Inovasi Sunspray dari Serai dan Kemangi: Perlindungan Ganda dari Sinar Matahari dan Nyamuk DBD

Oleh: Jesica Mulyadi . 1 Desember 2025 . 11:08:20

Paparan sinar matahari merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan—terutama pada pukul 10.00 hingga 16.00—dapat berdampak buruk bagi kesehatan kulit, mulai dari kulit terbakar, penuaan dini, hingga meningkatkan risiko kanker kulit. Di sisi lain, pada waktu yang sama, nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab demam berdarah dengue (DBD) juga aktif menggigit manusia. Kondisi ini menempatkan masyarakat pada risiko ganda: terpapar radiasi UV berlebih sekaligus ancaman gigitan nyamuk DBD. Menjawab tantangan tersebut, peneliti dari Gorontalo mengembangkan sebuah inovasi berbasis bahan alam lokal, yakni Citracanum Sunspray, semprotan tabir surya tubuh berbahan dasar serai dan kemangi.

Mengapa Serai dan Kemangi?Serai (Cymbopogon citratus) dan kemangi (Ocimum canum) dikenal luas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Di balik penggunaannya sebagai bumbu dapur dan tanaman herbal, kedua tanaman ini mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri yang memiliki sifat antioksidan, penyerap sinar UV, serta penolak nyamuk alami. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi serai dan kemangi mampu memberikan efek sinergis, baik dalam meningkatkan perlindungan terhadap radiasi UV maupun dalam mengusir nyamuk. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan menjadi sediaan tabir surya berbentuk spray, yang dinilai lebih praktis dan mudah diaplikasikan saat beraktivitas di luar ruangan.

Dikembangkan dan Diuji Secara IlmiahCitracanum Sunspray dikembangkan melalui penelitian eksperimental laboratorium. Ekstrak kemangi diperoleh dengan metode maserasi, sementara minyak atsiri serai diekstraksi menggunakan destilasi uap-air. Kedua bahan tersebut kemudian diformulasikan ke dalam tiga variasi konsentrasi untuk menentukan formula terbaik. Produk yang dihasilkan diuji secara menyeluruh, meliputi uji tampilan (organoleptik), homogenitas, pH, viskositas, nilai Sun Protection Factor (SPF), serta aktivitas repellent terhadap nyamuk. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh formula aman digunakan pada kulit dan memenuhi standar pH yang sesuai.

Perlindungan UV dan Aktivitas Anti-NyamukDari hasil pengujian, formula dengan konsentrasi tertinggi menunjukkan kinerja terbaik. Formula ini memiliki nilai SPF 10,41, yang tergolong perlindungan maksimal untuk aktivitas luar ruangan ringan. Selain itu, uji repellent menunjukkan bahwa area kulit yang disemprot Citracanum Sunspray secara signifikan lebih sedikit dihinggapi nyamuk dibandingkan kulit tanpa perlindungan. Artinya, satu produk ini mampu memberikan perlindungan ganda—melindungi kulit dari paparan sinar matahari sekaligus mengurangi risiko gigitan nyamuk penyebab DBD.

Relevan untuk Kondisi Gorontalo dan IndonesiaProvinsi Gorontalo tercatat memiliki angka kejadian DBD yang tinggi, sekaligus intensitas penyinaran matahari yang cukup besar. Inovasi berbasis bahan lokal seperti Citracanum Sunspray menjadi sangat relevan sebagai solusi kontekstual yang memadukan aspek kesehatan, lingkungan, dan kearifan lokal. Selain itu, penggunaan bahan alami menjadikan produk ini lebih ramah lingkungan dan berpotensi dikembangkan sebagai produk inovasi daerah yang bernilai ekonomis.

Potensi Pengembangan ke DepanMeski nilai SPF Citracanum Sunspray masih lebih rendah dibandingkan produk komersial dengan SPF tinggi, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar untuk pengembangan lanjutan. Optimalisasi konsentrasi bahan aktif atau kombinasi dengan senyawa alami lainnya diharapkan dapat meningkatkan daya proteksi produk di masa mendatang. Inovasi ini membuktikan bahwa bahan alam lokal dapat menjadi solusi ilmiah bagi permasalahan kesehatan masyarakat, sekaligus membuka peluang pengembangan produk berbasis riset di tingkat nasional.

PenutupCitracanum Sunspray merupakan contoh nyata bagaimana penelitian ilmiah dapat menghadirkan solusi praktis bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan serai dan kemangi, produk ini menawarkan perlindungan kulit dari sinar UV sekaligus membantu mencegah gigitan nyamuk DBD. Inovasi ini tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Author: Mohamad Fajar Rivai, Sitty Nurqomariah Rivai, dan Putriani Bua 

Sources: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/gjec/article/view/29329

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran