Kekurangan Gizi dan Infeksi pada Ibu Hamil Tingkatkan Risiko Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah

Oleh: Jesica Mulyadi . 12 Juni 2026 . 19:01:18

Ancaman Tersembunyi bagi Generasi Masa Depan IndonesiaBerat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi salah satu tantangan besar kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Bayi dikatakan mengalami BBLR apabila lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko kematian pada masa neonatal, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, perkembangan otak, hingga penurunan kualitas kesehatan anak dalam jangka panjang. Penelitian terbaru yang dilakukan di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, menunjukkan bahwa kondisi kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil yang disertai penyakit infeksi menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko lahirnya bayi dengan berat badan rendah. Hasil penelitian ini memberikan pesan kuat bahwa kesehatan dan gizi ibu selama kehamilan sangat menentukan kualitas generasi yang akan datang.

Mengapa Berat Badan Lahir Rendah Berbahaya?

Menurut para ahli kesehatan, bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami:

  1. Kematian pada masa neonatal.
  2. Gangguan pertumbuhan fisik.
  3. Keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif.
  4. Kerentanan terhadap infeksi.
  5. Risiko penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes dan hipertensi.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan bahwa sekitar 15–20 persen kematian neonatal berkaitan dengan kondisi BBLR. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan BBLR merupakan investasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.

Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil Masih Menjadi Masalah

Kekurangan Energi Kronik (KEK) merupakan kondisi ketika ibu hamil mengalami kekurangan asupan energi dan zat gizi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan nutrisi ibu dan janin tidak terpenuhi secara optimal. Ibu hamil yang mengalami KEK biasanya memiliki cadangan energi yang rendah sehingga pertumbuhan janin di dalam kandungan dapat terganggu. Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko bayi lahir dengan berat badan rendah menjadi semakin besar. Penelitian yang melibatkan ibu melahirkan di wilayah kerja Puskesmas Lemito dan Puskesmas Wonggarasi I, Kabupaten Pohuwato, menemukan bahwa KEK merupakan faktor penting yang berkaitan dengan kejadian BBLR.

Infeksi Saat Hamil Tingkatkan Risiko Hingga Lima Kali Lipat

Temuan paling menarik dari penelitian ini adalah peran penyakit infeksi selama kehamilan. Hasil analisis menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami KEK dan disertai penyakit infeksi memiliki risiko sekitar 5,11 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami kedua kondisi tersebut. Infeksi selama kehamilan dapat memicu peradangan dalam tubuh ibu yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Selain itu, infeksi juga dapat meningkatkan risiko persalinan prematur serta menghambat penyaluran nutrisi kepada janin. Temuan ini menegaskan bahwa upaya memperbaiki status gizi ibu hamil harus berjalan bersamaan dengan pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi selama kehamilan.

Faktor Lain yang Turut Berpengaruh

Selain infeksi dan KEK, penelitian juga menemukan beberapa faktor lain yang berhubungan dengan kejadian BBLR, antara lain:

  1. Paritas atau Jumlah Kehamilan: Ibu yang telah mengalami kehamilan berulang memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi BBLR. Kehamilan yang terlalu sering dapat memengaruhi kondisi rahim dan kemampuan tubuh ibu dalam mendukung pertumbuhan janin.
  2. Tingkat Pendidikan: Pendidikan berperan dalam menentukan kemampuan ibu memahami informasi kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi, dan memanfaatkan layanan kesehatan selama kehamilan. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan kehamilan.
  3. Kunjungan Antenatal Care (ANC): Pemeriksaan kehamilan secara rutin memungkinkan tenaga kesehatan mendeteksi lebih awal berbagai masalah yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Penelitian menunjukkan bahwa kunjungan ANC memiliki hubungan signifikan dengan kejadian BBLR.
  4. Kondisi Sosial Ekonomi: Pekerjaan dan kondisi ekonomi keluarga turut memengaruhi kemampuan ibu memperoleh makanan bergizi dan mengakses pelayanan kesehatan selama kehamilan.

Apa yang harus dilakukan?

Untuk mencegah BBLR, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Bagi ibu hamil: mengonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari, meminum tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan, Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, Menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah infeksi., Segera memeriksakan diri jika mengalami demam atau tanda-tanda infeksi.
  2. Bagi keluarga: Memberikan dukungan pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, memastikan ibu mendapatkan pemeriksaan kehamilan secara teratur, membantu menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.
  3. Bagi pemerintah dan tenaga kesehatan: memperkuat program pencegahan KEK pada ibu hamil, memastikan ketersediaan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), meningkatkan deteksi dini penyakit infeksi selama kehamilan, memperluas edukasi kesehatan ibu dan anak hingga ke daerah terpencil.

Investasi Kesehatan Dimulai Sejak Dalam Kandungan

Hasil penelitian di Kabupaten Pohuwato menunjukkan bahwa kombinasi kekurangan energi kronik dan penyakit infeksi selama kehamilan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kejadian berat badan lahir rendah. Risiko bahkan meningkat hingga lebih dari lima kali lipat pada ibu yang mengalami kedua kondisi tersebut. Temuan ini menjadi pengingat bahwa upaya membangun generasi Indonesia yang sehat tidak dimulai saat anak lahir, melainkan sejak masa kehamilan. Dengan memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang cukup, bebas dari infeksi, dan memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal, Indonesia dapat menurunkan angka BBLR sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2453/1308

Authors: Astuti Lasalutu, Sunarto Kadir, Vivien Novarina A. Kasim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran