Kehamilan Pertama Bukan Satu-satunya Penyebab Bayi Lahir dengan Berat Rendah

Oleh: Jesica Mulyadi . 4 Januari 2026 . 22:35:08

Angka kematian bayi baru lahir di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan kematian neonatal adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), yaitu bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram. Selama ini, kehamilan pertama atau primigravida sering dianggap sebagai penyebab utama kondisi tersebut. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Penelitian yang dilakukan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Toto Kabila, Kabupaten Bone Bolango, memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kejadian BBLR. Studi ini menunjukkan bahwa kehamilan pertama tidak memiliki hubungan langsung dengan kejadian BBLR, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang lebih kompleks. 

Fakta di Balik Bayi Berat Lahir Rendah

Data nasional menunjukkan bahwa kematian bayi pada periode neonatal (0–28 hari) masih tinggi dan bahkan mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Di Provinsi Gorontalo, BBLR menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir, dengan RSUD Toto Kabila mencatat jumlah kasus tertinggi. Melalui penelitian terhadap 113 bayi yang dirawat di NICU dan lahir dari ibu dengan kehamilan pertama, para peneliti menemukan bahwa lebih dari separuh bayi mengalami BBLR. Namun, analisis statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara status primigravida dan kejadian BBLR.

Usia Aman Tidak Menjamin Bebas Risiko

Sebagian besar ibu dalam penelitian ini berada pada usia reproduktif sehat, yakni 20–35 tahun. Usia ini selama ini dikenal sebagai usia ideal untuk kehamilan. Namun, temuan menarik menunjukkan bahwa BBLR tetap dapat terjadi meski ibu berada pada usia aman dan menjalani kehamilan pertama. Hal ini menegaskan bahwa usia reproduktif sehat bukanlah jaminan mutlak bagi kelahiran bayi dengan berat normal. Faktor lain seperti kondisi kesehatan ibu, status gizi, penyakit penyerta seperti anemia, hipertensi, atau preeklamsia, serta kualitas perawatan kehamilan turut berperan besar.

Peran Penting Gizi dan Perawatan Kehamilan

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya asuhan antenatal (ANC) yang berkualitas. Ibu hamil yang jarang melakukan pemeriksaan kehamilan berisiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Kurangnya kunjungan ANC sering kali berbanding lurus dengan rendahnya pengetahuan ibu mengenai kebutuhan gizi, tanda bahaya kehamilan, dan upaya pencegahan komplikasi. Selain itu, kondisi sosial seperti tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga memengaruhi kemampuan ibu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Ibu dengan akses informasi dan layanan kesehatan yang terbatas cenderung memiliki risiko lebih besar melahirkan bayi BBLR.

BBLR Bukan Masalah Tunggal

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa BBLR bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Kehamilan pertama hanyalah salah satu variabel, dan bukan penentu utama. Faktor kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan, lingkungan sosial, pola hidup, serta dukungan keluarga memainkan peran yang jauh lebih signifikan. Bayi dengan BBLR berisiko mengalami gangguan kesehatan serius, mulai dari gangguan pernapasan, infeksi, hingga keterlambatan tumbuh kembang. Oleh karena itu, pencegahan BBLR harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Mengubah Cara Pandang dan Strategi Pencegahan

Penelitian ini memberikan pesan penting bagi masyarakat dan tenaga kesehatan untuk mengubah cara pandang terhadap kehamilan pertama. Fokus pencegahan tidak seharusnya hanya tertuju pada status primigravida, melainkan pada peningkatan kualitas kesehatan ibu secara menyeluruh.

Upaya yang perlu diperkuat antara lain:

  1. edukasi gizi sejak pra-kehamilan,
  2. pemeriksaan kehamilan rutin dan berkualitas,
  3. deteksi dini penyakit penyerta pada ibu hamil, serta
  4. penguatan layanan kesehatan ibu dan bayi.

Dengan pendekatan yang komprehensif, risiko bayi lahir dengan berat rendah dapat ditekan, sekaligus meningkatkan peluang hidup dan kualitas generasi masa depan.

Source: https://journal.nursinggeniuscare.co.id/index.php/nursinggeniusjournal/article/view/89/48

Author: Ferawaty NauE, Sri Andriani Ibrahim, Rini Wahyuni Mohammad

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran