Junk Food Jadi Pilihan Utama Anak SD, Riset Ungkap Akses Mudah dan Minim Edukasi Jadi Pemicu

Oleh: Jesica Mulyadi . 28 Desember 2025 . 00:08:20

GORONTALO – Konsumsi junk food di kalangan anak sekolah dasar kian mengkhawatirkan. Penelitian terbaru di Kabupaten Gorontalo mengungkap bahwa makanan cepat saji telah menjadi bagian dari pola makan harian siswa, dipengaruhi oleh kemudahan akses, lingkungan sosial, dan rendahnya edukasi gizi. Temuan tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Promotif Preventif edisi Desember 2025 oleh tim peneliti dari Program Pascasarjana Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian ini melibatkan 107 siswa kelas V dan VI di SDN 7 dan SDN 8 Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, menggunakan pendekatan cross-sectional

Hampir 40 Persen Siswa Konsumsi Junk Food TinggiHasil penelitian menunjukkan bahwa 39,25 persen siswa berada pada kategori konsumsi junk food tinggi, sementara sisanya berada pada kategori sedang dan rendah. Data ini menegaskan bahwa junk food bukan lagi konsumsi sesekali, melainkan sudah menjadi kebiasaan pada sebagian besar anak usia sekolah. Jenis junk food yang umum dikonsumsi antara lain mi instan, makanan ringan kemasan, minuman manis, dan jajanan tinggi gula serta lemak yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan sekolah.

Banyak Faktor Berperan, Akses Jadi Penentu UtamaAnalisis bivariat menunjukkan bahwa seluruh faktor yang diteliti—mulai dari teman sebaya, paparan iklan, kondisi ekonomi, kebiasaan keluarga, kemudahan akses, harga, kurangnya edukasi gizi, hingga preferensi rasa dan kemasan—memiliki hubungan signifikan dengan perilaku konsumsi junk food (p < 0,001). Namun, analisis lanjutan mengungkap bahwa kemudahan akses junk food menjadi faktor paling berisiko, dengan peluang 20 kali lebih besar mendorong anak mengonsumsi junk food dibandingkan mereka yang aksesnya terbatas. Lingkungan sekolah yang dipenuhi penjual jajanan cepat saji dinilai memperkuat kebiasaan tersebut.

Rasa dan Kemasan Menipu Pilihan AnakSelain akses, rasa gurih dan kemasan menarik juga memainkan peran penting. Anak-anak cenderung memilih makanan dengan kemasan warna-warni, karakter lucu, serta rasa yang kuat, tanpa mempertimbangkan kandungan gizinya. Preferensi ini diperkuat oleh iklan dan promosi sederhana yang mudah menarik perhatian anak. Peneliti mencatat bahwa strategi pemasaran makanan cepat saji secara tidak langsung membentuk kebiasaan makan anak sejak dini.

Edukasi Gizi Jadi Kunci PencegahanMenariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa kurangnya edukasi gizi merupakan faktor dominan dari sisi internal anak. Anak yang tidak mendapatkan pemahaman cukup tentang makanan sehat cenderung lebih mudah terpengaruh lingkungan dan iklan. “Tanpa edukasi yang kuat, anak sulit membedakan mana makanan yang mengenyangkan dan mana yang benar-benar menyehatkan,” tulis peneliti dalam kesimpulan studinya.

Ancaman Penyakit Tidak Menular Sejak DiniTingginya konsumsi junk food pada anak berpotensi meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolik, hipertensi, dan diabetes di usia yang lebih muda. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi kualitas kesehatan generasi masa depan jika tidak dikendalikan sejak dini. Penelitian ini menegaskan bahwa perubahan perilaku makan anak tidak cukup hanya melalui larangan, tetapi membutuhkan pendekatan komprehensif.

Perlu Peran Sekolah, Keluarga, dan PemerintahPeneliti merekomendasikan penguatan edukasi gizi di sekolah, keterlibatan keluarga dalam membentuk kebiasaan makan sehat, serta pengawasan jajanan di lingkungan sekolah. Pemerintah daerah juga didorong memperketat regulasi jajanan sehat dan memperluas kampanye gizi seimbang untuk anak usia sekolah. Dengan intervensi yang tepat dan berkelanjutan, kebiasaan konsumsi junk food pada anak masih dapat dikendalikan—demi melindungi kesehatan generasi penerus bangsa sejak dini.

Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2365/1247

Author: Tyas Pratiwi Manaf, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran