Selama ini banyak orang menganggap hipertensi atau tekanan darah tinggi sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Gambaran yang muncul biasanya adalah orang tua dengan pola hidup kurang sehat, stres berkepanjangan, atau riwayat penyakit kronis. Namun, kenyataannya, hipertensi kini tidak lagi mengenal usia. Bahkan, remaja pun semakin banyak yang mengalaminya. Temuan ini menjadi peringatan penting dari penelitian terbaru yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan: 47,3% remaja yang diteliti teridentifikasi mengalami hipertensi. Artinya, hampir 1 dari 2 remaja memiliki tekanan darah di atas batas normal. Angka ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Angka tersebut memberi pesan besar bahwa hipertensi bukan lagi persoalan masa depan, melainkan masalah yang sudah hadir di kalangan generasi muda saat ini.
Lalu, mengapa remaja bisa mengalami hipertensi? Banyak orang mengira tekanan darah tinggi hanya dipicu oleh usia. Padahal, tekanan darah dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, gaya hidup, dan kebiasaan sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa riwayat keluarga, obesitas, pola makan buruk, kurangnya aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, kualitas tidur yang buruk, hingga minimnya akses terhadap layanan kesehatan semuanya berperan penting dalam meningkatkan risiko hipertensi pada remaja. Dengan kata lain, hipertensi pada remaja tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan melalui kebiasaan yang sering dianggap biasa. Misalnya, sarapan dengan makanan tinggi garam, terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, kurang olahraga karena terlalu lama duduk di depan layar, begadang setiap malam, hingga paparan rokok dan alkohol dalam lingkungan sosial.
Kita hidup di era digital, di mana aktivitas fisik remaja menurun drastis. Banyak waktu dihabiskan untuk bermain gim, media sosial, atau menonton video berjam-jam. Di sisi lain, makanan instan semakin mudah diakses dan sering menjadi pilihan utama karena praktis dan murah. Kombinasi gaya hidup sedentari dan pola makan buruk inilah yang perlahan meningkatkan risiko hipertensi sejak usia muda. Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa remaja laki-laki lebih banyak mengalami hipertensi dibandingkan dengan perempuan. Faktor biologis seperti pengaruh hormon serta kecenderungan perilaku berisiko, termasuk merokok dan konsumsi makanan tinggi natrium, diduga menjadi penyebab utamanya.
Namun, penelitian ini tidak hanya menyoroti faktor risiko individu. Ada satu temuan yang sangat penting: peran tenaga kesehatan menjadi faktor paling dominan dalam menurunkan risiko hipertensi pada remaja. Artinya, edukasi kesehatan, konseling, pemeriksaan tekanan darah rutin, dan keterlibatan aktif petugas kesehatan terbukti sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku hidup sehat pada remaja. Remaja yang mendapatkan pendampingan dari tenaga kesehatan memiliki risiko hipertensi yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang minimnya paparan edukasi kesehatan. Temuan ini memberikan pelajaran penting: pencegahan hipertensi tidak bisa dibebankan hanya kepada individu atau keluarga.
Sekolah, puskesmas, tenaga kesehatan, bahkan teman sebaya memiliki peran besar dalam membangun budaya hidup sehat. Ketika lingkungan mendukung pola makan sehat, aktivitas fisik, dan literasi kesehatan yang baik, risiko hipertensi dapat ditekan secara signifikan. Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa hipertensi pada remaja sering tidak menimbulkan gejala apa pun. Banyak anak muda merasa sehat-sehat saja, padahal tekanan darahnya sudah tinggi. Karena tidak menimbulkan keluhan, hipertensi kerap dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh senyap.
Jika kondisi ini dibiarkan bertahun-tahun, dampaknya bisa sangat serius. Tekanan darah tinggi sejak remaja dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga komplikasi metabolik di usia produktif. Inilah alasan mengapa skrining tekanan darah sejak usia remaja menjadi semakin penting. Mengukur tekanan darah bukan hanya untuk orang tua. Pemeriksaan sederhana yang memakan waktu beberapa menit ini bisa menjadi langkah awal mendeteksi masalah besar sebelum terlambat.
Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa investasi kesehatan generasi muda tidak cukup hanya dengan mengobati ketika sakit. Kita perlu membangun budaya pencegahan sejak dini. Pada akhirnya, hipertensi pada remaja mengajarkan satu hal penting: masa muda bukan jaminan bebas penyakit. Tubuh tetap merekam setiap kebiasaan, baik maupun buruk. Apa yang dilakukan hari ini, apa yang dimakan, seberapa aktif bergerak, bagaimana pola tidur, dan bagaimana lingkungan sosial terbentuk akan menentukan kesehatan di masa depan. Karena itu, menjaga tekanan darah bukan hanya urusan orang tua. Ini adalah tanggung jawab kita semua untuk memastikan generasi muda tumbuh sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan.
Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2440/1265Author: Noval Y. DJ. Polapa, Muhammad Isman Jusuf, Chairunnisah J. Lamangantjo, Vivien Novarina A. Kasim#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran