

Gorontalo — Kebugaran fisik selama ini identik dengan latihan keras, disiplin, dan daya juang tinggi. Namun, penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa ada faktor biologis mendasar yang tak kalah penting: kadar hemoglobin dalam darah. Riset yang dipublikasikan dalam Jambura Journal of Health Science and Research menemukan bahwa individu dengan hemoglobin normal memiliki peluang hampir delapan kali lebih besar untuk mencapai kapasitas VO2 Max kategori baik dibandingkan mereka dengan hemoglobin abnormal (p = 0,018; OR = 7,93)
Penelitian dilakukan pada 32 anggota komunitas lari Binjas Kodim 1304 Kota Gorontalo yang menjalani latihan terstruktur sebagai persiapan seleksi kedinasan. Sebanyak 68,8% responden memiliki hemoglobin normal dan 62,5% berada pada kategori VO2 Max “good”. VO2 Max merupakan indikator utama kebugaran kardiorespirasi, mencerminkan kemampuan maksimal tubuh menggunakan oksigen saat aktivitas intens. Dalam konteks fisiologis, hemoglobin berperan mengangkut lebih dari 98 persen oksigen dalam darah ke jaringan otot. Tanpa kadar hemoglobin yang optimal, suplai oksigen akan terganggu dan performa aerobik menurun.
Lebih dari Sekadar Latihan
Temuan ini membuka diskusi lebih luas. Kebugaran bukan hanya soal seberapa sering seseorang berlatih, tetapi juga tentang kualitas fisiologis tubuhnya. Dalam banyak kasus, kegagalan mencapai standar kebugaran bukan semata karena kurang latihan, melainkan karena kondisi biologis yang tidak optimal. Di Indonesia, anemia pada remaja masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Jika hemoglobin rendah berdampak langsung terhadap kapasitas aerobik, maka isu anemia tidak lagi sekadar persoalan medis, melainkan juga menyangkut produktivitas dan daya saing generasi muda. Seleksi kedinasan, TNI, dan kepolisian menuntut standar kebugaran tinggi. Tanpa skrining hemoglobin dan intervensi gizi yang tepat, banyak calon peserta berpotensi tidak mencapai performa maksimal meskipun menjalani latihan rutin.
Fondasi Kebugaran Nasional
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas responden yang rutin berlatih 3–5 kali per minggu dan memiliki IMT normal cenderung memiliki hemoglobin stabil serta VO2 Max yang baik. Artinya, kombinasi latihan terstruktur, status gizi, dan kondisi hematologis menjadi fondasi kebugaran yang kuat. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah sampel yang relatif kecil, sehingga diperlukan studi lanjutan dengan populasi lebih luas untuk memperkuat generalisasi hasil. Meski begitu, pesan yang disampaikan cukup jelas: menjaga hemoglobin tetap normal adalah bagian integral dari strategi pembinaan kebugaran. Jika Indonesia ingin membangun generasi muda yang sehat, produktif, dan kompetitif, perhatian terhadap status gizi dan kesehatan darah harus berjalan seiring dengan program latihan fisik.
Pada akhirnya, kebugaran tidak hanya dibangun di lapangan latihan, tetapi juga di dalam aliran darah.
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/article/view/36129/pdf
Authors: Wahyu Saputra, Sri Manovita Pateda, Jufri Febriyanto Poetra, Yuniarti Antu, Muchtar Nora Ismail Siregar
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran