Latihan Ekspansi Dada Meningkatkan Kemampuan Menahan Napas Remaja

Oleh: Jesica Mulyadi . 2 Maret 2026 . 23:36:23

Fungsi paru merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan sistem pernapasan serta perkembangan fisiologis seseorang, khususnya pada masa remaja. Periode ini ditandai dengan proses pematangan sistem respirasi yang meliputi peningkatan volume paru, pelebaran diameter saluran napas, serta penguatan otot-otot pernapasan. Perkembangan tersebut memiliki peran penting dalam menentukan kapasitas paru optimal yang akan dicapai seseorang pada masa dewasa. Namun, proses perkembangan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, termasuk paparan rokok sejak usia muda yang dapat mengganggu pertumbuhan fungsi paru secara optimal.

Salah satu indikator sederhana yang sering digunakan untuk menilai ketahanan sistem pernapasan adalah breath-holding time (BHT), yaitu durasi maksimal seseorang mampu menahan napas setelah melakukan inspirasi maksimal. BHT mencerminkan interaksi kompleks antara cadangan oksigen dalam paru-paru, toleransi tubuh terhadap peningkatan kadar karbon dioksida, sensitivitas kemoreseptor, serta mekanisme mekanik dinding dada. Oleh karena itu, parameter ini banyak digunakan dalam penelitian fisiologi pernapasan dan rehabilitasi respirasi karena bersifat praktis, non-invasif, dan sensitif terhadap perubahan fungsi paru.

Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pernapasan adalah Thoracic Expansion Exercise (TEE) atau latihan ekspansi dada. Latihan ini merupakan teknik fisioterapi yang bertujuan untuk meningkatkan mobilitas dinding dada, memperbesar volume inspirasi, serta memperbaiki efisiensi ventilasi paru. TEE dilakukan melalui siklus inspirasi maksimal yang diikuti dengan ekspansi toraks secara aktif, kemudian dilanjutkan dengan ekspirasi terkontrol. Melalui latihan yang berulang, teknik ini dapat meningkatkan rekrutmen alveolus, memperbaiki distribusi ventilasi, serta meningkatkan cadangan oksigen dalam paru-paru.

Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest untuk mengevaluasi pengaruh latihan ekspansi dada terhadap kemampuan menahan napas pada remaja. Penelitian dilakukan pada siswa kelas X di SMK Gotong Royong Kota Gorontalo dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang yang berusia antara 14 hingga 19 tahun. Komposisi responden terdiri dari 18 siswa laki-laki (60%) dan 12 siswa perempuan (40%), dengan rata-rata usia sekitar 16 tahun.

Pengukuran kemampuan menahan napas dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan digital timer yang telah distandarisasi. Pada tahap awal, peserta diminta melakukan inspirasi maksimal kemudian menahan napas selama mungkin hingga muncul dorongan untuk menghembuskan napas. Setelah pengukuran awal dilakukan, peserta menjalani intervensi berupa latihan ekspansi dada yang terdiri dari tiga siklus inspirasi maksimal dengan interval istirahat 30 detik pada setiap pengulangan. Setelah intervensi selesai, pengukuran BHT kembali dilakukan dengan prosedur yang sama seperti pada pengukuran awal.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menahan napas setelah dilakukan latihan ekspansi dada. Rata-rata BHT sebelum intervensi tercatat sebesar 39,77 detik, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 47,04 detik. Analisis statistik menggunakan uji paired-samples t-test menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik dengan nilai p < 0,001 dan selisih rata-rata sebesar 7,27 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa latihan ekspansi dada memberikan efek positif terhadap peningkatan ketahanan sistem pernapasan dalam waktu yang relatif singkat.

Secara fisiologis, peningkatan BHT setelah intervensi dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme. Latihan ekspansi dada mengaktifkan otot-otot respirasi utama seperti diafragma dan otot interkostal eksternal, serta otot aksesori seperti sternokleidomastoideus dan skalenus. Aktivasi otot-otot tersebut memungkinkan paru-paru mengalami inflasi yang lebih maksimal sehingga meningkatkan volume inspirasi dan cadangan oksigen dalam alveolus. Selain itu, latihan ini juga dapat meningkatkan elastisitas dinding dada serta meningkatkan toleransi tubuh terhadap peningkatan kadar karbon dioksida selama proses menahan napas.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa latihan pernapasan sederhana dapat memberikan manfaat fisiologis yang signifikan terhadap fungsi paru pada remaja. Implementasi latihan ekspansi dada dapat menjadi salah satu strategi preventif dalam meningkatkan kesehatan sistem pernapasan, terutama pada kelompok usia yang masih berada dalam tahap perkembangan paru. Selain itu, latihan ini berpotensi diterapkan dalam program pendidikan jasmani di sekolah, latihan olahraga remaja, maupun program fisioterapi untuk meningkatkan kapasitas ventilasi dan kontrol pernapasan.

Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain tidak adanya kelompok kontrol serta belum dilakukannya pengukuran parameter fungsi paru lain seperti kapasitas vital paru atau kekuatan otot pernapasan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan desain randomized controlled trial, jumlah sampel yang lebih besar, serta periode intervensi yang lebih panjang diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai efek jangka panjang latihan ekspansi dada terhadap fungsi respirasi.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latihan ekspansi dada merupakan intervensi sederhana yang efektif dalam meningkatkan kemampuan menahan napas pada remaja. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan strategi promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan sistem pernapasan sejak usia muda.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/36254

Author: Astri Anita, Siti Rakhmatia Paramita Th. Kum, Dewi Nurindah Panai

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran