
Gorontalo — Gempa bumi tidak pernah datang dengan peringatan. Di negara seperti Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan pertemuan tiga lempeng besar dunia—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—bencana ini bukan kemungkinan, melainkan keniscayaan. Dalam situasi tersebut, manajemen gempa menjadi pembeda antara selamat dan celaka. Materi Manajemen Gempa menegaskan bahwa gempa bumi merupakan getaran permukaan bumi akibat pergeseran lempeng tektonik atau aktivitas vulkanik. Dampaknya tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga memicu kebakaran, runtuhan, serta kepanikan massal yang sering kali berujung pada korban jiwa
Ironisnya, data dalam materi tersebut menunjukkan bahwa sekitar 60–70 persen cedera saat gempa bukan disebabkan oleh guncangan langsung, melainkan akibat benda jatuh dan kepanikan. Fakta ini menegaskan bahwa kurangnya pengetahuan dan kesiapsiagaan justru menjadi musuh paling berbahaya saat bencana terjadi.
Manajemen Gempa Dimulai dari Aktivitas Sehari-hariManajemen gempa tidak dimulai saat bumi bergetar, melainkan jauh sebelumnya. Di rumah, masyarakat didorong untuk merapikan barang berat di bagian bawah lemari, mengencangkan perabot ke dinding, menyiapkan tas siaga bencana, serta mengenali titik-titik aman di dalam rumah. Di lingkungan sekolah, kesiapsiagaan diwujudkan melalui pengenalan jalur evakuasi, titik kumpul, serta latihan simulasi secara berkala. Langkah ini bertujuan membentuk refleks keselamatan agar siswa dan guru tidak panik saat gempa terjadi
Detik Penentu Saat Gempa TerjadiKetika gempa berlangsung, materi tersebut menekankan satu prinsip utama: Drop–Cover–Hold On. Masyarakat diminta segera merunduk, melindungi kepala di bawah meja atau benda kokoh, dan berpegangan kuat hingga guncangan berhenti. Kesalahan fatal yang kerap terjadi adalah berlari keluar bangunan saat gempa masih berlangsung. Faktanya, banyak korban justru terjadi di area pintu akibat dorong-dorongan dan runtuhan. Bagi yang berada di luar ruangan, menjauh dari bangunan dan tiang listrik menjadi langkah penyelamatan paling aman
Pasca Gempa: Jangan Panik, Jangan CerobohSetelah guncangan berhenti, tantangan belum selesai. Gempa susulan masih mengintai. Masyarakat diimbau tetap tenang, berjalan tertib menuju titik aman, serta tidak kembali ke bangunan yang retak atau berpotensi roboh. Pelaporan korban cedera atau orang hilang menjadi bagian penting dalam upaya penyelamatan.
Materi manajemen gempa juga menekankan pentingnya kerja sama. Membentuk tim penyelamat sederhana, membantu evakuasi, dan memberikan pertolongan pertama dapat menyelamatkan nyawa sebelum bantuan profesional tiba.
Dari Bebat Tekan hingga Evakuasi KorbanPenanganan awal korban menjadi bagian krusial dalam manajemen gempa. Teknik bebat tekan digunakan untuk menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi, sementara bidai berfungsi menahan bagian tubuh yang patah agar tidak menimbulkan cedera lanjutan. Evakuasi korban dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari tenaga manusia tanpa alat hingga penggunaan tandu darurat. Teknik evakuasi satu, dua, atau tiga penolong diajarkan agar pemindahan korban dilakukan secara aman dan terkontrol.
Gempa Tak Bisa Dicegah, Korban Bisa DikurangiManajemen gempa menegaskan satu pesan utama: gempa memang tidak bisa diprediksi, tetapi kepanikan bisa dikendalikan dan korban bisa diminimalkan. Pengetahuan, latihan, dan kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan yang tidak bisa ditawar di negara rawan bencana seperti Indonesia. Dalam situasi darurat, setiap orang, meski bukan tenaga medis atau petugas kebencanaan—dapat menjadi penolong pertama. Ketika gempa datang tanpa aba-aba, kesiapan manusialah yang menentukan siapa yang selamat.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran