Lansia Hipertensi Tak Cukup Hanya Minum Obat, Kunci Hidup Berkualitas Ada pada Self-Management

Oleh: Jesica Mulyadi . 25 Juni 2026 . 16:56:26

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit ini sering disebut silent killer karena kerap datang tanpa gejala, tetapi diam-diam merusak organ vital seperti jantung, ginjal, hingga otak. Pada kelompok lanjut usia (lansia), ancaman ini menjadi jauh lebih serius karena hipertensi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kualitas hidup secara keseluruhan. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap pesan penting yang patut menjadi perhatian nasional: kualitas hidup lansia penderita hipertensi sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka dalam mengelola penyakitnya sendiri atau yang dikenal sebagai self-management.

Penelitian yang dilakukan pada wilayah kerja Puskesmas Limboto melibatkan 66 lansia penderita hipertensi. Mayoritas responden berada pada rentang usia 60–74 tahun, kelompok usia yang rentan mengalami komplikasi akibat tekanan darah tinggi. Temuan penelitian ini cukup menarik. Sebanyak 65,2 persen lansia memiliki kemampuan self-management yang baik. Artinya, mereka cukup disiplin dalam mengontrol tekanan darah, mengonsumsi obat secara teratur, menjaga pola makan rendah garam, serta berupaya mengelola stres. Di sisi lain, kualitas hidup yang baik juga ditemukan pada sebagian besar responden, yakni 36,4 persen, bahkan 28,8 persen di antaranya memiliki kualitas hidup sangat baik.

Namun, inti utama penelitian ini terletak pada hubungan keduanya. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara self-management dan kualitas hidup, dengan nilai korelasi 0,717 kategori hubungan yang kuat dan positif. Artinya, semakin baik seseorang mengelola hipertensinya, semakin baik pula kualitas hidup yang dimilikinya. Temuan ini mengubah cara pandang kita tentang pengobatan hipertensi. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa mengatasi hipertensi cukup dengan rutin minum obat. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks.

Mengelola hipertensi berarti membangun kebiasaan hidup sehat setiap hari. Ini mencakup membatasi konsumsi garam, menghindari makanan tinggi lemak jenuh, menjaga berat badan, berolahraga secara teratur, mengelola emosi, tidur cukup, serta memantau tekanan darah secara berkala. Sayangnya, hal-hal sederhana inilah yang justru paling sulit dilakukan secara konsisten.

Bagi banyak lansia, tantangan self-management bukan sekadar soal kemauan. Faktor usia, keterbatasan fisik, penurunan daya ingat, kesepian, hingga minimnya dukungan keluarga sering menjadi hambatan besar. Bahkan, penelitian ini menemukan bahwa lansia dengan self-management rendah cenderung memiliki kualitas hidup yang buruk, ditandai dengan keterbatasan aktivitas fisik, kondisi psikologis yang menurun, serta partisipasi sosial yang rendah. Ini menunjukkan bahwa hipertensi pada lansia bukan semata persoalan angka tekanan darah.

Ada dimensi yang lebih luas: kesejahteraan psikologis, relasi sosial, rasa mandiri, dan kepuasan menjalani hidup. Lansia yang merasa tetap produktif, memiliki dukungan keluarga, dan mampu mengontrol kondisi kesehatannya cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Di sinilah keluarga memegang peran penting. Tidak semua lansia mampu menjalankan pengelolaan hipertensi seorang diri. Dukungan keluarga—mulai dari mengingatkan jadwal obat, menyiapkan makanan sehat, hingga menemani kontrol ke fasilitas kesehatan dapat menjadi faktor penentu keberhasilan pengelolaan penyakit kronis.

Secara nasional, temuan ini seharusnya menjadi alarm bagi sistem pelayanan kesehatan Indonesia. Penanganan hipertensi tidak boleh hanya fokus pada pemberian obat di fasilitas kesehatan. Edukasi dan pendampingan jangka panjang bagi pasien, terutama lansia, harus menjadi prioritas. Program kesehatan masyarakat seperti senam lansia, edukasi diet rendah garam, konsultasi gizi, dan pemantauan tekanan darah rutin perlu terus diperkuat hingga level puskesmas dan komunitas. Hipertensi memang belum bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi dapat dikendalikan. Pesan penting dari penelitian ini sederhana namun sangat bermakna: hidup berkualitas di usia lanjut bukan hanya soal umur panjang, tetapi bagaimana seseorang tetap sehat, mandiri, dan bahagia dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, lansia tidak hanya ingin hidup lebih lama—mereka juga ingin hidup lebih baik.

Sources: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10524/7100Author: Amelisa Pakaya, Nanang R. Paramata, Andi Mursyidah#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran