Hernia yang Diabaikan Bisa Berujung Fatal: Kisah Pasien 59 Tahun Jadi Pengingat Pentingnya Penanganan Dini

Oleh: Jesica Mulyadi . 15 April 2026 . 17:11:46

Sebuah kasus medis terbaru kembali menegaskan bahwa penyakit yang tampak “ringan” jika diabaikan dapat berubah menjadi kondisi yang mengancam nyawa. Hal ini tergambar dari laporan kasus seorang pria berusia 59 tahun yang mengalami komplikasi serius akibat hernia yang tidak ditangani selama dua tahun. Hernia inguinal, atau yang dikenal sebagai “turun berok”, sebenarnya merupakan kondisi yang cukup umum dan biasanya dapat ditangani dengan operasi sederhana. Namun, dalam kasus ini, keterlambatan penanganan membuat kondisi pasien berkembang menjadi hernia strangulata, yakni keadaan darurat ketika usus terjepit dan aliran darahnya terganggu .

Dari Keluhan Ringan Menjadi Darurat Medis

Pasien awalnya hanya merasakan benjolan di area selangkangan yang bisa keluar-masuk dan tidak menimbulkan nyeri. Karena dianggap tidak berbahaya, ia tidak mencari pengobatan. Namun, setelah dua tahun, kondisi berubah drastis. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri hebat mendadak di skrotum, disertai perut kembung dan tidak bisa buang air besar. Pemeriksaan menunjukkan bahwa hernia tersebut sudah tidak bisa dimasukkan kembali dan menyebabkan sumbatan usus . Dokter menemukan tanda-tanda serius seperti denyut jantung cepat, tekanan darah tinggi, serta gangguan pernapasan ringan—indikasi bahwa tubuh sedang mengalami stres berat akibat kondisi tersebut.

Operasi Darurat Selamatkan Nyawa

Tim medis segera melakukan operasi darurat. Saat pembedahan, ditemukan bagian usus yang terjepit dalam kondisi membengkak dan berwarna gelap akibat kekurangan aliran darah. Kondisi ini berisiko berkembang menjadi kematian jaringan (nekrosis) jika tidak segera ditangani. Beruntung, setelah dilakukan tindakan medis untuk melepaskan perlekatan jaringan (adhesi), usus pasien masih bisa diselamatkan tanpa perlu pemotongan. Operasi kemudian dilanjutkan dengan pemasangan jaring (mesh) untuk memperkuat dinding otot dan mencegah kekambuhan. Pasien menjalani pemulihan dengan baik dan diperbolehkan pulang beberapa hari kemudian tanpa komplikasi berarti.

Faktor Sosial Jadi Penyebab Keterlambatan

Kasus ini juga menyoroti bahwa keterlambatan pengobatan bukan semata-mata karena kelalaian, tetapi sering dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi. Pasien diketahui bekerja sebagai pedagang pasar, sehingga kekhawatiran kehilangan penghasilan, biaya pengobatan, serta keterbatasan akses layanan kesehatan menjadi alasan utama menunda operasi .

Pentingnya Deteksi dan Penanganan Dini

Para ahli menegaskan bahwa hernia yang ditangani lebih awal memiliki risiko komplikasi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan jika sudah menjadi darurat. Operasi elektif (terencana) jauh lebih aman dibandingkan operasi darurat yang memiliki risiko komplikasi hingga berkali-kali lipat lebih tinggi, terutama pada pasien usia lanjut. Selain itu, hernia yang dibiarkan terlalu lama dapat menyebabkan perlengketan jaringan, sehingga operasi menjadi lebih sulit dan berisiko.

Edukasi Masyarakat Jadi Kunci

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal, sekecil apa pun. Edukasi mengenai tanda-tanda hernia, akses layanan kesehatan yang terjangkau, serta dukungan bagi pekerja sektor informal dinilai sangat penting untuk mencegah kasus serupa.

Kesimpulannya, hernia bukanlah penyakit yang bisa dianggap sepele. Penanganan dini tidak hanya mencegah komplikasi serius, tetapi juga menyelamatkan nyawa.

Author: Aldhi Tri Budhi, Febi Iswandi Suarno Tabi, Taufiq Qurrohman

Sources: https://assets.cureus.com/uploads/case_report/pdf/402879/20250917-46457-resf3e.pdf

#FKUNG

#Kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran