Kurang Tidur, Mutu Pelayanan Rumah Sakit Bisa Terancam

Oleh: Jesica Mulyadi . 14 Januari 2026 . 23:55:18

Di balik pelayanan rumah sakit yang sigap dan profesional, ada satu faktor mendasar yang sering luput dari perhatian: kualitas tidur perawat. Padahal, perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling lama dan paling dekat mendampingi pasien. Ketika kualitas tidur mereka terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perawat itu sendiri, tetapi juga oleh keselamatan dan kepuasan pasien. Penelitian yang dilakukan di RSUD Toto Kabila, Kabupaten Bone Bolango, memberikan bukti kuat bahwa kualitas tidur memiliki hubungan langsung dengan kinerja perawat. Temuan ini mempertegas bahwa isu tidur bukan persoalan sepele, melainkan bagian penting dari mutu layanan kesehatan.

Mayoritas Tidur Cukup, Tapi Masalah Masih Ada

Penelitian terhadap 50 perawat rawat inap menunjukkan bahwa 62 persen perawat memiliki kualitas tidur yang baik, sementara 38 persen lainnya masih mengalami kualitas tidur buruk. Di sisi kinerja, 76 persen perawat dinilai memiliki kinerja baik, dan sisanya menunjukkan kinerja kurang optimal. Sekilas, angka ini terlihat cukup menggembirakan. Namun ketika dianalisis lebih dalam, terlihat pola yang jelas: perawat dengan kualitas tidur baik hampir seluruhnya menunjukkan kinerja yang baik, sementara perawat dengan kualitas tidur buruk lebih banyak berada pada kategori kinerja kurang baik. Uji statistik bahkan menunjukkan hubungan yang sangat bermakna antara kualitas tidur dan kinerja perawat (p < 0,001), dengan tingkat korelasi sedang. Artinya, semakin buruk kualitas tidur, semakin besar potensi penurunan kinerja.

Kurang Tidur Bukan Sekadar Lelah

Tidur bukan hanya soal durasi, tetapi juga kualitas. Penelitian ini mengungkap bahwa sebagian perawat mengalami masalah durasi tidur kurang dari 6 jam, waktu yang jauh dari rekomendasi tidur sehat 7–8 jam per hari. Penyebabnya beragam, mulai dari sistem kerja shift, beban kerja tinggi, hingga kebiasaan buruk seperti penggunaan gawai sebelum tidur. Akibatnya, muncul keluhan mengantuk saat dinas, sulit berkonsentrasi, dan tubuh terasa lelah. Kondisi ini berdampak langsung pada aspek perilaku kerja perawat, seperti kurang komunikatif, respons yang lebih lambat, hingga menurunnya ketelitian saat memberikan asuhan keperawatan. Dalam konteks rumah sakit, penurunan konsentrasi bukan masalah kecil. Ia berpotensi mengancam keselamatan pasien.

Kinerja Baik Butuh Tubuh dan Pikiran yang Sehat

Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek kinerja perawat yang paling kuat berada pada kemampuan profesional, seperti keterampilan dan pengetahuan klinis. Namun, aspek perilaku kerja—yang mencakup sikap, komunikasi, dan kesiapsiagaan—menjadi titik lemah pada perawat dengan kualitas tidur buruk. Ini memperkuat pandangan bahwa kinerja tenaga kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh kondisi fisik dan mental yang optimal. Tidur yang cukup membantu menjaga fokus, emosi stabil, dan daya tahan tubuh.

Opini Ilmiah: Tidur Adalah Investasi Mutu Pelayanan

Temuan ini membawa pesan penting bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan. Meningkatkan mutu layanan tidak cukup hanya dengan pelatihan dan penambahan fasilitas, tetapi juga perlu memperhatikan kebutuhan dasar tenaga kesehatan, salah satunya tidur. Pengaturan jadwal kerja yang lebih manusiawi, pembatasan beban kerja berlebihan, serta lingkungan kerja yang mendukung pemulihan fisik dan mental perawat perlu menjadi prioritas. Perawat yang cukup istirahat bukan hanya lebih sehat, tetapi juga lebih aman bagi pasien. Menariknya, penelitian ini juga menemukan sebagian kecil perawat tetap menunjukkan kinerja baik meskipun kualitas tidurnya buruk. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh motivasi kerja yang tinggi dan sikap profesional. Namun, mengandalkan semangat semata tanpa dukungan sistem yang sehat bukanlah solusi jangka panjang.

Menjaga Pasien Dimulai dari Menjaga Perawat

Kualitas tidur perawat bukan urusan pribadi semata. Ia adalah urusan sistem kesehatan. Ketika perawat tidur cukup dan berkualitas, pelayanan menjadi lebih aman, lebih cepat, dan lebih manusiawi. Penelitian di RSUD Toto Kabila ini menegaskan satu hal sederhana namun krusial: menjaga mutu pelayanan rumah sakit harus dimulai dari menjaga kesejahteraan perawat. Karena pada akhirnya, keselamatan pasien sangat bergantung pada kesiapan mereka yang merawat.

Source: https://ejurnal.ladkes.com/index.php/mjhsr/article/view/143/pdf

Author: Friska Pakaya, Nanang R. Paramata, Ibrahim Suleman

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran