Keselamatan Pasien Dimulai dari Perawat: Mengapa Pengetahuan dan Sikap Tenaga Kesehatan Sangat Menentukan?

Oleh: Jesica Mulyadi . 23 Juni 2026 . 23:33:53

Di tengah meningkatnya tuntutan pelayanan kesehatan yang cepat dan berkualitas, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan oleh rumah sakit mana pun: keselamatan pasien. Pasien datang ke rumah sakit dengan harapan untuk sembuh, bukan justru menghadapi risiko baru akibat kesalahan pelayanan medis. Sayangnya, insiden keselamatan pasien masih menjadi persoalan serius, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. Kesalahan identifikasi pasien, pemberian obat yang tidak tepat, infeksi akibat kurangnya kebersihan tangan, hingga pasien jatuh saat dirawat masih kerap terjadi. Banyak kejadian ini sebenarnya dapat dicegah.

Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo yang dilakukan di RSUD Toto Kabila memberikan gambaran yang menarik sekaligus penting bagi dunia kesehatan di Indonesia. Penelitian ini menegaskan bahwa kualitas keselamatan pasien sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama pada perawat: pengetahuan dan sikap. Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi langsung dengan pasien. Mereka berada di garis terdepan pelayanan mulai dari memantau kondisi pasien, memberikan obat, hingga memastikan tindakan medis berjalan sesuai prosedur. Karena itu, sekecil apa pun kelalaian dapat berdampak besar.

Penelitian terhadap 94 perawat ruang rawat inap menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang keselamatan pasien, tetapi belum optimal. Hal serupa juga terlihat pada aspek sikap dan implementasi di lapangan. Artinya, banyak perawat sebenarnya sudah memahami prinsip dasar patient safety, namun penerapannya belum konsisten. Temuan paling penting dari studi ini adalah adanya hubungan yang sangat signifikan antara pengetahuan perawat dan penerapan keselamatan pasien. Semakin baik pemahaman seorang perawat, semakin baik pula pelaksanaan prosedur keselamatan di lapangan. Begitu pula dengan sikap. Perawat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap keselamatan pasien cenderung lebih disiplin, teliti, dan patuh pada standar operasional.

Namun, persoalannya tidak sesederhana “tahu lalu langsung bisa menjalankan.” Dalam praktik sehari-hari, banyak faktor yang menghambat. Beban kerja tinggi, kelelahan fisik, kurangnya pelatihan, hingga budaya kerja yang belum mendukung sering kali membuat standar keselamatan sulit diterapkan secara maksimal. Bayangkan seorang perawat yang harus menangani banyak pasien dalam satu shift. Dalam kondisi lelah dan tekanan kerja tinggi, risiko lupa melakukan verifikasi identitas pasien atau melewatkan prosedur hand hygiene tentu meningkat. Hal inilah yang sering luput dari perhatian publik.

Data yang ditemukan di RSUD Toto Kabila memperlihatkan masih adanya penurunan kepatuhan terhadap sejumlah indikator keselamatan, seperti identifikasi pasien, penggunaan alat pelindung diri, dan kebersihan tangan. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa patient safety bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan budaya kerja yang harus dibangun setiap hari. Secara nasional, temuan ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia. Peningkatan kualitas layanan rumah sakit tidak cukup hanya dengan pembangunan gedung megah atau pengadaan alat medis canggih. Investasi terbesar justru harus diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, terutama tenaga keperawatan.

Pelatihan berkala, supervisi yang konsisten, evaluasi sistem pelaporan insiden, dan lingkungan kerja yang mendukung perlu menjadi prioritas. Rumah sakit juga harus membangun budaya yang tidak menyalahkan individu semata saat terjadi insiden, tetapi fokus pada perbaikan sistem. Pada akhirnya, keselamatan pasien adalah cerminan kualitas sebuah layanan kesehatan. Ketika perawat dibekali pengetahuan yang kuat dan didukung oleh sikap profesional yang baik, risiko kesalahan pelayanan dapat ditekan secara signifikan.

Pasien mungkin tidak selalu memahami prosedur medis yang rumit, tetapi mereka dapat merasakan satu hal yang sederhana namun sangat penting: rasa aman. Dan rasa aman itu sering kali dimulai dari hal-hal kecil, seperti seorang perawat yang teliti memeriksa gelang identitas, mencuci tangan sebelum tindakan, dan memastikan setiap langkah pelayanan dilakukan dengan benar.Karena pada akhirnya, keselamatan pasien bukan hanya tentang standar operasional rumah sakit. Ia adalah tentang kemanusiaan.

Sources: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10928/7313Author: Nur Alwia Bagoe, Nanang Roswita Paramata, Rachmawaty D. Hunawa#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran