
Malaria masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi tantangan kesehatan global, khususnya di wilayah tropis. Penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles ini setiap tahun menginfeksi jutaan orang di dunia. Selain faktor lingkungan dan keberadaan vektor, kondisi tubuh seseorang juga memiliki peran penting dalam menentukan kerentanan terhadap malaria, termasuk status gizi dan asupan mikronutrien. Sebuah penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Paguat, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, mengungkap bahwa asupan mikronutrien tertentu berperan dalam memengaruhi risiko seseorang terkena malaria. Penelitian ini menyoroti peran tiga mikronutrien penting bagi sistem kekebalan tubuh, yaitu vitamin A, zat besi (iron), dan zinc.
Malaria Masih Menjadi Ancaman di Indonesia
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), malaria masih menjadi salah satu penyakit parasitik paling mematikan di dunia. Pada tahun 2019 tercatat sekitar 229 juta kasus malaria secara global dengan lebih dari 400 ribu kematian. Sebagian besar kasus terjadi di negara berkembang dengan iklim tropis yang mendukung perkembangbiakan nyamuk penyebab malaria. Di Indonesia, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di wilayah timur. Salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus adalah Kabupaten Pohuwato di Provinsi Gorontalo. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat 814 kasus malaria, meningkat menjadi 824 kasus pada tahun 2024, dan hingga awal 2025 tercatat 170 kasus baru. Aktivitas pertambangan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus malaria di wilayah tersebut karena menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles.
Meneliti Hubungan Gizi dan Risiko Malaria
Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sebanyak 37 responden yang memiliki riwayat malaria di wilayah kerja Puskesmas Paguat dilibatkan sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner serta metode food recall 3×24 jam untuk mengetahui pola konsumsi makanan responden. Kandungan zat gizi dari makanan yang dikonsumsi kemudian dianalisis menggunakan aplikasi Nutrisurvey untuk menghitung jumlah vitamin dan mineral yang dikonsumsi setiap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah laki-laki usia produktif yang bekerja sebagai pekerja tambang. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa pekerja yang sering beraktivitas di luar ruangan pada malam hari memiliki risiko lebih tinggi terpapar gigitan nyamuk penyebab malaria.
Zinc Terbukti Berhubungan dengan Infeksi Malaria
Dari tiga jenis mikronutrien yang diteliti, hanya zinc yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian malaria. Penelitian menunjukkan bahwa responden dengan asupan zinc rendah memiliki risiko lebih besar terkena malaria dibandingkan dengan mereka yang memiliki asupan zinc yang cukup. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara kekurangan zinc dan kejadian malaria. Bahkan melalui analisis regresi logistik ditemukan bahwa individu dengan asupan zinc rendah memiliki kemungkinan sekitar 72% mengalami malaria, sedangkan mereka dengan asupan zinc cukup memiliki kemungkinan sekitar 32%. Temuan ini menunjukkan bahwa zinc berperan penting dalam meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi malaria.
Mengapa Zinc Penting bagi Sistem Kekebalan Tubuh?
Zinc merupakan salah satu mineral penting yang berperan dalam berbagai proses biologis di dalam tubuh, termasuk dalam fungsi sistem kekebalan. Mineral ini membantu pembentukan dan aktivitas sel imun, mengatur respons inflamasi, serta mendukung proses penyembuhan tubuh. Kekurangan zinc diketahui dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh sehingga seseorang lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi, termasuk malaria. Secara global, kekurangan zinc bahkan diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 18% kasus malaria di negara berkembang. Zinc dapat ditemukan dalam berbagai jenis makanan seperti daging merah, makanan laut, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sereal yang diperkaya dengan mineral. Namun, pola konsumsi masyarakat yang lebih banyak mengandalkan makanan berbasis nabati dengan kandungan fitat tinggi dapat menghambat penyerapan zinc dalam tubuh.
Vitamin A dan Zat Besi Tidak Menunjukkan Hubungan Signifikan
Berbeda dengan zinc, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara asupan vitamin A dan zat besi dengan kejadian malaria. Walaupun kedua mikronutrien tersebut tetap memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan sistem kekebalan, hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi asupan vitamin A dan zat besi pada responden tidak secara langsung memengaruhi risiko infeksi malaria.
Gizi yang Baik sebagai Benteng Pertahanan Tubuh
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi dan pola konsumsi makanan memiliki peran penting dalam menentukan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Kekurangan mikronutrien dapat melemahkan sistem kekebalan sehingga tubuh lebih rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk malaria. Oleh karena itu, upaya pencegahan malaria tidak hanya bergantung pada pengendalian nyamuk dan lingkungan, tetapi juga perlu disertai dengan peningkatan kualitas gizi masyarakat. Pemenuhan kebutuhan mikronutrien seperti zinc melalui pola makan seimbang dapat menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat sistem imun dan menurunkan risiko penyakit infeksi di masyarakat.
Author: Putriani Bua, Margaretha Solang, Cecy Rahma Karim, Sunarto Kadir, Netty Ino Ischak
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/35441/pdf
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran