Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan biologis yang tidak dapat dihindari. Salah satu perubahan yang cukup sering terjadi pada pria adalah pembesaran kelenjar prostat atau benign prostatic hyperplasia (BPH). Kondisi ini merupakan pembesaran prostat yang bersifat jinak atau nonkanker, tetapi dapat menimbulkan berbagai keluhan pada sistem saluran kemih yang mengganggu kualitas hidup penderitanya. Kelenjar prostat sendiri merupakan organ kecil yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, yaitu saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh. Ketika prostat membesar, kelenjar ini dapat menekan uretra sehingga aliran urin menjadi terhambat. Akibatnya, penderita BPH sering mengalami berbagai gejala seperti sering buang air kecil, aliran urin yang lemah, atau perasaan tidak tuntas setelah buang air kecil. Di tingkat global, BPH termasuk salah satu penyakit degeneratif yang cukup banyak terjadi pada pria. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa puluhan juta pria di dunia mengalami gangguan terkait pembesaran prostat. Di Indonesia sendiri, BPH menempati urutan kedua dalam penyakit urologi setelah batu saluran kemih, dengan jumlah kasus yang mencapai sekitar 9,2 juta penderita. Angka tersebut menunjukkan bahwa BPH merupakan masalah kesehatan yang cukup signifikan, terutama pada kelompok usia lanjut.
Penyakit yang Berkaitan dengan Usia
Salah satu faktor risiko utama terjadinya BPH adalah usia. Penelitian menunjukkan bahwa risiko pembesaran prostat meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia pria. Pada usia sekitar 40 tahun, sekitar 20 persen pria mulai mengalami pembesaran prostat, dan angka ini meningkat menjadi 70 persen pada usia 60 tahun, bahkan dapat mencapai 90 persen pada usia 80 tahun. Hasil penelitian yang dilakukan di Poliklinik Urologi RSUD Toto Kabila juga menunjukkan temuan yang serupa. Dari 31 pasien yang diteliti, 77,4 persen pasien BPH berusia di atas 60 tahun, yang menegaskan bahwa penyakit ini memang lebih sering terjadi pada kelompok usia lanjut. Perubahan hormonal menjadi salah satu penjelasan utama dari fenomena ini. Seiring bertambahnya usia, kadar hormon testosteron dalam tubuh pria cenderung menurun. Penurunan ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon antara testosteron dan estrogen yang dapat memicu pertumbuhan jaringan prostat. Ketidakseimbangan hormon tersebut meningkatkan aktivitas hormon dihidrotestosteron (DHT), yang berperan dalam merangsang pertumbuhan sel-sel prostat. Akibatnya, kelenjar prostat secara perlahan mengalami pembesaran.
Gejala yang Sering Diabaikan
Banyak pria tidak menyadari bahwa mereka mengalami pembesaran prostat karena gejalanya sering berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, keluhan yang muncul biasanya masih ringan dan sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Untuk menilai tingkat keparahan gejala BPH, para tenaga kesehatan menggunakan sistem penilaian yang dikenal sebagai International Prostate Symptom Score (IPSS). Sistem ini membantu menilai seberapa berat keluhan yang dialami pasien terkait gangguan saluran kemih. Dalam penelitian yang dilakukan di RSUD Toto Kabila, sebagian besar pasien memiliki skor IPSS kategori sedang, yaitu sekitar 41,9 persen dari total responden. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pasien baru mencari pengobatan ketika gejala sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius seperti retensi urin atau infeksi saluran kemih.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Selain penilaian gejala melalui IPSS, diagnosis BPH juga dapat dibantu dengan pemeriksaan laboratorium yang disebut Prostate Specific Antigen (PSA). Pemeriksaan PSA dilakukan melalui tes darah untuk mengukur kadar protein tertentu yang diproduksi oleh kelenjar prostat. Pada kondisi normal, kadar PSA biasanya berada di bawah 4 ng/ml. Kadar PSA yang meningkat dapat menunjukkan adanya gangguan pada prostat, baik yang bersifat jinak maupun ganas. Dalam penelitian tersebut, sebagian besar pasien memiliki kadar PSA di bawah 4 ng/ml, yaitu sekitar 54,8 persen, yang menunjukkan bahwa sebagian besar kasus yang ditemukan merupakan pembesaran prostat jinak dan bukan kanker prostat. Namun demikian, pemeriksaan PSA tetap memiliki keterbatasan karena peningkatan kadar PSA tidak selalu menunjukkan adanya kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan lanjutan biasanya diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Pilihan Pengobatan
Tujuan utama pengobatan BPH adalah untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dengan mengurangi gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pilihan terapi biasanya disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala yang dialami pasien. Pada tahap awal, beberapa pasien mungkin hanya memerlukan pendekatan konservatif atau watchful waiting, yaitu pemantauan kondisi tanpa intervensi medis yang agresif. Namun, dalam banyak kasus, pengobatan yang paling sering diberikan adalah terapi medikamentosa. Penelitian di RSUD Toto Kabila menunjukkan bahwa sekitar 61,2 persen pasien BPH menjalani terapi obat-obatan sebagai bentuk pengobatan utama. Obat-obatan ini biasanya bertujuan untuk merelaksasi otot prostat dan leher kandung kemih sehingga aliran urin menjadi lebih lancar. Pada kondisi yang lebih berat, tindakan pembedahan seperti Transurethral Resection of the Prostate (TURP) dapat dilakukan untuk mengangkat jaringan prostat yang menyebabkan penyumbatan.
Pentingnya Kesadaran Kesehatan Pria
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan BPH adalah rendahnya kesadaran pria untuk memeriksakan kesehatan mereka. Banyak pria cenderung mengabaikan gejala gangguan saluran kemih karena merasa malu atau menganggapnya sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting untuk mendeteksi masalah prostat sejak dini. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah gejala yang dialami merupakan tanda pembesaran prostat atau kondisi lain yang lebih serius. Selain itu, menjaga gaya hidup sehat juga dapat membantu menurunkan risiko gangguan prostat. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta menjaga berat badan ideal dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan sistem urologi.
Menjaga Kualitas Hidup di Usia Lanjut
Pembesaran prostat jinak memang merupakan kondisi yang umum terjadi pada pria usia lanjut. Namun, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, gejala BPH dapat dikendalikan sehingga tidak mengganggu kualitas hidup. Kesadaran untuk memeriksakan kesehatan sejak dini menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan pria di usia lanjut. Dengan memahami gejala dan faktor risiko BPH, masyarakat dapat lebih waspada terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh mereka. Pada akhirnya, menjaga kesehatan prostat bukan hanya tentang menghindari penyakit, tetapi juga tentang memastikan bahwa pria dapat menjalani kehidupan yang tetap aktif, produktif, dan berkualitas meskipun usia terus bertambah.
Sources: Jambura Axon
Author: Anna Marissa Liputo, Sitti Rahma, Richard Arie Monoarfa, Nanang Roswita Paramata, Zuhriana K. Yusuf5
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran