
Obesitas dan diabetes melitus masih menjadi dua masalah kesehatan yang terus meningkat di Indonesia. Kedua kondisi ini sering dianggap saling berkaitan karena kelebihan berat badan diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, termasuk resistensi insulin dan peningkatan kadar gula darah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu bersifat langsung. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa indeks massa tubuh (IMT) tidak memiliki hubungan signifikan dengan kadar gula darah puasa pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di Puskesmas Telaga, Kabupaten Gorontalo.
Studi dengan desain cross-sectional tersebut melibatkan 41 peserta PROLANIS yang terdiri dari pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Mayoritas responden merupakan perempuan sebanyak 73,2 persen dan sebagian besar berada pada kelompok usia 56–65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki status obesitas berdasarkan IMT, yaitu sebanyak 58,5 persen responden. Selain itu, mayoritas peserta juga memiliki kadar gula darah puasa yang tergolong tinggi, mencapai 51,2 persen.
Meski demikian, analisis statistik menggunakan Spearman’s Rank Correlation Coefficient menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara IMT dan kadar gula darah puasa. Nilai korelasi yang sangat lemah mengindikasikan bahwa kenaikan berat badan berdasarkan IMT tidak selalu secara langsung mencerminkan peningkatan kadar gula darah seseorang. Peneliti menjelaskan bahwa IMT hanya menggambarkan perbandingan berat badan dan tinggi badan, namun tidak dapat menunjukkan komposisi lemak tubuh secara spesifik. Dalam banyak kasus, persentase lemak tubuh dan lemak viseral justru memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap resistensi insulin dan diabetes dibandingkan dengan IMT semata.
Secara fisiologis, penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dapat memicu resistensi insulin. Ketika sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, glukosa sulit masuk ke dalam sel sehingga kadar gula darah meningkat. Kondisi ini kemudian meningkatkan risiko diabetes melitus dan berbagai komplikasi metabolik lainnya. Namun, pada peserta PROLANIS, berbagai faktor lain diduga ikut memengaruhi hasil penelitian. Program PROLANIS sendiri memberikan edukasi kesehatan, pemantauan rutin, terapi obat, serta kegiatan senam berkala bagi peserta. Intervensi tersebut kemungkinan membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali meskipun sebagian peserta memiliki IMT tinggi.
Penelitian ini juga menyoroti pengaruh penggunaan obat-obatan kronis terhadap kadar gula darah dan berat badan pasien. Penggunaan metformin, misalnya, diketahui dapat membantu menurunkan kadar glukosa sekaligus membantu pengendalian berat badan. Sebaliknya, beberapa obat lain seperti glibenklamid dapat meningkatkan berat badan karena efek kerja insulin terhadap penyimpanan lemak tubuh. Selain pengobatan, aktivitas fisik rutin seperti senam PROLANIS juga dinilai berkontribusi dalam membantu pengendalian gula darah. Aktivitas fisik membantu otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga kadar gula darah dapat menurun secara alami.
Di tingkat nasional, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa penilaian risiko diabetes tidak dapat hanya bergantung pada IMT semata. Pemeriksaan komposisi lemak tubuh, pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat, serta gaya hidup secara keseluruhan perlu dipertimbangkan dalam evaluasi kesehatan metabolik masyarakat. Para peneliti juga menekankan pentingnya penguatan edukasi kesehatan melalui program PROLANIS agar masyarakat lebih memahami pengelolaan berat badan, pengendalian gula darah, serta pencegahan komplikasi penyakit kronis sejak dini.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dalam menangani obesitas dan diabetes di Indonesia, khususnya melalui penguatan program promotif dan preventif di fasilitas pelayanan kesehatan primer.
Author: Putri Indah Paransi, Yuniarty Antu, Suliyanti Otto, Muh. Nur Syukriani Yusuf, Nelyan Helma Mokoginta
Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/6739/4948
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran