Junk food kini bukan lagi sekadar jajanan selingan, tetapi telah menguasai pola makan anak sekolah dasar di Gorontalo. Temuan ini terungkap dalam penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang memotret kebiasaan makan siswa SD dan menemukan bahwa lingkungan sekitar anak justru mendorong konsumsi makanan tidak sehat sejak usia dini.
Penelitian yang melibatkan 107 siswa kelas V dan VI di Kabupaten Gorontalo menunjukkan fakta mengkhawatirkan: hampir 4 dari 10 anak berada pada kategori konsumsi junk food tinggi. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa pola makan sehat pada anak mulai tergeser oleh makanan instan tinggi gula, garam, dan lemak. Yang paling mencolok, kemudahan akses menjadi faktor paling berbahaya. Anak yang mudah menemukan junk food, terutama di sekitar sekolah, memiliki risiko lebih dari 20 kali lipat untuk rutin mengonsumsinya. Harga murah, rasa gurih dan manis, serta kemasan warna-warni membuat junk food jauh lebih menarik dibandingkan makanan sehat. Tak berhenti di situ, teman sebaya dan iklan ikut memperparah situasi. Anak cenderung meniru pilihan makan temannya agar tidak tersisih dalam pergaulan. Sementara iklan dan kemasan dengan desain mencolok terus “menyerang” perhatian anak, mendorong mereka memilih makanan berdasarkan tampilan dan rasa, bukan kandungan gizi.
Penelitian ini juga menyoroti peran keluarga yang masih lemah dalam membentengi anak dari pola makan tidak sehat. Minimnya edukasi gizi di rumah dan sekolah membuat anak tidak memahami dampak jangka panjang junk food. Akibatnya, keputusan makan anak sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan dan selera sesaat.
Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi memicu bom waktu kesehatan. Konsumsi junk food sejak usia SD dikaitkan dengan risiko obesitas, gangguan gizi, dan penyakit metabolik yang dapat muncul lebih awal. Peneliti menilai, kebiasaan makan buruk yang terbentuk sejak kecil akan sulit dikoreksi di kemudian hari. Tim peneliti UNG menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dibebankan hanya pada anak. Sekolah diminta memperketat pengawasan jajanan, pemerintah daerah didorong menata ulang lingkungan pangan di sekitar sekolah, dan orang tua harus lebih aktif menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini.
Penelitian ini menjadi peringatan keras bahwa tanpa intervensi serius dan kolaborasi semua pihak, generasi anak sekolah berisiko tumbuh dengan pola makan buruk yang berdampak panjang pada kualitas kesehatan masyarakat di masa depan.
Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2365
Author: Tyas Pratiwi Manaf, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim
#kedokteranung #FKUNGgul #bahayajunkfood
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran