
Gorontalo – Angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi dan menjadi persoalan serius yang mencerminkan ketimpangan akses layanan kesehatan, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan. Kondisi geografis yang sulit membuat banyak ibu hamil harus menempuh perjalanan lebih dari enam jam untuk mendapatkan layanan obstetri darurat, waktu yang sangat krusial dalam penyelamatan nyawa ibu dan bayi. Hal tersebut terungkap dalam kajian ilmiah berjudul Emergency Obstetric Care: Equity Interventions in Indonesia and Low- and Middle-Income Countries (LMICs) – A Comparative Analysis yang dilakukan oleh Taufiq Qurrohman, Maimun Ihsan, dan Zuhriana K. Yusuf dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo serta RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Gorontalo.
Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan Ibu
Penelitian ini menyoroti bahwa krisis kematian ibu di Indonesia bukan semata persoalan medis, melainkan masalah keadilan sosial. Di banyak daerah terpencil, keterbatasan jumlah dokter spesialis kebidanan dan kandungan, sistem rujukan yang belum optimal, serta biaya transportasi yang masih sulit dijangkau masyarakat menjadi hambatan utama, meskipun jaminan kesehatan nasional telah tersedia. Pandemi COVID-19 turut memperburuk situasi. Capaian penurunan angka kematian ibu yang sebelumnya menunjukkan tren positif justru mengalami kemunduran, sehingga menegaskan perlunya solusi inovatif dan lintas sektor.
Pendekatan Ilmiah dan Perbandingan Global
Dalam studi ini, para peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap berbagai publikasi ilmiah, laporan pemerintah, dan dokumen internasional periode 2019–2024. Analisis dilakukan dengan membandingkan berbagai intervensi yang diterapkan di Indonesia dan negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 72 persen komunitas terpencil di Indonesia belum memiliki akses layanan obstetri darurat dalam waktu ideal dua jam, batas waktu yang dianggap krusial untuk mencegah kematian ibu.
Inovasi yang Terbukti Efektif
Penelitian ini menemukan sejumlah pendekatan yang terbukti mampu meningkatkan akses dan keselamatan ibu melahirkan. Pemanfaatan pemetaan geografis dan sistem informasi geografis (GIS), misalnya, mampu mengidentifikasi wilayah tanpa layanan kesehatan atau care deserts. Pendekatan ini berhasil memangkas waktu tempuh hingga 40 persen di wilayah sasaran. Model pelayanan berbasis komunitas yang sensitif terhadap budaya lokal juga terbukti meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencari layanan kesehatan. Angka penolakan rujukan medis bahkan menurun hingga 27 persen. Di wilayah kepulauan, penggunaan transportasi darurat seperti ambulans air mampu mempercepat waktu rujukan rata-rata 36 menit dan secara langsung mencegah kematian akibat perdarahan pascamelahirkan. Selain itu, penguatan peran bidan melalui pelimpahan tugas tertentu serta pengiriman tim bedah keliling terbukti meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan hingga 28 persen dan menurunkan komplikasi serius.
Solusi Terpadu untuk Masa Depan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanganan krisis kematian ibu di Indonesia membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan kebijakan publik, teknologi, penguatan tenaga kesehatan, serta pembangunan infrastruktur. Integrasi antara perluasan jaminan kesehatan, pemetaan geografis, telemedisin, pemberdayaan tenaga kesehatan komunitas, dan sistem transportasi darurat dinilai mampu menurunkan angka kematian ibu hingga 77 persen, sebagaimana ditunjukkan di negara lain dengan karakteristik serupa. Pendekatan menyeluruh ini dinilai dapat menjadi cetak biru nasional dalam mewujudkan keadilan layanan kesehatan ibu serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di wilayah Indonesia yang paling rentan.
Source: https://www.canjsurg.ca/content/68/6_suppl_1/S16.abstract
Author: Taufiq Qurrohman, Maimun Ihsan, Zuhriana K. Yusuf
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran