Gelombang Panas dan Ancaman Diam-Diam bagi Jantung Manusia

Oleh: Jesica Mulyadi . 9 Januari 2026 . 01:07:46

Perubahan iklim tidak lagi sekadar isu lingkungan. Kenaikan suhu global yang memicu gelombang panas ekstrem kini menjelma menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia, terutama kesehatan jantung dan pembuluh darah. Salah satu kondisi paling berbahaya yang muncul akibat suhu ekstrem ini adalah heat stroke, penyakit yang dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian dalam waktu singkat. Sebuah kajian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa heat stroke bukan hanya masalah panas berlebih, tetapi merupakan krisis kardiovaskular akut yang dipicu oleh kombinasi suhu tinggi, peradangan sistemik, dan gangguan sirkulasi darah.

Panas Ekstrem, Risiko Kematian Ikut Naik

Analisis epidemiologis jangka panjang dalam penelitian ini mengungkap fakta mencemaskan: setiap kenaikan suhu lingkungan sebesar 1°C di atas ambang lokal meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 2,1 persen. Dampaknya tidak terjadi seketika, melainkan bisa muncul beberapa hari setelah paparan panas, membuatnya kerap luput dari perhatian. Fenomena ini menjelaskan mengapa gelombang panas di berbagai belahan dunia—mulai dari Amerika Utara, Eropa, hingga kawasan tropis—selalu diikuti lonjakan kasus serangan jantung mendadak, gangguan irama jantung, dan kolaps sirkulasi. Kelompok paling rentan adalah lansia, penderita penyakit jantung, pekerja luar ruang, serta masyarakat perkotaan yang tinggal di wilayah padat dan minim ruang hijau.

Saat Tubuh Gagal Mengatur Suhu

Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk mendinginkan diri, seperti berkeringat dan melebarkan pembuluh darah. Namun pada suhu ekstrem, sistem ini bisa kewalahan. Darah dialihkan ke kulit untuk melepas panas, sementara organ vital—termasuk jantung—kehilangan suplai optimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada fase awal heat stroke, jantung bekerja ekstra keras dalam kondisi sirkulasi “hiperaktif”. Namun dalam 24–48 jam, kondisi ini bisa berbalik drastis menjadi penurunan fungsi pompa jantung, tekanan darah anjlok, dan berujung pada kegagalan organ multipel. Inilah yang dikenal sebagai myocardial stunning, kondisi di mana otot jantung melemah akibat stres panas dan peradangan, meskipun sebelumnya tidak ada riwayat penyakit jantung.

Penanda Darah Mengungkap Bahaya Tersembunyi

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran biomarker jantung dan peradangan sebagai penanda bahaya dini. Lebih dari 70 persen pasien heat stroke menunjukkan peningkatan troponin, penanda kerusakan otot jantung, sementara lebih dari separuh mengalami peningkatan BNP, indikator gagal jantung. Selain itu, tingginya IL-6 dan D-dimer menandakan peradangan hebat dan gangguan pembekuan darah, yang sering kali mendahului kegagalan multi-organ. Dengan kata lain, heat stroke adalah badai biologis, bukan sekadar suhu tubuh tinggi.

Diagnosis Kerap Terlambat

Masalah besar lainnya adalah kesalahan diagnosis. Penelitian ini mencatat kasus heat stroke berat dengan suhu ketiak normal, padahal suhu inti tubuh melebihi 40°C. Hal ini terjadi karena kegagalan sirkulasi menyebabkan kulit justru terasa lebih dingin. Akibatnya, pasien terlambat mendapatkan pendinginan agresif—langkah paling krusial dalam menyelamatkan nyawa. Temuan ini menegaskan bahwa pengukuran suhu inti tubuh jauh lebih penting dibanding suhu permukaan dalam kondisi darurat panas.

Opini Ilmiah: Heat Stroke adalah Darurat Iklim Kesehatan

Kajian ini memperkuat pandangan bahwa perubahan iklim telah memasuki ruang gawat darurat rumah sakit. Heat stroke harus dipahami sebagai penyakit kardiovaskular akut yang dipicu lingkungan, bukan sekadar gangguan cuaca. Pendekatan penanganannya pun harus lintas sektor:

  1. sistem peringatan dini gelombang panas,
  2. perlindungan pekerja luar ruang,
  3. infrastruktur kota yang ramah iklim,
  4. kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dengan protokol pendinginan cepat dan pemantauan jantung.
  5. Tanpa adaptasi kebijakan kesehatan yang serius, beban penyakit jantung akibat panas ekstrem diprediksi akan meningkat tajam, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Menjaga Jantung di Tengah Iklim yang Memanas

Penelitian ini menyampaikan pesan yang sangat jelas: iklim yang memanas adalah ujian baru bagi ketahanan jantung manusia. Melindungi masyarakat dari dampak heat stroke tidak cukup dengan imbauan minum air atau berteduh, tetapi membutuhkan sistem kesehatan yang siap menghadapi krisis iklim. Karena pada akhirnya, perubahan iklim bukan hanya soal suhu bumi, tetapi tentang denyut jantung manusia yang kian terancam.

Source: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/9514/6476

Author: Nayla Prima Dyta, Ativa Muthia Diniyah, Andi Safa Natasya Lukman, Nadine Khaira Zahratunnisa Abdul, Fatmawati Adelia Pakaya, Sri Manovita Pateda

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran