Ketika Kekurangan Kalium Bisa Mengancam Jantung: Pelajaran Penting dari Penelitian FK UNG

Oleh: Jesica Mulyadi . 16 Juni 2026 . 16:28:34

Di tengah berbagai penyakit yang kerap menjadi perhatian publik seperti hipertensi, diabetes, atau stroke, ada satu gangguan jantung yang jarang dibicarakan tetapi dapat berakibat sangat fatal: Brugada Syndrome. Penyakit ini mungkin terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat, namun dampaknya bisa sangat serius karena berhubungan langsung dengan gangguan irama jantung yang berpotensi menyebabkan kematian mendadak. Penelitian yang dilakukan oleh akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) memberikan gambaran menarik sekaligus penting mengenai kondisi ini. Studi kasus yang dipublikasikan dalam The Egyptian Heart Journal menyoroti bagaimana hipokalemia, atau kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu rendah, dapat memicu munculnya tanda-tanda berbahaya pada jantung.

Bagi masyarakat awam, kalium mungkin hanya dikenal sebagai mineral yang banyak ditemukan dalam pisang, alpukat, atau air kelapa. Namun sesungguhnya, kalium memiliki peran vital dalam menjaga kerja otot dan sistem saraf, termasuk otot jantung. Jantung bekerja dengan sistem kelistrikan yang sangat teratur. Ketika kadar kalium menurun, sistem listrik ini dapat terganggu, sehingga irama jantung menjadi tidak stabil. Inilah yang ditemukan dalam penelitian FK UNG. Seorang pasien berusia 51 tahun datang ke rumah sakit setelah mengalami pingsan saat beraktivitas. Sebelum pingsan, ia merasakan jantung berdebar dan tubuh berkeringat dingin. Pemeriksaan menunjukkan kadar kalium pasien sangat rendah, yakni 2,8 mmol/L, jauh di bawah nilai normal. Selain itu, rekam jantung atau EKG menunjukkan pola khas yang mengarah pada sindrom Brugada.

Yang menarik, setelah kadar kalium pasien dikembalikan ke normal melalui terapi, pola gangguan pada jantung ternyata tetap ada. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar: apakah kekurangan kalium hanya “membuka kedok” penyakit yang sebelumnya tersembunyi, atau justru berperan lebih kompleks dalam memicu gangguan jantung? Selama ini, dunia medis memahami bahwa hipokalemia dapat memperpanjang interval QT pada EKG—suatu tanda yang meningkatkan risiko aritmia berbahaya. Namun, penelitian ini justru menemukan hal berbeda. Pada pasien tersebut, interval QT tidak memanjang saat kalium rendah, bahkan cenderung lebih pendek. Fakta ini menantang pemahaman lama dan menunjukkan bahwa tubuh manusia sering kali lebih kompleks daripada teori yang kita pelajari di buku.

Temuan ini memberi pesan penting bagi masyarakat: kekurangan elektrolit bukan sekadar masalah lemas atau kram otot. Dalam kondisi tertentu, gangguan elektrolit dapat menjadi pemicu masalah jantung serius yang bahkan mengancam nyawa. Di era modern, pola hidup masyarakat justru semakin rentan menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Konsumsi makanan cepat saji yang minim nutrisi, dehidrasi, diare berkepanjangan, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga diet ekstrem dapat menurunkan kadar kalium tanpa disadari. Banyak orang menganggap gejala seperti lelah, pusing, atau berdebar sebagai keluhan biasa, padahal bisa menjadi sinyal awal gangguan serius.

Karena itu, literasi kesehatan menjadi sangat penting. Masyarakat perlu memahami bahwa kesehatan jantung tidak hanya ditentukan oleh kolesterol atau tekanan darah, tetapi juga oleh keseimbangan mineral dalam tubuh. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, pola makan seimbang, serta perhatian terhadap gejala yang tampak ringan dapat menjadi langkah sederhana yang menyelamatkan nyawa. Penelitian FK UNG ini juga menunjukkan bahwa perguruan tinggi daerah mampu memberi kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan global. Publikasi di jurnal internasional bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan bukti bahwa penelitian lokal dapat menghasilkan pengetahuan yang relevan untuk dunia.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari penelitian ini sederhana namun mendalam: tubuh manusia bekerja melalui keseimbangan yang sangat halus. Hal-hal kecil yang sering diabaikan—seperti kadar kalium dalam darah—ternyata dapat menjadi pembeda antara kondisi sehat dan keadaan darurat medis. Menjaga kesehatan bukan hanya tentang mengobati penyakit ketika sudah parah, tetapi tentang memahami sinyal tubuh sejak dini dan bertindak sebelum terlambat.

Sources: https://link.springer.com/article/10.1186/s43044-024-00574-3Author: Muchtar Nora Ismail Siregar & Vickry H. Wahidji #FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran