Kurangnya Pengetahuan Ibu, Ancaman Tersembunyi Perkembangan Motorik Balita

Oleh: Jesica Mulyadi . 2 Februari 2026 . 13:58:09

Usia balita kerap disebut sebagai golden age atau masa emas tumbuh kembang anak. Pada rentang usia 1 hingga 3 tahun, perkembangan motorik—baik motorik kasar seperti berjalan dan berlari, maupun motorik halus seperti menggenggam dan menyusun benda—berlangsung sangat pesat. Namun, proses penting ini tidak terjadi secara otomatis. Stimulasi yang tepat dari orang tua, terutama ibu, menjadi kunci utama keberhasilannya. Sebuah penelitian di wilayah kerja Puskesmas Kota Utara, Kota Gorontalo, mengungkap fakta yang patut menjadi perhatian bersama: sebagian besar ibu masih memiliki pengetahuan yang rendah tentang stimulasi perkembangan motorik pada balita.

Mayoritas Ibu Belum Paham Stimulasi Motorik

Penelitian yang melibatkan 115 ibu dengan anak usia balita menunjukkan bahwa 63,5 persen responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terkait stimulasi perkembangan motorik. Hanya sekitar sepertiga ibu yang tergolong memiliki pemahaman baik. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan anak pada masa emas pertumbuhan dan kesiapan orang tua dalam memberikan dukungan perkembangan yang optimal.

Pendidikan dan Akses Informasi Jadi Faktor Penentu

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rendahnya pengetahuan ibu sangat berkaitan dengan tingkat pendidikan dan keterpaparan informasi. Sebagian besar ibu dengan pengetahuan rendah berasal dari kelompok pendidikan dasar dan menengah pertama. Selain itu, lebih dari separuh responden mengaku tidak pernah mendapatkan informasi mengenai stimulasi perkembangan motorik anak. Sebaliknya, ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dan yang pernah menerima edukasi dari tenaga kesehatan, media, atau lingkungan sekitar cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik. Hal ini menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah faktor bawaan, melainkan hasil dari proses belajar dan paparan informasi yang memadai.

Dampak Nyata bagi Tumbuh Kembang Anak

Secara ilmiah, kurangnya stimulasi pada masa balita dapat berdampak serius. Anak yang jarang diajak bermain aktif, dilatih gerakan dasar, atau distimulasi motorik halus berisiko mengalami keterlambatan perkembangan. Dampak ini tidak hanya memengaruhi kemampuan fisik, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak di tahap selanjutnya. Organisasi kesehatan dunia mencatat bahwa Indonesia masih memiliki angka gangguan tumbuh kembang anak yang relatif tinggi dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan stimulasi dini masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan kesehatan anak.

Peran Ibu Sangat Krusial

Dalam budaya keluarga Indonesia, ibu umumnya menjadi pengasuh utama anak. Ibu berperan langsung dalam aktivitas sehari-hari balita, mulai dari bermain, makan, hingga belajar bergerak. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan ibu sangat menentukan kualitas stimulasi yang diberikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang memahami pentingnya stimulasi motorik cenderung lebih aktif mengajak anak bermain, melatih gerakan, dan memberikan rangsangan sesuai usia. Sebaliknya, ibu yang kurang memahami stimulasi cenderung membiarkan anak berkembang secara alami tanpa arahan yang terstruktur.

Tantangan Ibu Rumah Tangga

Menariknya, sebagian besar responden dalam penelitian ini merupakan ibu rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan waktu bukan satu-satunya hambatan dalam memberikan stimulasi. Kurangnya pengetahuan dan pendampingan dari tenaga kesehatan justru menjadi faktor utama yang perlu diatasi. Beberapa ibu mengaku jarang bermain bersama anak atau hanya memberikan pujian tanpa melatih keterampilan motorik tertentu. Hal ini menandakan bahwa banyak ibu belum memahami bahwa aktivitas sederhana—seperti menyusun balok, berjalan sambil bermain, atau menggambar—merupakan bentuk stimulasi yang sangat penting.

Perlu Edukasi yang Lebih Aktif dan Berkelanjutan

Temuan penelitian ini menegaskan perlunya intervensi edukatif yang lebih intensif di tingkat pelayanan kesehatan primer. Puskesmas dan posyandu memiliki peran strategis dalam memberikan penyuluhan tentang stimulasi tumbuh kembang anak, khususnya kepada ibu dengan latar pendidikan rendah dan akses informasi terbatas. Edukasi tidak harus bersifat rumit. Pendekatan praktis, bahasa sederhana, serta contoh langsung kegiatan stimulasi motorik dinilai lebih efektif dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan motorik masih menjadi masalah nyata di wilayah kerja Puskesmas Kota Utara. Kondisi ini berpotensi menghambat tumbuh kembang optimal anak pada masa emas kehidupannya. Stimulasi motorik bukan tugas berat, tetapi membutuhkan pengetahuan yang benar. Dengan edukasi yang tepat, dukungan tenaga kesehatan, dan keterlibatan aktif ibu, anak-anak Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, aktif, dan berkembang secara optimal sejak usia dini.

Source: https://jos.unsoed.ac.id/index.php/mhj/article/view/14885/7210

Author: Oktaviani Djafar, Rini Wahyuni Mohamad, Sitti Rahma

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran