Kecemasan Keluarga Pasien ICU Bisa Turun Tanpa Obat, Penelitian di Gorontalo Ungkap Efektivitas Terapi Relaksasi Otot

Oleh: Jesica Mulyadi . 30 Juni 2026 . 09:35:05

Ketika seseorang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU), yang mengalami tekanan psikologis bukan hanya pasien, tetapi juga keluarga. Bunyi alarm monitor, ventilator, infus, serta ketidakpastian kondisi pasien sering menjadi sumber kecemasan yang berat. Dalam situasi seperti ini, keluarga kerap berada dalam kondisi emosional yang rapuh—cemas, sulit tidur, hingga mengalami keluhan fisik seperti jantung berdebar.

Fenomena ini sering luput dari perhatian sistem pelayanan kesehatan. Fokus rumah sakit umumnya tertuju pada kondisi klinis pasien, sementara beban mental keluarga jarang menjadi prioritas. Padahal, kesehatan psikologis keluarga juga berperan penting dalam mendukung proses penyembuhan pasien. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan temuan yang menarik sekaligus relevan secara nasional. Studi yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe menunjukkan bahwa Progressive Muscle Relaxation (PMR) atau terapi relaksasi otot progresif terbukti efektif menurunkan tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di ICU.

Penelitian ini melibatkan 30 anggota keluarga pasien ICU. Sebelum mendapatkan terapi PMR, mayoritas responden mengalami kecemasan tingkat sedang. Sebanyak 83,3 persen responden berada dalam kategori cemas sedang, sedangkan 16,7 persen mengalami kecemasan ringan. Kondisi ini menggambarkan betapa besarnya tekanan emosional yang dialami keluarga saat mendampingi anggota keluarganya dalam kondisi kritis. Gejala kecemasan yang muncul tidak hanya berupa rasa khawatir berlebihan. Banyak responden melaporkan sulit tidur, mudah gelisah, pikiran negatif yang terus muncul, hingga keluhan fisik seperti dada terasa sesak dan denyut jantung meningkat. Dalam banyak kasus, kecemasan berkepanjangan bahkan dapat menurunkan kemampuan keluarga untuk mengambil keputusan medis secara rasional.

Kabar baiknya, intervensi sederhana ternyata mampu memberi dampak besar. Setelah menjalani terapi PMR, terjadi perubahan signifikan pada kondisi psikologis responden. Sebanyak 83,3 persen responden turun ke kategori kecemasan ringan, sementara sebagian lainnya bahkan tidak lagi mengalami kecemasan. Nilai rata-rata skor kecemasan juga menurun tajam dari 23,07 menjadi 14,03 setelah terapi diberikan. Penurunan ini secara statistik sangat bermakna dengan nilai p = 0,000.

Lalu, apa sebenarnya PMR? Progressive Muscle Relaxation adalah teknik relaksasi yang dilakukan dengan cara menegangkan lalu melemaskan kelompok otot tertentu secara berurutan, sambil mengatur pernapasan secara perlahan. Metode ini membantu tubuh mengenali perbedaan antara kondisi tegang dan rileks. Secara fisiologis, PMR bekerja dengan menekan aktivitas saraf simpatis bagian sistem saraf yang aktif saat seseorang stres atau panik. Ketika otot-otot tubuh mulai relaks, otak menerima sinyal untuk menurunkan respons stres. Tubuh kemudian melepaskan hormon endorfin yang menciptakan rasa nyaman dan tenang.

Yang menarik, terapi ini tidak membutuhkan alat khusus, obat-obatan, maupun biaya mahal. PMR dapat dilakukan hampir di mana saja, termasuk di ruang tunggu rumah sakit. Penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan adalah perempuan usia dewasa muda hingga paruh baya, terutama ibu rumah tangga yang mendampingi anggota keluarga di ICU. Faktor emosional, tanggung jawab keluarga, serta beban finansial diduga turut memperburuk tingkat kecemasan mereka.

Secara nasional, temuan ini membawa pesan penting bagi sistem pelayanan kesehatan Indonesia. Rumah sakit seharusnya tidak hanya berorientasi pada penyembuhan pasien, tetapi juga perlu memberikan perhatian terhadap kesejahteraan psikologis keluarga. Pendekatan pelayanan yang lebih holistik dapat mencakup edukasi singkat tentang manajemen stres, konseling psikologis, hingga pelatihan relaksasi sederhana seperti PMR. Intervensi seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya besar terhadap ketahanan mental keluarga.

Pada akhirnya, perawatan intensif bukan hanya soal alat medis canggih dan pengawasan ketat. Ada sisi kemanusiaan yang tak kalah penting, yakni menjaga harapan, ketenangan, dan kekuatan keluarga yang menunggu di luar ruang ICU. Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun bermakna: ketenangan pikiran juga bagian dari proses penyembuhan. Dalam situasi kritis, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya obat, tetapi juga kemampuan untuk bernapas lebih tenang, mengendurkan ketegangan, dan menjaga harapan tetap hidup.

Sources: https://www.jurnal.karyakesehatan.ac.id/K/article/view/1415/520Author: Abdurrahim Sy. Saidi, Nanang Roswita Paramata, Siti Hajar Salawali#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran