
Remaja merupakan kelompok usia yang berada pada fase perkembangan paling dinamis dalam kehidupan manusia. Pada masa ini terjadi perubahan yang sangat cepat, baik secara biologis, psikologis, maupun sosial. Masa remaja sering disebut sebagai periode transisi dari anak menuju dewasa yang sarat dengan berbagai tantangan perkembangan. Perubahan tersebut menjadikan remaja sangat rentan terhadap berbagai tekanan emosional yang dapat memengaruhi perilaku sehari-hari, termasuk pola makan dan status gizi mereka. Dalam konteks kesehatan masyarakat, status gizi remaja merupakan indikator penting yang mencerminkan keseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh. Status gizi yang baik sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kesiapan remaja menghadapi masa dewasa. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah gizi pada remaja masih menjadi isu yang cukup kompleks. Tidak hanya kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi semakin banyak ditemukan pada kelompok usia ini.
Secara global, laporan Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa sebagian remaja mengalami masalah gizi yang beragam, mulai dari kekurangan berat badan hingga obesitas. Fenomena ini menggambarkan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan energi tubuh dengan pola konsumsi makanan yang dijalani oleh remaja. Masalah tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh faktor sosial, ekonomi, lingkungan, serta kondisi psikologis individu. Salah satu faktor psikologis yang sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam kajian gizi remaja adalah stres. Dalam kehidupan remaja, stres dapat muncul dari berbagai sumber, seperti tekanan akademik, hubungan sosial dengan teman sebaya, tuntutan keluarga, hingga ketidakpastian mengenai masa depan. Tekanan tersebut dapat memicu perubahan emosional yang cukup kuat, sehingga memengaruhi perilaku sehari-hari, termasuk pola makan.
Secara psikologis, stres merupakan respons alami individu ketika menghadapi situasi yang dianggap menantang atau melebihi kemampuan adaptasi mereka. Pada tingkat tertentu, stres dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada dan termotivasi. Namun, ketika stres berlangsung dalam intensitas yang tinggi atau dalam waktu yang lama, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi nafsu makan. Pada sebagian remaja, stres dapat menyebabkan penurunan nafsu makan sehingga mereka makan lebih sedikit dari kebutuhan tubuh. Kondisi ini berpotensi menyebabkan status gizi kurang. Sebaliknya, pada sebagian remaja lainnya, stres justru memicu peningkatan nafsu makan yang berlebihan. Mereka cenderung mengonsumsi makanan sebagai cara untuk meredakan ketegangan emosional yang dirasakan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai emotional eating, yaitu perilaku makan yang dipengaruhi oleh kondisi emosi, bukan oleh rasa lapar secara fisiologis. Emotional eating sering muncul ketika seseorang mengalami emosi negatif seperti stres, kecemasan, kesedihan, atau kebosanan. Dalam kondisi tersebut, makanan menjadi semacam mekanisme koping untuk memperoleh rasa nyaman secara sementara. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki kecenderungan emotional eating sering kali mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori. Jenis makanan ini sering disebut sebagai comfort food karena dapat memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat. Namun, konsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dan berujung pada peningkatan berat badan.
Di sisi lain, emotional eating tidak selalu berujung pada kelebihan berat badan. Dalam beberapa kasus, remaja yang mengalami tekanan emosional justru mengalami penurunan nafsu makan sehingga mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih sedikit dari kebutuhan tubuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa respons terhadap stres tidak selalu sama pada setiap individu. Penelitian yang dilakukan pada remaja di SMA Negeri 7 Kota Gorontalo menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres, perilaku emotional eating, dan status gizi remaja. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat stres memiliki hubungan bermakna dengan status gizi, demikian pula perilaku emotional eating. Temuan ini menegaskan bahwa kondisi psikologis memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pola makan dan kesehatan gizi remaja.
Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar remaja mengalami tingkat stres pada kategori sedang. Kondisi ini menggambarkan bahwa tekanan yang dialami remaja dalam kehidupan sehari-hari cukup nyata, terutama yang berkaitan dengan tuntutan akademik dan dinamika hubungan sosial di lingkungan sekolah. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa sebagian remaja menunjukkan kecenderungan emotional eating yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa makanan sering kali digunakan sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional. Kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola makan yang tidak sehat jika tidak diimbangi dengan kesadaran gizi dan pengelolaan emosi yang baik.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah gizi remaja tidak dapat dipahami hanya dari perspektif nutrisi semata. Faktor psikologis, terutama stres dan regulasi emosi, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku makan remaja. Oleh karena itu, pendekatan dalam mengatasi masalah gizi remaja perlu dilakukan secara lebih holistik dengan mempertimbangkan aspek mental dan emosional.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, hal ini memiliki implikasi yang sangat penting. Upaya peningkatan status gizi remaja tidak cukup hanya dilakukan melalui edukasi tentang pola makan sehat. Intervensi yang berfokus pada kesehatan mental remaja juga perlu diperkuat, terutama dalam membantu mereka mengelola stres dan emosi secara lebih adaptif. Sekolah memiliki peran strategis dalam upaya tersebut. Lingkungan sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat. Program pendidikan kesehatan, konseling psikologis, serta kegiatan yang mendukung kesejahteraan emosional remaja dapat membantu mengurangi risiko perilaku makan yang tidak sehat.
Pada akhirnya, memahami hubungan antara stres, emotional eating, dan status gizi remaja memberikan perspektif baru bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Jika kesehatan mental remaja dapat dijaga dengan baik, maka peluang untuk membentuk pola makan yang sehat juga akan semakin besar. Dengan demikian, upaya meningkatkan status gizi remaja tidak hanya berfokus pada makanan yang dikonsumsi, tetapi juga pada bagaimana remaja mengelola emosi dan tekanan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10650/7143
Author: Tasmi S. Djafar, Vivien Novarina A. Kasim, Siti Hajar Salawali
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran