Keberhasilan Toilet Training Anak Dimulai dari Rumah

Oleh: Jesica Mulyadi . 7 Januari 2026 . 14:19:10

Banyak orang tua menganggap toilet training sekadar fase alami yang akan dilewati anak seiring bertambahnya usia. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan toilet training tidak terjadi secara otomatis, melainkan sangat dipengaruhi oleh peran aktif dan konsisten keluarga, terutama orang tua. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Limboto, Kabupaten Gorontalo, memperkuat pandangan tersebut. Studi ini menegaskan bahwa keluarga yang terlibat secara aktif memiliki peluang jauh lebih besar untuk berhasil mendampingi anak usia toddler dalam proses toilet training.

Toilet Training Bukan Sekadar Urusan Usia

Toilet training merupakan salah satu tahapan penting dalam perkembangan anak usia 1–3 tahun. Pada fase ini, anak belajar mengontrol buang air kecil dan besar, mengenali sinyal tubuh, serta membangun kemandirian dasar. Namun, proses ini kerap menjadi tantangan bagi keluarga. Penelitian terhadap 76 keluarga yang memiliki anak usia 12–36 bulan menunjukkan bahwa 78,9 persen anak berhasil menjalani toilet training, sementara sisanya masih mengalami kesulitan. Keberhasilan ini tidak semata-mata ditentukan oleh usia anak, melainkan sangat berkaitan dengan dukungan, pendampingan, dan pola asuh keluarga. Anak usia tiga tahun memang lebih banyak yang berhasil, tetapi tanpa bimbingan keluarga, kesiapan usia saja tidak cukup.

Peran Keluarga Jadi Faktor Penentu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81,6 persen keluarga tergolong berperan aktif dalam toilet training. Bentuk keterlibatan ini antara lain meluangkan waktu mengajarkan anak ke toilet, membantu anak membuka dan memakai celana, mengajarkan anak mengungkapkan keinginan buang air, serta memberikan pujian ketika anak berhasil. Dari keluarga yang berperan aktif tersebut, lebih dari 76 persen anak berhasil toilet training. Sebaliknya, pada keluarga yang kurang terlibat, hampir seluruh anak mengalami kegagalan. Uji statistik menunjukkan hubungan yang sangat signifikan antara peran keluarga dan keberhasilan toilet training (p < 0,05). Data ini mempertegas bahwa kehadiran emosional dan konsistensi orang tua jauh lebih penting dibanding sekadar instruksi sesekali.

Ketika Kurang Dukungan, Anak Rentan Gagal

Penelitian ini juga mengungkap bahwa kegagalan toilet training sering terjadi pada keluarga yang kurang konsisten. Anak masih menggunakan popok saat tidur malam, tidak mampu memakai celana sendiri, atau tidak mengungkapkan keinginan buang air. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kemandirian anak, tetapi juga berisiko menimbulkan masalah lanjutan, seperti enuresis (mengompol), kecemasan, hingga gangguan eliminasi. Lebih jauh, pengalaman toilet training yang negatif dapat membentuk persepsi buruk anak terhadap toilet dan kebersihan diri.

Opini Ilmiah: Toilet Training Adalah Proses Relasi, Bukan Paksaan

Temuan ini membawa pesan penting: toilet training bukan soal memaksa anak cepat lepas popok, melainkan soal membangun relasi yang aman dan suportif antara anak dan keluarga. Anak belajar paling efektif ketika merasa didukung, dihargai, dan tidak ditekan. Keterlibatan orang tua—khususnya ibu—menjadi kunci. Namun demikian, keberhasilan juga dipengaruhi kesiapan fisik dan emosional anak. Anak yang belum siap, meskipun orang tua sudah berupaya maksimal, tetap membutuhkan waktu. Artinya, keberhasilan toilet training adalah perpaduan antara kesiapan anak dan kesabaran keluarga.

Rumah Adalah Sekolah Pertama

Penelitian di Puskesmas Limboto ini kembali mengingatkan bahwa rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orang tua adalah guru utamanya. Toilet training yang berhasil bukan hanya menciptakan anak yang mandiri, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kontrol diri sejak dini. Jika ingin membentuk generasi yang mandiri dan sehat, maka perhatian pada proses sederhana seperti toilet training tidak boleh dianggap sepele. Pendampingan keluarga yang hangat, konsisten, dan penuh empati adalah fondasi utama keberhasilan anak.

Source: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/8273/5799

Author: Olganita Paputungan, Nanang Roswita Paramata, Rini Wahyuni Mohamad, Sri Yulian Hunowu

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran