Di tengah perhatian publik terhadap penyakit menular besar seperti HIV, tuberkulosis, dan COVID-19, ada satu infeksi yang kerap luput dari sorotan, namun dampaknya nyata dan meluas: herpes genital. Penyakit ini disebabkan oleh herpes simpleks virus tipe 2 (HSV-2) dan bersifat seumur hidup. Herpes genital bukan sekadar persoalan luka di area intim. Ia adalah masalah kesehatan masyarakat yang menyentuh aspek medis, psikologis, sosial, bahkan ekonomi—terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Penyakit Seumur Hidup yang Kerap Tak Terdeteksi
HSV-2 menetap di dalam tubuh manusia seumur hidup. Setelah infeksi awal, virus dapat “tidur” dan aktif kembali sewaktu-waktu, memicu luka berulang. Masalahnya, di banyak daerah, terutama dengan keterbatasan fasilitas kesehatan, penyakit ini sering kali tidak terdiagnosis secara pasti. Kajian ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Cureus tahun 2025 menggambarkan secara jelas tantangan tersebut. Seorang pria muda dengan luka genital khas herpes harus didiagnosis hanya berdasarkan pemeriksaan klinis karena fasilitas pemeriksaan lanjutan seperti PCR dan tes serologi tidak tersedia. Ini bukan kasus tunggal, melainkan gambaran umum layanan kesehatan di banyak wilayah Indonesia. Ketika diagnosis hanya mengandalkan “mata dan pengalaman”, risiko salah diagnosis meningkat, begitu pula risiko penularan yang tidak terkendali.
Bukan Sekadar Penyakit Kulit
Herpes genital sering dipersepsikan sebagai penyakit ringan. Padahal, secara ilmiah, HSV-2 terbukti meningkatkan risiko penularan HIV hingga beberapa kali lipat. Artinya, mengabaikan herpes genital sama dengan membuka celah baru bagi epidemi HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Selain itu, dampak psikologisnya tidak bisa diremehkan. Banyak penderita mengalami kecemasan, rasa bersalah, stigma sosial, hingga gangguan kualitas hidup. Luka mungkin sembuh dalam dua minggu, tetapi beban mental bisa bertahan jauh lebih lama. Di masyarakat yang masih menganggap penyakit menular seksual sebagai aib, penderita sering memilih diam dan menunda pengobatan. Siklus inilah yang membuat herpes genital tetap menjadi “penyakit sunyi”.
Akses Obat dan Edukasi Masih Jadi PR Besar
Secara medis, herpes genital dapat dikendalikan. Obat antivirus seperti acyclovir terbukti efektif mempercepat penyembuhan dan menurunkan risiko kekambuhan. Namun, efektivitas terapi sangat bergantung pada akses obat, edukasi pasien, dan deteksi dini. Di lapangan, tidak semua fasilitas kesehatan memiliki ketersediaan obat antivirus yang memadai. Edukasi tentang hubungan seksual aman, penggunaan kondom, serta pentingnya keterbukaan dengan pasangan juga masih minim. Tanpa pendekatan komprehensif, pengobatan hanya akan bersifat reaktif—mengobati luka, bukan menghentikan penularan.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Herpes genital tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan individu semata. Ia adalah indikator ketimpangan layanan kesehatan, keterbatasan sistem diagnosis, dan lemahnya edukasi kesehatan seksual.
Indonesia membutuhkan:
Herpes mungkin tidak selalu mematikan, tetapi mengabaikannya adalah kesalahan serius dalam kebijakan kesehatan masyarakat.
Source: https://assets.cureus.com/uploads/case_report/pdf/409012/20251130-58760-45ah2k.pdf
Author: Rachma O. Maksud , Nurul Rahma Putri P. Antuke , Taufiq Qurrohman
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran