Kanker Serviks di Indonesia: Ancaman Senyap yang Dipengaruhi Faktor Reproduksi dan Infeksi HPV

Oleh: Jesica Mulyadi . 5 Mei 2026 . 21:43:02

Kanker serviks masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan, baik di tingkat global maupun nasional. Penyakit ini dikenal sebagai “silent killer” karena sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut. Secara ilmiah, kanker serviks sebagian besar dipicu oleh infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe risiko tinggi seperti HPV 16 dan 18. Infeksi ini bekerja secara perlahan, merusak sel-sel serviks hingga akhirnya berkembang menjadi kanker dalam waktu bertahun-tahun. Data penelitian di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Gorontalo menunjukkan bahwa kanker serviks paling banyak ditemukan pada perempuan usia 46–55 tahun. Hal ini sejalan dengan teori medis bahwa proses perubahan sel menjadi kanker (karsinogenesis) membutuhkan waktu panjang, bahkan bisa mencapai lebih dari satu dekade sejak infeksi awal terjadi.

Selain usia, faktor reproduksi menjadi perhatian utama. Mayoritas pasien dalam penelitian tersebut memiliki riwayat melahirkan lebih dari satu kali (multipara) serta menikah pada usia relatif muda. Dari sudut pandang ilmiah, kondisi ini memiliki penjelasan biologis yang kuat. Pada usia muda, sel-sel serviks masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terhadap infeksi dan kerusakan. Aktivitas seksual dini meningkatkan peluang paparan HPV, sementara kehamilan berulang dapat menyebabkan perubahan hormonal dan trauma pada jaringan serviks yang mempermudah proses infeksi dan perkembangan kanker. Seluruh pasien dalam penelitian ini juga tercatat berstatus menikah, yang mengindikasikan bahwa aktivitas seksual merupakan jalur utama penularan HPV. Risiko ini dapat meningkat apabila terdapat riwayat pasangan seksual lebih dari satu atau adanya infeksi menular seksual lainnya.

Dari sisi medis, jenis kanker serviks yang paling banyak ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa. Jenis ini berkembang dari sel-sel permukaan serviks dan erat kaitannya dengan infeksi HPV tipe 16. Subtipe non-keratinizing menjadi yang paling dominan, menandakan proses pertumbuhan sel yang cepat dan kurang matang secara biologis. Secara molekuler, HPV bekerja dengan cara mengganggu sistem kontrol pertumbuhan sel. Virus ini menghasilkan protein yang dapat menonaktifkan gen pelindung tubuh, seperti p53 dan pRb, sehingga sel yang rusak tidak dapat diperbaiki atau pertumbuhannya dihentikan. Akibatnya, sel terus berkembang secara tidak terkendali dan membentuk kanker. Yang perlu menjadi perhatian, kanker serviks sebenarnya termasuk penyakit yang sangat dapat dicegah. Deteksi dini melalui skrining seperti Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) terbukti efektif dalam menemukan perubahan sel sebelum berkembang menjadi kanker. Selain itu, vaksinasi HPV menjadi langkah pencegahan primer yang sangat penting, terutama bagi perempuan usia muda.

Namun, tantangan terbesar di Indonesia masih terletak pada rendahnya kesadaran masyarakat terhadap skrining dan vaksinasi. Banyak perempuan yang belum melakukan pemeriksaan rutin, sehingga peluang deteksi dini menjadi terlewatkan. Temuan penelitian di Gorontalo ini mempertegas bahwa kanker serviks bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor sosial, budaya, dan perilaku. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari edukasi masyarakat, peningkatan akses layanan kesehatan, hingga penguatan program vaksinasi nasional. Pada akhirnya, kanker serviks bukanlah penyakit yang datang secara tiba-tiba. Ia berkembang perlahan, memberikan waktu bagi manusia untuk mencegahnya. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan waktu tersebut melalui kesadaran, pengetahuan, dan tindakan nyata.

Sources: https://www.jurnal.jomparnd.com/index.php/jkj/article/view/2479/1750

Author: Sang Ayu Nyoman Dewani, Trinny Tuna, Sitti Rahma, Maimun Ihsan, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin

#FKUNG

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran