Ketika Jantung Membaik, Menstruasi Kembali: Pelajaran Penting tentang Hubungan Jantung dan Kesehatan Perempuan

Oleh: Jesica Mulyadi . 18 Juni 2026 . 19:47:57

Selama ini, banyak orang menganggap jantung dan kesehatan reproduksi perempuan sebagai dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Jika berbicara tentang gagal jantung, yang terbayang biasanya sesak napas, kaki bengkak, mudah lelah, atau nyeri dada. Sementara ketika membahas gangguan menstruasi, perhatian masyarakat lebih sering tertuju pada hormon, stres, atau masalah kandungan. Padahal, tubuh manusia bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung. Apa yang terjadi pada jantung ternyata dapat memengaruhi organ lain, termasuk sistem reproduksi.

Inilah pesan penting dari penelitian terbaru dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Insuficiencia Cardiaca. Penelitian tersebut mengangkat sebuah kasus yang jarang dibahas tetapi sangat menarik: seorang perempuan muda dengan amenore sekunder, kondisi ketika menstruasi berhenti selama beberapa bulan, mengalami kembalinya siklus haid setelah kondisi gagal jantungnya membaik. Kasus ini dialami seorang perempuan berusia 25 tahun yang datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak saat beraktivitas, sulit bernapas ketika berbaring, cepat lelah, dan kedua tungkai yang membengkak. Saat diperiksa, dokter menemukan bahwa pasien mengalami congestive heart failure (gagal jantung kongestif), suatu kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh. Lebih menarik lagi, pasien tersebut ternyata juga telah tidak mengalami menstruasi selama dua tahun, meskipun sebelumnya memiliki siklus haid yang normal.

Bagi masyarakat awam, mungkin sulit membayangkan bagaimana jantung bisa memengaruhi menstruasi. Namun, secara medis, hal ini cukup masuk akal. Jantung adalah pusat sirkulasi tubuh. Ketika fungsi jantung menurun, distribusi oksigen, nutrisi, dan aliran darah ke berbagai organ ikut terganggu. Tubuh kemudian memasuki kondisi stres fisiologis kronis. Dalam kondisi ini, tubuh cenderung “memprioritaskan” fungsi-fungsi vital untuk bertahan hidup, sementara fungsi lain termasuk reproduksi dapat ditekan sementara.

Bayangkan tubuh seperti sebuah rumah yang sedang mengalami krisis listrik. Saat daya terbatas, lampu utama akan tetap dinyalakan, tetapi perangkat yang dianggap tidak mendesak akan dimatikan lebih dulu. Pada kondisi gagal jantung, tubuh melakukan mekanisme serupa.

Penelitian ini menunjukkan sesuatu yang menarik. Setelah pasien mendapatkan terapi gagal jantung berupa obat diuretik, penghambat ACE, beta-blocker, dan terapi standar lainnya, kondisinya berangsur membaik. Sesak napas berkurang, pembengkakan menurun, dan kualitas hidup pasien meningkat. Lalu, pada bulan ketiga pengobatan, menstruasinya kembali muncul. Tidak hanya sekali, siklus tersebut kemudian tetap teratur selama pemantauan sembilan bulan berikutnya. Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar bagi dunia medis: apakah perbaikan fungsi jantung dapat membantu “menghidupkan kembali” sistem hormonal reproduksi?

Jawabannya belum bisa dipastikan. Peneliti FK UNG dengan hati-hati menegaskan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Ini baru laporan satu kasus, sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa semua pasien gagal jantung dengan gangguan menstruasi akan mengalami hal yang sama. Namun, kasus ini membuka jendela pemahaman baru bahwa hubungan antara jantung dan kesehatan reproduksi perempuan mungkin jauh lebih erat daripada yang selama ini diperkirakan.

Di sinilah letak nilai penting penelitian ini. Selama bertahun-tahun, dunia medis cenderung melihat penyakit berdasarkan organ: dokter jantung fokus pada jantung, dokter kandungan fokus pada reproduksi, dokter hormon fokus pada endokrin. Padahal, tubuh manusia tidak bekerja dalam sekat-sekat seperti itu. Gangguan pada satu sistem bisa memicu efek domino pada sistem lain. Bagi masyarakat, ada pesan sederhana tetapi sangat penting dari penelitian ini: gangguan menstruasi tidak selalu murni masalah hormonal atau kandungan.

Ketika menstruasi tiba-tiba berhenti selama berbulan-bulan, banyak perempuan hanya mengaitkannya dengan stres, kelelahan, diet, atau perubahan berat badan. Padahal dalam beberapa kasus, itu bisa menjadi sinyal adanya penyakit sistemik yang lebih besar, termasuk gangguan jantung, gangguan metabolik, atau penyakit kronis lainnya. Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan perubahan tubuh yang tampak “biasa”. Menstruasi pada dasarnya adalah salah satu indikator kesehatan perempuan. Siklus yang berubah drastis bisa menjadi alarm bahwa tubuh sedang mengalami gangguan.

Penelitian FK UNG ini juga memperlihatkan bahwa kampus daerah mampu menghadirkan kontribusi penting bagi ilmu kedokteran global. Publikasi internasional semacam ini tidak hanya membanggakan secara akademik, tetapi juga memperluas cara kita memahami kesehatan secara lebih utuh. Pada akhirnya, penelitian ini mengajarkan satu hal yang sering terlupakan: kesehatan tidak bisa dilihat secara terpisah-pisah. Jantung, hormon, pikiran, dan organ reproduksi saling berbicara dalam bahasa biologis yang sama. Ketika satu bagian terganggu, bagian lain bisa ikut terdampak. Mungkin itulah pelajaran terbesarnya bahwa memahami tubuh berarti memahami keterhubungan. Dan kadang, ketika jantung mulai pulih, tubuh pun perlahan mengembalikan ritme alaminya, termasuk ritme yang menandai kesehatan seorang perempuan: siklus menstruasi.

Sources: https://www.researchgate.net/profile/Muchtar-Nora-Ismail-Siregar/publication/401697131_Return_of_menses_after_heart_failure_stabilization_in_a_woman_with_secondary_amenorrhea_A_hypothesis-generating_case_report/links/69ae8f9c940e2d5e03ce8bd1/Return-of-menses-after-heart-failure-stabilization-in-a-woman-with-secondary-amenorrhea-A-hypothesis-generating-case-report.pdfAuthor: Muchtar Nora Ismail Siregar, Vickry H Wahidji, Maimun Ihsan, and Zuhriana K Yusuf#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran