Jantung Atlet Bisa Tampak Sehat, Tapi Risiko Tetap Ada

Oleh: Jesica Mulyadi . 19 Januari 2026 . 01:22:41

Atlet kerap dianggap sebagai simbol kebugaran dan kesehatan fisik. Tubuh kuat, stamina prima, dan latihan rutin sering diasosiasikan dengan jantung yang sehat. Namun, sebuah penelitian di Provinsi Gorontalo mengingatkan bahwa bahkan atlet yang tampak bugar pun tetap berisiko mengalami gangguan jantung yang tidak bergejala. Melalui pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dengan standar internasional, penelitian ini menegaskan bahwa deteksi dini kesehatan jantung atlet adalah langkah krusial untuk mencegah kematian jantung mendadak di lapangan olahraga.

Mayoritas Normal, Tapi Tidak Semua Aman

Penelitian yang melibatkan 80 atlet aktif di bawah naungan KONI Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa 90 persen atlet memiliki hasil EKG normal. Temuan ini menandakan bahwa sebagian besar atlet memiliki adaptasi jantung yang baik terhadap latihan fisik intens. Namun demikian, 6,3 persen atlet menunjukkan hasil EKG abnormal, dan 3,7 persen berada pada kategori borderline, yakni kondisi yang belum sepenuhnya normal namun juga belum dapat dikategorikan sebagai kelainan pasti. Kelompok kecil inilah yang menjadi perhatian utama, karena gangguan jantung sering kali tidak menimbulkan gejala sebelum terjadi kejadian fatal.

Olahraga Daya Tahan Paling Berisiko

Jika ditinjau berdasarkan jenis olahraga, atlet cabang olahraga daya tahan seperti sepak bola dan lari jarak jauh menunjukkan proporsi gangguan EKG paling tinggi. Aktivitas fisik dengan beban volume tinggi dan durasi panjang menyebabkan jantung bekerja ekstra keras, sehingga berisiko memicu perubahan struktural dan listrik jantung. Sebaliknya, atlet olahraga kekuatan seperti angkat besi dan bela diri, serta olahraga konsentrasi seperti catur dan e-sports, hampir seluruhnya menunjukkan hasil EKG normal. Perbedaan ini menegaskan bahwa jenis olahraga sangat memengaruhi risiko kardiovaskular atlet.

Atlet Usia Produktif Justru Lebih Rentan

Temuan menarik lainnya adalah bahwa gangguan EKG lebih banyak ditemukan pada atlet usia produktif 19–34 tahun, dibandingkan atlet usia remaja maupun atlet yang lebih tua. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan akumulasi beban latihan intensif dalam jangka panjang. Sementara itu, atlet usia di atas 35 tahun dalam penelitian ini seluruhnya menunjukkan hasil EKG normal. Peneliti menduga, atlet yang bertahan hingga usia tersebut biasanya telah melalui seleksi alam, di mana hanya mereka dengan kondisi jantung yang baik yang mampu terus aktif berolahraga.

Laki-laki Lebih Berisiko

Penelitian ini juga menemukan bahwa atlet laki-laki lebih sering menunjukkan hasil EKG abnormal atau borderline dibandingkan atlet perempuan. Faktor hormonal, massa otot jantung yang lebih besar, serta intensitas latihan yang cenderung lebih tinggi menjadi penyebab yang paling mungkin. Meski jumlah atlet perempuan lebih sedikit dalam penelitian ini, mayoritas dari mereka menunjukkan kondisi jantung yang normal, menegaskan pentingnya pendekatan skrining yang mempertimbangkan jenis kelamin dan beban latihan.

Opini Ilmiah: Skrining Jantung Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan

Hasil penelitian ini memperkuat satu pesan penting: pemeriksaan EKG rutin bagi atlet bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan medis yang dapat menyelamatkan nyawa. Kematian jantung mendadak pada atlet sering kali terjadi tanpa peringatan, dan EKG adalah salah satu alat paling efektif untuk mendeteksi risiko sejak dini. Pendekatan skrining berbasis standar internasional membantu membedakan antara adaptasi jantung normal akibat latihan (athlete’s heart) dan kelainan jantung yang berpotensi berbahaya. Tanpa skrining yang tepat, keduanya dapat tampak serupa secara kasat mata.

Melindungi Prestasi dengan Ilmu Pengetahuan

Olahraga prestasi tidak hanya soal latihan keras dan strategi bertanding, tetapi juga soal perlindungan kesehatan jangka panjang atlet. Pemeriksaan jantung rutin seharusnya menjadi bagian dari sistem pembinaan olahraga nasional, terutama bagi atlet cabang daya tahan. Penelitian ini menegaskan bahwa jantung atlet memang kuat, tetapi tidak kebal risiko. Dengan skrining yang tepat, olahraga tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga menjamin keselamatan mereka yang mengharumkan nama daerah dan bangsa.

Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/30190/pdf

Author: Livia Nooradliah, Muhammad Isman Jusuf, Sri Manovita Pateda, Jufri Febriyanto Poetra, Ucok Hasian Refiater, Muchtar Nora Ismail Siregar

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran