GORONTALO – Pengetahuan ibu menjadi kunci utama dalam menentukan kualitas gizi anak usia balita. Penelitian terbaru di wilayah kerja Puskesmas Dumbo Raya, Kota Gorontalo, menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita telah memiliki pengetahuan cukup tentang gizi seimbang, namun pemahaman tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam praktik pemberian makan sehari-hari. Temuan ini diungkap dalam penelitian deskriptif yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo dan dipublikasikan dalam Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas tahun 2025. Studi ini melibatkan 95 ibu yang memiliki balita, wilayah yang termasuk daerah dengan prevalensi masalah gizi kategori berat di Provinsi Gorontalo
Hampir Seluruh Ibu Masuk Kategori Pengetahuan “Cukup”Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95,8 persen ibu balita memiliki tingkat pengetahuan kategori “cukup”, sementara 4,2 persen tergolong “baik”, dan tidak ditemukan ibu dengan kategori pengetahuan kurang. Secara umum, para ibu sudah memahami definisi gizi seimbang dan manfaat konsumsi makanan beragam bagi tumbuh kembang anak. Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, pemahaman ibu masih terbatas pada konsep dasar. Pengetahuan mengenai fungsi spesifik zat gizi, seperti peran protein sebagai zat pembangun atau pentingnya mikronutrien bagi balita, masih rendah dan kerap disalahartikan.
Status Gizi Anak Masih BeragamMeski pengetahuan ibu tergolong cukup, kondisi status gizi balita belum sepenuhnya ideal. Data Indeks Massa Tubuh (IMT) menunjukkan bahwa 70,5 persen balita berada pada kategori normal, namun masih ditemukan 17,9 persen balita dengan berat badan kurang, serta 11,6 persen balita dengan berat badan berlebih hingga obesitas. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik gizi di rumah tangga, terutama dalam penyusunan menu harian dan variasi makanan yang diberikan kepada anak.
Pemahaman Zat Gizi Jadi Tantangan UtamaPenelitian ini juga mencatat bahwa sebagian ibu masih keliru memahami jenis dan fungsi zat gizi. Misalnya, mayoritas responden belum memahami fungsi utama protein, serta masih salah mengartikan manfaat garam beryodium. Selain itu, variasi penyajian makanan balita, dari segi warna, rasa, hingga bentuk, belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan nafsu makan anak. Padahal, masa balita merupakan periode emas pertumbuhan, di mana kekurangan gizi dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak.
Perlu Edukasi yang Lebih Praktis dan TerarahPeneliti menegaskan bahwa edukasi gizi tidak cukup berhenti pada pengetahuan teori, tetapi perlu diarahkan pada penerapan praktis di rumah. Program penyuluhan di Posyandu dan Puskesmas disarankan lebih menekankan pada pemahaman fungsi zat gizi, penyusunan menu seimbang, serta cara pengolahan makanan yang menarik bagi balita. Upaya ini dinilai penting untuk mendukung program nasional penurunan stunting dan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 2 dan 3, yakni menghapus kelaparan dan menjamin kehidupan sehat bagi semua usia. Dengan penguatan edukasi berbasis praktik, peran ibu sebagai penggerak utama gizi keluarga diharapkan mampu meningkatkan status gizi balita secara berkelanjutan dan melahirkan generasi yang lebih sehat di masa depan.
Sources: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JGKP/article/view/30860/14737
Author: Fidyatul Husna Dwi Putri Hasan, Vivien Novarina A. Kasim, Cecy Rahma Karim, Muh. Nur Syukriani Yusuf, Suliyanti Otto
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran