
Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling serius di dunia. Penyakit ini bahkan menjadi penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung serta penyebab utama kecacatan pada banyak orang. Setiap tahun, jutaan kasus stroke terjadi di berbagai negara, terutama di negara berkembang yang memiliki keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan dan pola hidup sehat. Di Indonesia, kasus stroke juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan tenaga kesehatan karena stroke tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga dapat menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang besar bagi keluarga maupun masyarakat.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan meningkatnya risiko stroke adalah pola hidup yang kurang sehat. Konsumsi makanan tinggi lemak, garam, dan gula, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab utama munculnya berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan dislipidemia. Ketiga kondisi tersebut merupakan faktor risiko penting yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami stroke. Selain faktor gaya hidup, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stroke juga menjadi masalah yang cukup signifikan. Banyak orang belum memahami bahwa pola makan sehat dan pengelolaan gizi yang baik dapat membantu menurunkan risiko terjadinya stroke. Oleh karena itu, edukasi kesehatan, khususnya edukasi gizi, menjadi salah satu langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit ini.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kota Selatan, Gorontalo, menunjukkan bahwa edukasi gizi dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stroke. Penelitian tersebut melibatkan 30 responden yang merupakan peserta program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS). Dalam penelitian ini, responden diberikan edukasi gizi melalui berbagai media, seperti presentasi, video edukasi, dan leaflet yang berisi informasi mengenai pola makan sehat serta faktor risiko stroke. Sebelum menerima edukasi, responden terlebih dahulu diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan mereka mengenai pencegahan stroke. Setelah edukasi diberikan, responden kembali diminta mengisi kuesioner yang sama untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi gizi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat. Sebelum diberikan edukasi, nilai rata-rata pengetahuan responden berada pada angka 75. Setelah mengikuti program edukasi, nilai rata-rata tersebut meningkat menjadi 94. Hasil analisis statistik juga menunjukkan bahwa peningkatan ini signifikan secara statistik dengan nilai p kurang dari 0,001.
Peningkatan pengetahuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stroke. Ketika masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai faktor risiko dan cara pencegahan, mereka cenderung lebih termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, metode penyampaian informasi juga berperan penting dalam keberhasilan edukasi kesehatan. Penggunaan media audiovisual seperti video dan presentasi dapat membantu masyarakat memahami materi dengan lebih mudah karena melibatkan lebih banyak indera dalam proses pembelajaran. Sementara itu, leaflet dapat menjadi media informasi yang praktis dan mudah dibaca kembali oleh masyarakat setelah kegiatan edukasi selesai.
Faktor usia dan tingkat pendidikan juga dapat memengaruhi keberhasilan edukasi kesehatan. Dalam penelitian ini, sebagian besar responden berada pada kelompok usia 51 hingga 60 tahun dan memiliki tingkat pendidikan SMA atau sarjana. Kondisi tersebut memungkinkan responden memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menerima dan memahami informasi yang diberikan.
Melihat hasil penelitian tersebut, edukasi gizi dapat menjadi strategi penting dalam upaya pencegahan stroke di masyarakat. Program edukasi yang dilakukan secara rutin di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko penyakit kronis.
Pada akhirnya, pencegahan stroke tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Dengan pengetahuan yang lebih baik mengenai pola hidup sehat dan gizi seimbang, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan dan mencegah risiko stroke sejak dini.
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/29545/pdf
Author: Muhammad Rafli Abdullah, Vivien Novarina Kasim, Jeane Novita Irene Abbas, Zuhriana Yusuf, Akbar Patuti
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran