Indeks Massa Tubuh dan Kebugaran: Mengapa Mahasiswa Perlu Lebih Aktif Bergerak?

Oleh: Jesica Mulyadi . 5 Maret 2026 . 12:03:15

Di tengah kesibukan dunia perkuliahan, mahasiswa sering kali dihadapkan pada jadwal akademik yang padat. Tugas kuliah, praktikum, kegiatan organisasi, hingga aktivitas belajar yang panjang membuat banyak mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di kelas atau di depan laptop. Tanpa disadari, pola hidup seperti ini dapat memengaruhi kondisi kesehatan, terutama tingkat kebugaran tubuh. Salah satu indikator sederhana yang sering digunakan untuk menilai kondisi tubuh adalah Indeks Massa Tubuh (IMT).

Indeks Massa Tubuh merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui status gizi seseorang dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan. Melalui perhitungan IMT, seseorang dapat mengetahui apakah berat badannya termasuk dalam kategori kurus, normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. Meskipun metode ini tidak dapat mengukur kadar lemak tubuh secara langsung, IMT tetap menjadi indikator yang praktis dan banyak digunakan dalam bidang kesehatan untuk menilai kondisi tubuh seseorang.

Dalam konteks kesehatan mahasiswa, IMT memiliki hubungan erat dengan tingkat kebugaran tubuh. Kebugaran sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan. Seseorang yang memiliki tingkat kebugaran yang baik biasanya memiliki keseimbangan antara kekuatan otot, daya tahan tubuh, serta sistem kardiorespirasi yang optimal.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mencoba melihat hubungan antara IMT dan tingkat kebugaran mahasiswa. Penelitian tersebut melibatkan 101 mahasiswa dari angkatan 2023 dan 2024 dengan menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Tingkat kebugaran mahasiswa diukur menggunakan Harvard Step Test, sedangkan status gizi dinilai melalui perhitungan Indeks Massa Tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki IMT dalam kategori normal. Data pada tabel distribusi responden di penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar 57,4 persen mahasiswa memiliki IMT normal, sementara sebagian lainnya berada pada kategori kurus, kelebihan berat badan, dan obesitas. Temuan ini menggambarkan bahwa meskipun mayoritas mahasiswa memiliki status gizi yang baik, masih terdapat kelompok mahasiswa yang perlu memperhatikan keseimbangan berat badan mereka.

Sementara itu, tingkat kebugaran mahasiswa menunjukkan hasil yang cukup beragam. Berdasarkan hasil pengukuran kebugaran pada penelitian tersebut, sekitar 59,4 persen mahasiswa memiliki tingkat kebugaran dalam kategori cukup, sementara sebagian lainnya berada pada kategori kurang dan kurang sekali. Menariknya, tidak ada mahasiswa yang berada pada kategori kebugaran sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang belum memiliki tingkat kebugaran optimal.

Analisis statistik pada penelitian tersebut menemukan adanya hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh dan tingkat kebugaran mahasiswa. Nilai korelasi yang diperoleh sebesar -0,526, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai IMT seseorang, tingkat kebugarannya cenderung menurun. Dengan kata lain, mahasiswa yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas cenderung memiliki tingkat kebugaran yang lebih rendah dibandingkan mahasiswa dengan IMT normal.

Temuan ini dapat dijelaskan dari sisi fisiologi tubuh. Peningkatan berat badan yang disebabkan oleh penumpukan lemak dapat memengaruhi kerja sistem kardiorespirasi. Ketika jumlah lemak dalam tubuh meningkat, pembuluh darah dapat mengalami penyempitan sehingga jantung dan paru-paru harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang lebih cepat merasa lelah ketika melakukan aktivitas fisik.

Selain itu, gaya hidup sedentari atau pola hidup yang minim aktivitas fisik juga menjadi salah satu penyebab menurunnya kebugaran pada mahasiswa. Perkembangan teknologi dan tuntutan akademik membuat banyak mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas duduk, seperti belajar di depan komputer atau menggunakan gawai. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik, maka risiko berbagai penyakit seperti obesitas, penyakit jantung, dan diabetes dapat meningkat.

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan aktivitas fisik menjadi hal yang sangat penting bagi mahasiswa. Olahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan latihan fisik secara rutin dapat membantu menjaga berat badan tetap ideal serta meningkatkan kebugaran tubuh.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang tidak adanya penyakit, tetapi juga tentang kemampuan tubuh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. Dengan menjaga Indeks Massa Tubuh yang seimbang dan membiasakan diri untuk aktif bergerak, mahasiswa tidak hanya dapat meningkatkan kebugaran fisik mereka, tetapi juga mendukung produktivitas dan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/29769/pdf

Author: Ganesha Aulia Abdul Muis, Vivien Novarina Kasim, Jufri Febriyanto Poetra, Sri Andriani Ibrahim, Muhammad Isman Jusuf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran