

Berat badan lahir bayi masih menjadi indikator penting dalam menilai kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)—yakni kurang dari 2.500 gram—memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, baik pada masa neonatal maupun saat tumbuh dewasa. Kondisi ini juga berkontribusi besar terhadap angka kematian bayi, terutama di negara berkembang. Sebuah penelitian berbasis komunitas yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pasean, Kabupaten Pamekasan, memberikan gambaran jelas bahwa kesehatan reproduksi ibu memiliki peran besar dalam menentukan berat badan lahir bayi. Temuan ini menegaskan bahwa upaya pencegahan BBLR harus dimulai jauh sebelum proses persalinan.
Satu dari Tujuh Bayi Lahir dengan Berat Rendah
Penelitian yang mengikuti 72 ibu hamil trimester ketiga hingga proses persalinan ini menemukan bahwa 15,3 persen bayi lahir dengan berat badan rendah. Angka ini sejalan dengan data nasional dan global yang menunjukkan bahwa BBLR masih menjadi persoalan nyata di tingkat pelayanan kesehatan primer. Meski mayoritas bayi lahir dengan berat normal, proporsi BBLR yang masih cukup tinggi menjadi sinyal bahwa faktor risiko selama kehamilan belum sepenuhnya teratasi.
Usia Ibu Terlalu Muda Masih Berisiko
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah tingginya risiko BBLR pada ibu yang hamil di usia kurang dari 20 tahun. Ibu dalam kelompok usia ini memiliki risiko lebih dari dua kali lipat melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu usia reproduksi sehat, yakni 20–34 tahun. Secara ilmiah, kehamilan pada usia remaja berisiko karena tubuh ibu masih dalam tahap pertumbuhan dan belum sepenuhnya siap secara biologis maupun nutrisi untuk menopang perkembangan janin. Akibatnya, pertumbuhan janin dapat terhambat dan berdampak pada berat badan lahir.
Jarak Kehamilan Terlalu Dekat, Cadangan Gizi Belum Pulih
Selain usia ibu, jarak kehamilan kurang dari 24 bulan juga terbukti meningkatkan risiko BBLR. Ibu dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat memiliki peluang hampir dua kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Fenomena ini dikenal sebagai maternal depletion, yaitu kondisi ketika tubuh ibu belum sempat memulihkan cadangan energi dan zat gizi setelah kehamilan sebelumnya. Jika kehamilan terjadi terlalu cepat, kebutuhan gizi janin tidak terpenuhi secara optimal.
Gizi Ibu, Faktor Paling Menentukan
Dari seluruh indikator kesehatan reproduksi yang diteliti, status gizi ibu muncul sebagai faktor paling dominan. Ibu hamil dengan status gizi kurang memiliki risiko lebih dari tiga kali lipat melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu dengan gizi normal. Kekurangan energi, protein, dan mikronutrien selama kehamilan dapat mengganggu fungsi plasenta dan menghambat pertumbuhan janin di dalam kandungan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pemenuhan gizi ibu—baik sebelum maupun selama kehamilan—merupakan investasi langsung bagi kesehatan bayi.
Peran Kunjungan Antenatal Tidak Bisa Diabaikan
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kunjungan antenatal care (ANC) yang tidak memadai meningkatkan risiko BBLR secara signifikan. Ibu yang jarang memeriksakan kehamilannya berisiko tidak terdeteksi mengalami masalah gizi, anemia, atau komplikasi lain yang berdampak pada pertumbuhan janin. ANC bukan sekadar pemeriksaan rutin, tetapi pintu masuk untuk edukasi gizi, perencanaan kehamilan sehat, serta deteksi dini risiko kehamilan.
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat
Temuan ini membawa pesan kuat bagi kebijakan kesehatan ibu dan anak. Upaya menurunkan angka BBLR tidak cukup hanya berfokus pada masa persalinan, tetapi harus dimulai sejak pra-kehamilan. Edukasi gizi remaja putri, pencegahan kehamilan usia dini, pengaturan jarak kelahiran, serta penguatan layanan ANC menjadi langkah strategis yang saling berkaitan. Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam memastikan ibu memasuki masa kehamilan dengan kondisi fisik dan gizi yang optimal.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa status gizi ibu, usia kehamilan yang terlalu muda, dan jarak kehamilan yang pendek merupakan faktor utama risiko berat badan lahir rendah. Di antara ketiganya, gizi ibu menjadi penentu paling kuat. BBLR bukan sekadar masalah bayi, melainkan cerminan kualitas kesehatan reproduksi perempuan. Dengan intervensi yang tepat sejak pra-kehamilan hingga masa antenatal, risiko BBLR dapat ditekan, sehingga generasi masa depan memiliki awal kehidupan yang lebih sehat dan kuat.
Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/34053/pdf
Author: Arkha Rosyaria Badrus, Miftahul Khairoh, Alief Ayu Purwitasari, Nurul Fathiyyah, Jesica Mulyadi
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran