu Berpengaruh

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa jenis kelamin, masa kerja, kebiasaan merokok, dan tingkat stres kerja tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan nyeri punggung bawah. Hal ini menunjukkan bahwa nyeri punggung pada tenaga kependidikan lebih dipengaruhi oleh mekanisme fisik tubuh dan ergonomi kerja, bukan semata faktor psikologis atau kebiasaan personal. Pegawai dengan masa kerja lama tidak selalu mengalami nyeri, selama mampu beradaptasi dengan postur kerja yang baik.

Opini Ilmiah: Nyeri Punggung Adalah Masalah Sistem Kerja

Temuan ini menegaskan bahwa nyeri punggung bawah bukan sekadar keluhan individu, melainkan masalah sistem kerja modern. Pekerjaan administratif yang menuntut duduk berjam-jam tanpa jeda merupakan pola kerja yang berisiko jika tidak diimbangi dengan ergonomi dan aktivitas fisik ringan. Pencegahan LBP seharusnya menjadi bagian dari kebijakan kesehatan kerja, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi. Langkah sederhana seperti:

  1. pengaturan kursi dan meja kerja yang ergonomis,
  2. posisi layar komputer sejajar dengan mata,
  3. jeda peregangan setiap 1–2 jam,
  4. edukasi postur duduk yang benar,
  5. dapat memberikan dampak besar dalam menurunkan keluhan nyeri punggung dan meningkatkan produktivitas.

Menjaga Punggung, Menjaga Produktivitas

Nyeri punggung bawah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menurunkan konsentrasi, kualitas kerja, dan kepuasan kerja. Jika dibiarkan, keluhan ini dapat berkembang menjadi gangguan kronis yang memerlukan penanganan medis lebih serius. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa lingkungan kerja yang tampak “aman” belum tentu sehat bagi tubuh. Di era kerja modern yang serba duduk, menjaga postur dan memberi tubuh kesempatan bergerak bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Karena pada akhirnya, produktivitas institusi sangat bergantung pada kesehatan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/31595/pdf

Author: Wahyuningsih Ratna Sari, Herlina Jusuf, Jusna Ahmad, Vivien Novarina A. Kasim, Sri Manovita Pateda

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran